Bersama Eliminasi Kusta di Indonesia melalui SUKA (Suara Untuk Kusta)

  • oleh
kusta di Indonesia

Dulu sekali salah seorang teman saya dalam Tugas Akhirnya mendesain Rumah Sakit Kusta di Tangerang. Ternyata di tahun 2020 kusta di Indonesia masih ada dan menempati peringkat ketiga di dunia sebagai negara yang belum bebas kusta, setelah India dan Brasil.

Hal ini mengejutkan bagi saya, karena dalam kisah sejarah Nabi, Nabi Isa diberi mujizat bisa menyembuhkan orang buta dan orang yang menderita penyakit kusta dengan hanya menyentuhnya.

Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahir dan orang yang berpenyakit kusta

(QS. Ali ‘Imran: 49).

Rasanya ada yang salah dalam masyarakat kita, bagaimana bisa penyakit yang ada sejak sebelum Masehi, masih ada di abad 21 ini. Saya pikir, beberapa dekade yang lalu dengan terlibatnya dunia akademis dalam informasi tentang kusta, kusta telah hilang atau minimal berkurang. Contohnya teman saya dulu itu yang membuat Tugas Akhir yang temanya tentang kusta.

Ternyata kita tetap stagnan, bahkan sepanjang 2020 ditemukan sebanyak 9.000 kasus kusta, sehingga total kasus kusta di Indonesia tercatat 16.704 kasus aktif yang harus mendapat penanganan dan pengobatan teratur hingga sembuh.

Stop Stigma Penyakit Kusta di Indonesia

Kusta adalah bercak di kulit disertai mati atau kurang rasa, karena kuman Mycobacterium leprae yang menyerang syaraf tepi. Jika dibiarkan dan tidak diobati sejak dini maka ada kemungkinan terjadi disabilitas atau cacat.

Kerusakan organ terjadi umumnya karena terlambat berobat, jadi disabilitas atau cacat yang terjadi bukan disebabkan oleh kuman kusta, lebih diakibatkan karena terlambat berobat.

Penyakit kusta bisa menular ke orang lain melalui percikan ludah atau dahak yang keluar (droplet) saat batuk atau bersin yang mengandung bakteri Mycobacterium leprae. Berbeda dengan virus yang penularannya dalam hitungan hari, kuman lepra masa inkubasinya cukup lama, yaitu 2-5 tahun. Bahkan beberapa kasus ada yang 10 tahun.

Itu sebabnya lepra termasuk kategori penyakit tropis terabaikan (neglected tropical desease), karena ketidaktahuan masyarakat hingga penyakit ini masih ada di tengah kita.
Masih kuatnya stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan kusta atau orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK), membuat orang dengan gejala kusta enggan memeriksakan diri ke layanan kesehatan lebih dini.
Padahal penyakit kusta bisa sembuh total dan obat-obatannya bisa diperoleh gratis di Puskesmas.

Stigma harus dihilangkan terhadap pasien kusta karena:

  1. Kusta bukan penyakit kutukan
  2. Kusta bukan disebabkan oleh santet
  3. Kusta bukan penyakit turunan
  4. Kusta tidak ditularkan melalui jabatan tangan
  5. Kusta tidak ditularkan melalui makanan
  6. Anak yang tertular dan terkena kusta bukan karena hasil hubungan suami-istri saat haid

Tipe Penyakit Kusta

kusta di Indonesia
dampak kusta secara fisik

Penyakit kusta ada 2 tipe dari jenis bakteri dan dampaknya secara fisik pada penderitanya, yaitu:

1 – Kusta Kering (PB – Pausi Basiler)

Ditandai dengan jumlah bercak kusta 1 hingga 5 bercak dan kerusakan kurang dari 1 syaraf tepi serta tidak ditemukan Basil Tahan Asam (BTA negatif) pada pemeriksaan kerokan kulit.

2 – Kusta Basah (MB – Multi Basiler)

Ditandai dengan jumlah bercak kusta lebih dari 5 atau kerusakan lebih dari 1 syarat tepi serta ditemukan Basil Tahan Asam (BTA positif) pada pemeriksaan kerokan kulit.

Adapun tanda-tanda dan gejala penyakit kusta bisa diperiksa dari tanda-tanda pada kulit dan pemeriksaan syaraf.

Tanda-tanda pada kulit:

  • Bercak kemerah-merahan atau keputih-putihan pada bagian tubuh
  • Bercak yang tidak gatal
  • Bercak yang tidak berasa (tidak sakit)
  • Bercak yang tidak berkeringat atau berambut

Tanda-tanda pada syaraf:

  • Rasa kesemutan atau nyeri pada anggota badan atau wajah
  • Tidak ada rasa pada telapak tangan atau kaki
  • Kelemahan pada otot tangan atau kaki
  • Luka pada telapak kaki yang sulit sembuh
  • Kelopak mata tidak dapat menutup sempurna

Pengobatan Kusta

Pasien yang sudah didiagnosa kusta harus minum obat kusta, multy drug therapy (MDT) secara teratur hingga sembuh.

Untuk pasien kusta dengan tipe kering (PB), perlu minum 6 blister obat dalam kurun 6 bulan berturut-turut secara teratur.

Sedangkan untuk pasien kusta dengan tipe basah (MB), perlu minum 12 blister obat dalam kurun 12 bulan berturut-turut secara teratur.

Setelah selesai terapi pengobatan, pasien sudah tidak menularkan kusta, dan obat-obat tersebut bisa diperoleh di Puskesmas.

Proyek SUKA (Suara untuk Kusta)

peta situasi kusta di Indonesia
peta situasi kusta

Mungkin di antara kita termasuk saya, mendengar kata kusta yang dibayangkan adalah penyakit yang mengerikan. Dunia memang belum sepenuhnya bebas kusta, penyakit dengan berbagai nama, misalnya lepra, leprosy, atau Hansen’s disease tersebut.

Menurut data dari Kementrian Kesehatan, hingga tahun 2020 yang lalu, masih 8 provinsi di Indonesia , yaitu Sumatra Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat, yang prevelensi penyandang kusta lebih dari 1 per 10.000 penduduk.

Lingkungan yang kurang sehat, rumah yang tidak ada cahaya matahari merupakan salah satu sebab juga, penyakit ini mudah berkembang biak. Karena menurut penelitian kuman lepra mati kena paparan sinar matahari.

Sebuah lembaga non-pemerintah, NLR yang didirikan di Belanda tahun 1967 beroperasi di Mozambique, India, Nepal, Brazil dan Indonesia. Di Indonesia, bersama pemerintah yaitu NLR Indonesia berkolaborasi dengan KBR menginisiasi Proyek Suara Untuk Kusta (SUKA) yang bertujuan untuk mengangkat isu kusta di masyarakat, khususnya di kalangan anak muda Indonesia. Salah satu strateginya adalah penyadaran masyarakat melalui sensitisasi dan penguatan jejaring dengan media dan bloggers.

Untuk itu perlu peranan media, salah satunya juga bloger turut serta memberikan informasi yang benar tentang kusta ini. Peranan media ini untuk mendukung upaya pemerintah dalam penanganan kusta target bebas kusta di tahun 2030, dengan tiga pendekatan yaitu zero transmission (nihil penularan), zero disability (nihil disabilitas) dan zero exclusion (nihil eksklusi).

Perlu pemberitaan yang memberikan informasi positif dan menggiring opini dan persepsi masyarat supaya tidak ada lagi stigma pada saudara-saudara kita yang pernah mengalami kusta dan penyandang disabilitas akibat kusta.

Peran Bloger dalam Penyampaian Berita

workshop KBR-NLR tentang kusta di Indonesia
Peluncuran Proyek SUARA untuk Kusta

Informasi tentang kusta banyak saya peroleh pada saat hadir di acara sebagai bloger dari IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis) pada Workshop Media dan Peluncuran Proyek Suara Untuk Kusta dengan tema “Media yang Mengedukasi dan Memberantas Stigma Kusta dan Disabilitas”, pada tanggal 14 April 2021 yang lalu.

Ada 4 narasumber yang memberi paparan hari itu yaitu:

  • Profil KBR oleh Direktur KBR
  • Pengenalan Penyakit Kusata oleh NLR Indonesia
  • Situasi Pemberitaan Berperspektif Kusta dan Disabilitas di Indonesia oleh Aliansi Jurnalis Independen
  • Sensitisasi Disabilitas dan Kusta dalam Pemberitaan dan Pembuatan Konten oleh Diffa Magz.

Dalam paparan dari para narasumber tersebut sebaiknya menghindari pengambilan gambar saat pemberian bantuan, cukup foto bersama saja dalam kesetaraan. Kemudian hindari perilaku ketidakberdayaan yang dipelajari dari proses pemberian bantuan tersebut, agar penerima bantuan menjadi lebih mampu miliki resiliensi untuk kemandirian.

Selain itu ada catatan dari jurnalis dari Bulukumba, Sulawesi Selatan bernama Ardiansyah. Beliau merupakan orang yang pernah mengami kusta (OYPMK), di tahun 2009 diagnosa kusta dan berobat selama 1 tahun. Sekarang beliau telah sembuh dan selama 11 tahun ini tidak ada dalam keluarga yang tertular kusta. Sebagai catatan penting, menurut kak Ardiansyah, stigma kusta ternyata justru lebih berbahaya dari penyakit kustanya sendiri.

Kesimpulan

Peran media sangatlah penting untuk meningkatkan dan memperluas kesadaran akan penyakit kusta, serta memperkuat proses pemberantasan kusta. Untuk itu, sensitisasi bagi jurnalis dan narablog/bloger menjadi penting dalam upaya menumbuhkan kepekaan mereka terhadap isu terkait. Harapannya, produk jurnalistik dan konten yang diproduksi oleh jurnalis dan bloger tidak lagi memunculkan pernyataan negatif yang menimbulkan stigma baru.

Sebagai gambaran tentang kusta, pembaca dapat mengunjungi Live Youtube Berita KBR tentang kegiatan KBR:

Sumber:
Media Gathering
Hari Kusta Sedunia 2021: Ini 8 Provinsi yang Belum Berhasil Eliminasi (suara.com)
Proyek SUKA – NLR Indonesia
Talkshow Ruang Publik – Melihat Potret Kusta di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *