06/08/2020
penang-street-art

Jalan Pagi Menikmati Penang Street Art

Masih lanjut jalan-jalan kami ke Pulau Penang akhir Desember yang lalu. Setelah menyusuri pelabuhan dan kota lama George Town, mengagumi pernak-pernik Peranakan Mansion House, lalu lanjut ke Penang Hill. Kami masih ada waktu sehari semalam lagi. Rencananya walking tour lagi tetapi menyusuri sisi lain dari George Town, yaitu mencari Penang Street Art. Penasaran sih, seperti apa itu Penang Street Art, kalau lihat di Google Map, tempatnya tersebar di beberapa tempat.

Street Art

Sebelumnya mungkin perlu tahu juga, apa itu Street Art atau Seni Jalanan ini.

Street Art mulai marak sekitar tahun 1980-an, merupakan seni visual yang dibuat di lokasi publik untuk dinikmati oleh publik. Street Art dikaitkan dengan istilah “seni independen”, “post graffiti”, “neo-graffiti”, dan seni gerilya (karena dilakukan diam-diam). Bentuk umum dan media Street Art biasanya cat semprot grafiti, cat tembok, striker, instalasi, dan patung. Beberapa bahkan menambahkan lampu-lampu led atau video yang disorot ke bidang dinding. Ketika seni jalanan ini diaplikasikan pada dinding luas disebut juga sebagai “mural”.

Street Art akhir-akhir ini mulai diterima dan diapresiasi oleh warga masyarakat, walaupun seni ini relatif baru. Dalam beberapa hal bahkan menambah keindahan pada bidang-bidang dinding yang kusam atau area kota yang sepi. Buku “Defensible Space” karya Oscar Newan, seorang arsitek dan ahli tata kota menjelaskan bahwa daerah-daerah tak bertuan dan tak terawasi rawan kejahatan dan tindakan kriminal.

Walaupun Street Art bentuknya grafiti, tentunya kita harus bisa membedakan mana ‘seni jalanan’ dan yang hanya berupa corat-coret tembok atau vandalisme. Selain itu Street Art sering tidak kekal atau awet. Karena terpapar matahari dan hujan silih berganti, karya yang memakai ruang publik ini sering cepat pudar. Berbeda dengan karya-karya seniman yang ada di museum atau gallery, tentunya sulit untuk mengharapkan ada kurator yang merevisi karya-karya jalanan ini.

Di Indonesia pun mulai marak Street Art dengan melibatkan komunitas yang justru untuk meredam tindakan vandalisme berupa corat-coret dinding. Di Bandung, beberapa tahun terakhir setiap awal tahun akademik, mahasiswa baru dari Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung membuat Street Art sepanjang jalan Siliwangi. Mural sepanjang 476 meter ini kemudian direvisi dan digambari ulang oleh Komunitas Mural Bandung.

Penang Street Art

Penang Street Art merupakan lukisan dinding karya Ernest “ZACH” Zacharevic, seorang seniman kelahiran Lithuania. Zach menggabungkan teknik seni rupa bidang datar (2D) dengan bentuk atau benda-benda sekitar (3D), sehingga karyanya unik. Karya-karya eksperimennya menghasilkan komposisi dinamis antara cat semprot, instalasi, dan patung.

Minat utama Ernests adalah hubungan antara seni dan lansekap kota, dengan konsep-konsep yang sering berkembang sebagai bagian dari respons spontan terhadap lingkungan langsung, komunitas, dan budaya.

Pagi itu sesudah sarapan kami menuju ke salah satu jalan yang menurut Google Map ada salah satu karya Zach ini. Kami didrop oleh driver Grab di ujung jalan, supaya kami bisa berjalan-jalan sendiri mencari obyek-obyek Street Art tersebut. Paling enak memang kalau walking tour di negara tropis ya pagi hari. Karena pukul 10 saja udara sudah mulai panas dan tidak nyaman berjalan kaki.

Obyek yang pertama kami jumpai adalah “Boy on Chair” terletak di jalan Masjid Kapitan Keling. Lukisan anak laki-laki berbaju kuning tampak seperti sungguhan berdiri di atas kursi. Karena kursinya bukan lukisan kursi, tetapi kursi kayu sungguhan. Zach memang pandai mengolah dinding kusam menjadi obyek menarik.

penang street art
Boy on Chair

Di ujung jalan tampak Masjid Lebuh Acheh, minaretnya yang berdiri kokoh menjulang ke langit. Menara tunggal dengan gaya arsitektur Moorish (perpaduan antara arsitektur Mesir Kuno, Cina, dan India). Menurut catatan sejarah, Masjid Melayu Lebuh Acheh didirikan pada 1808 oleh Tunku Syed Hussain Al-Aidid, seorang saudagar Aceh yang hijrah dan kemudian menetap di Penang sejak 1791. Dalam kiprahnya sebagai seorang pedagang rempah-rempah, Syed Hussain bukan saja membangun masjid, tapi juga berhasil membuka dan menjadikan wilayah itu sebagai satu kawasan yang ramai dan maju hingga saat ini.

masjid lebuh acheh
Masjid Melayu Lebuh Acheh

Kamipun melanjutkan jalan kaki sekenanya saja. Belok kanan atau kiri, gimana suami sajalah, saya mengekor di belakangnya.

Kami tiba di daerah permukiman, melihat bentuk bangunannya, sepertinya rumah toko bergaya arsitektur Cina. Belum begitu hafal daerahnya, apakah masih sekitar Penang Peranakan Mansion yang kemarin kami kunjungi.

penang street art
jalan-jalan pagi

Tak lama kami mendapati lagi karya Zach lainnya, yaitu “Boy on Motorbike”. Kali ini lukisannya merupakan hasil eksperimen antara lukisan dan motor sungguhan. Kami pun berfoto bergantian. Seorang penjual kartupos di depan obyek menawarkan untuk memotret kami. Rupanya tak tega, kami ini kalau tidak berfoto bergantian ya wefie, atau memakai threepod kalau sempat. Sebagai balas terimakasih, saya membeli satu paket kartu pos. Lah, ternyata foto di kartu pos, kondisi Street Art masih bagus dan gambarnya tajam.

Karya Zach di George Town yang dikerjakan 2012 ini maklum saja kalau mulai pudar terkena cuaca. Masih ada beberapa karya lain yang kami jumpai, walaupun tidak semua karena tempatnya tersebar.

Menikmati Penang Street Art yang memudar
penang street art
kartu pos Penang Stree Art, RM 9.00 (10 kartu pos)

Kuliner Pagi

Ternyata ya berjalan tak menentu begini, matahari mulai naik, perut pun berdendang. Suami punya ide, bagaimana kalau mencari resto Nasi Kandar. Biasanya hidangan halal begini adanya sekitar masjid.

Tampak Masjid indah diseberang jalan, yang menurut petunjuk, masjid tersebut adalah Masjid Kapitan Keling. Menurut Wikipedia, Masjid Kapitan Keling adalah masjid yang dibangun tahun 1801 oleh pedagang Muslim India di George Town, Penang, Malaysia. Terletak di sudut Buckingham Street dan Pitt Street. Setelah mengalami beberapa kali renovasi, Masjid ini merupakan salah satu obyek cagar budaya di Penang.

masjid kapitan keling
Masjid Kapitan Keling
penang street art
diujung sudah tampak rumah makan Nasi Kandar

Ternyata resto dimaksud belum buka.

Tak mendapatkan resto Nasi Kandar, kami pun berbalik arah, mencari lagi rumah makan atau apa saja, supaya bisa sejenak melepas lelah di pukul 10 ini. Setelah beberapa kali menyeberang jalan dan menapaki trotoir yang rapi dan lebar, pucuk dicinta ulam tiba, kami mendapatkan kedai yang buka. Menilik kasir dan pramusaji, sepertinya kedai kuliner India, mungkin Melayu.

Sepertinya memang dikhususkan untuk sarapan. Kami memesan dua menu berbeda, salah satunya roti canai dan dua gelas teh tarik hangat, ditambah kemudian dua potong samosa. Teh, di Malaysia, umumnya teh susu (teh tarik), sedangkan teh saja, itu Teh-O (teh kosong). Teh ais (teh es) lebih mahal daripada teh tok (teh doang…). Bila akan dibungkus, tambah lagi 20 sen.

kuliner penang
sarapan siang

Roti canai-nya teksturnya mirip serabi tipis, plain. Makannya disobek-sobek dicocol saus. Saus putih mirip yogurt, saus satunya mirip kare. Saya lupa, suami pesan apa ya waktu itu. Lumayan mengisi perut sambil menanti kolega suami akan menjemput, dosen-dosen dari School of the Arts, USM (Universitas Sains Malaysia). Rencananya kami diajak berkunjung ke Studio Keramik mereka di Balik Pulau, Penang.

Bandung, 5 Mei 2020

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

View all posts by hani →

32 thoughts on “Jalan Pagi Menikmati Penang Street Art

  1. Iya Bun, sekarang mural gitu mulai banyak di sini juga. Yah jadi bagus sih, artistik gitu.

    Btw, itu apa nama menunya Bun? Kaya crepes gitu ya.

    1. Lah itu dia, lupa namanya apa. Kayak crepes tapi tawar. Saosnya ya rasa khas masakan India gitu deh…
      Abis aja tuh…laper…wkwkwk

  2. Street art ya namanya. Itu boy stand on chairnya lucu amat ya. Ada yang naik motor juga. Pegangan mbak hani. Hehehe

    Kelak saat ada waktu dan kesempatan bisa buat rekomendasi jalan-jalan nih ke penang street art.

    😊

  3. Loh, tulisannya udah selesai aja? 😅Padahal nungguin cerita sarapan siangnya. Itu makan apa aja, Bun?
    Kalau lihat lukisan mural seperti itu syaa suka kagum sendiri. Lukisannya selalu keliatan hidup.

  4. Jalanannya memang sepi begitu ya, Bun? Ada enaknya sih. Kalau mau berfoto nggak usah pakai antri, hahaha … Aku auto membayangkan jalan-jalan, nih.

    Jadi ingat di Indonesia juga banyak sekali anak muda kreatif. Daripada sembarangan mencoret-coret dinding rumah orang, ada baiknya memang diberikan wadah berkreasi ya, Bun. Hasilnya pasti nggak kalah keren.

  5. Nikmat jln2 itu tetep kalah sama menikmati kuliner setempat.
    Sy kl jln2 knp lebih fokus memanjakan lidah y dr PD mata

  6. Tempat ini banyak banget ya diulas bloger dan vloger. Semacam destinasi wajib jika ke Penang. Saya pun tentu memimpikannya bisa ke sana. Tapi karena ada Corona, ya ditunda dulu nanti-nanti saja. Jika situasi dan isi rekening sudah kondusif, hehehe.

  7. Asik banget street art-nya, Bu. Dan itu kenapa ya, tembok terkelupas gitu aja bisa kelihatan keren banget?

    Eh, yang di Jalan Siliwangi udah diperbarui lagikah muralnya? Terakhir lewat sana kulihat warnanya udah agak kusam. Nggak tau juga apa karena waktu itu lagi musim kemarau, jadi terlapisi debu.

  8. Street Art-nya keren-keren banget, seperti ‘nyata’.
    Dalam kondisi cat yang sudah mulai agak luntur itu masih sangat bagus, apalagi waktu baru dulu. Benar-benar kreativitas seni yang semakin mempercantik tampilan kota.

  9. Aku belum pernah ke situ, sih. Jadi belum punya pengalaman hehehe semoga nanti kalau udah sehat, pergi ke sana.

  10. Adanya street art emang bikin pemandangan jadi makin indah. Sayangnya karena lokasinya di luar ruangan, jadi ya salah satu risikonya catnya akan lebih cepat pudar. Btw kartu posnya bagus dan lucu, jadi pengin punya deh.

  11. Di Penang street art ini hits ya. Sepertinya menjadi salah satu daya tarik wisata jika berkunjung ke sana. Kalau di Penang tempat wisata lainnya apa ya mbak?

  12. Saat saya datang ke Kuching Malaysia juga banyak street art kayak gini, mereka memang kreatif memanfaatkan anak muda untuk membuat karya yang menarik dan itu didukung oleh pemerintah setempat. Oh ya dari berbagai gambar tersebut ternyata punya banyak arti loh, gak sekedar gambar gitu2 aja.

  13. Di Bandung ada street art juga hasio karya mahasiswa ITB, tapi kayaknya street art di Penang lebih panjang dan ada gambar 3D-nya, seru banget, apalagi bisa sekalian jalan-jalan pagi dan sarapan

  14. I Di Bandung ada street art juga hasio karya mahasiswa ITB, tapi kayaknya street art di Penang lebih panjang dan ada gambar 3D-nya, seru banget, sarapan khas ala Melayu tuh ngangenin juga ya

  15. Street art di Penang keren-keren ya Kak. Di Kotaku, Di Padang, tepatnya di Kampung Cina juga banyak street art kayak gini. Anak muda yang kreatif bikin street art dan malah jadinya seni, bukan asal coret-coret dinding dan jadi polusi.

  16. seru dan asik juga ya jalan-jalan sambil wisata di Penang. penasaran sama roti canai ya, kalo diliat sekilas mirip terangbulan yg biasanya dijual di depan SD waktu kecil dulu. ha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *