14/09/2020
kecemasan covid-19

Kecemasan Akibat Berita CoViD-19

Sejak virus CoViD-19 terdeteksi di Wuhan, Cina, bulan Desember 2019, berita tentang pandemi ini menjadi headline hampir di semua media. Tak cukup media cetak, televisi, media online, termasuk media sosial, turut andil menyebarkan berita-berita terkait dengan virus. Ternyata banyak berita-berita tersebut hanyalah berita hoax yang sengaja dibuat untuk memancing polemik atau hanya sekedar iseng saja. Media sosial merupakan media yang paling mudah dijangkau oleh sebagian besar masyarakat. Sudah tidak asing lagi, begitu bangun tidur, yang dibuka adalah berita dari WhatsApp, Facebook, Instagram, atau Twitter. Ternyata media online turut andil menimbulkan kecemasan akibat berita CoViD-19

Optimisme Semu

Kita bangsa Indonesia masih percaya diri ketika 500-an WNI yang dijemput dari Wuhan dan dikarantina sementara di pulau Natuna. Kita masih tetap optimis, bahwa iklim di Indonesia yang menyebabkan virus enggan nempel. Apalagi warga yang dikarantina di pulau Natuna pun bertahap diketahui bersih, tidak terpapar virus.

Begitu pula ketika ada 2 warga Depok yang ternyata dideteksi terpapar virus, kita masih belum hirau dengan kejadian ini. Malah lebih heboh dengan berita hoaks tentang mereka. Ketika ketiga pasien tersebut dinyatakan sembuh, selebrasi pun menyambutnya. Dan dunia berputar seperti biasa…

Tetapi apa yan terjadi dalam hitungan minggu bahkan hari kemudian. Tiba-tiba ada WNA yang meninggal akibat virus. Mungkin karena WNA, jamaknya orang Indonesia ya adem ayem saja.

Oh…WNA. Bukan orang kita.

Ternyata optimisme yang melanda sebagian besar kita datang terlalu cepat. Kita hanya menghadapi optimisme semu.

Penyakit menular kok dilawan. Menular ya menular…

Optimisme Semu Berganti Kecemasan

Apa yang kita amati sekarang dari hari ke hari adalah meningkatnya penderita, baik yang sembuh, maupun meninggal. Dalam satu bulan, dari dua orang menjadi seribuan. Berita online dan media cetak menambah kecemasan akibat berita CoViD-19. Saya pribadi sudah sempat leaveWhatsApp Group yang tidak memberikan solusi tetapi hanya komentar miring. Beberapa grup pun sudah menyarankan, kita share yang baik-baik dan positif saja, ya.

Membantu gotong royong bersama pemerintah untuk mengatasi CoViD-19 ini sangat disarankan. Bukan waktunya lagi untuk saling hujat. Marilah bersama-sama agar optimis benar-benar optimis, bukan kecemasan lagi. Jadikan media sosialmu berbagi hal-hal positif dan untuk meningkatkan potensi.

Amiiin…

Bandung, 25 Maret 2020

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

View all posts by hani →

8 thoughts on “Kecemasan Akibat Berita CoViD-19

  1. Inilah kondisi sekarang…, Korban makinteeus bertambah jumoahnya.

    Saangnya pemerintah tidak cepat tanggap dari awal munculnya kabar virus covid-19.
    Seharusnya berbagai antisipasi penyebaran wabah saat itu langsung disterilisasi.
    Begitu ada korban di Indonesia, barulah geger.

  2. huhuhu sedih ya.
    rasanya kayak mimpi, inginnya pas bangun saya tersadar kalau keadaan ini hanyalah mimpi, tapi ternyata kenyataan.

    Saya tiap hari juga was-was, tapi nggak ada yang bisa dilakukan selain menjaga kesehatan dan kebersihan serta berdoa

    1. Iya Mbak. Apalagi kami nih tinggal berdua, lansia. Deg²an. Anak² kusuruh di rumah masing². Satu per satu berita kematian…

  3. Tidak hanya di kota. Kecemasan dan kekhawatiran kini bergeser ke daerah-daerah. Beberpa hari belakangan, di Jawa Tengah banyak pemudik yang mudik ke kampung halaman. Lalu, banyak yang terkena covid-19. Dan di desa-desa, dengan orang-orangnya yang minim pengetahuan, kian menambah sulit bagaimana membendung pageblug ini.

    Kepada alam, kita semua berharap bencana ini segera selesai…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *