24/10/2020

Masjid Nabawi

“Tidaklah pelana itu diikat –yaitu tidak boleh bersengaja melakukan perjalanan (dalam rangka ibadah ke suatu tempat)- kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, masjid Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan masjidil Aqsho”

(HR. Bukhari 1189 dan Muslim no. 1397)

Masjid Nabawi yang terletak di Madinah, merupakan salah satu tujuan umroh dan haji bagi umat Muslim di seluruh dunia setelah Masjidil Haram. Bagi jemaah yang berasal dari Jawa Barat ketika berhaji, urut-urutan kedatangan ada yang Jeddah-Madinah-Makkah, ada pula yang Jeddah-Makkah-Madinah. Waktu saya dan suami berhaji, kami termasuk yang gelombang kedua. Artinya dari Jeddah kami langsung ke Mekkah, berhaji dan ritual lainnya, dan menetap selama 30 hari, sesudahnya baru ke Madinah dan menetap selama 8 hari. Begitu pula ketika umroh, kami ke Makkah dulu baru ke Madinah.

Menurut sejarahnya masjid Nabawi asal mulanya adalah rumah Rasulullah saw. Masjid dibangun bersebelahan dengan rumah beliau, yang kolom-kolomnya terbuat dari batang pohon korma. Di kemudian hari mengalami perkembangan dan renovasi berulang kali oleh pemerintah Saudi. Ada kesan yang berbeda begitu kita melihat atau berada di dalam Masjid Nabawi, dibandingkan dengan Masjidil Haram.

Haram terkesan keras dan maskulin, mungkin karena lingkungan sekitarnya bebatuan dan lereng bukit cadas. Bangunannya sendiri luas, berlantai tiga, baik itu area tawaf maupun ruang shalat. Ditambah lagi gedung hotel Movenpick yang skalanya luar biasa besar di seberang pelataran King Fadh, memperkuat karakter Masjidil Haram.

Sedangkan masjid Nabawi terletak di tengah kota, dikelilingi plaza yang luas. Bentuk masjidnya kotak, ruang shalatnya berlantai satu. Di bagian pintu masuk ada tangga ke arah mezanin.
Di bagian atap terdapat beberapa kubah, ada sebuah kubah besar di tengah, yang dapat bergeser dan membuka sehingga langit terlihat.
Beberapa minaret di bagian tepi bangunan menjulang ke langit.
Sekarang ini sekeliling pelataran masjid diberi payung raksasa untuk melindungi jamaah dari terik matahari.
Tiang payung diberi kipas angin dan sesekali ada air yang menyemprot ke orang-orang yang lalu-lalang di bawah payung.

nabawi
area shalat perempuan

Begitu melihat masjid Nabawi, ada kesan feminin dan hangat.
Masjid ini memang terkesan cantik.
Menelisik elemen-elemen arsitekturnya, deretan kolom dengan busur-busur (arch) pada interior masjid merupakan ciri khas arsitektur Islam di Timur Tengah. Detail busur di masjidil Harram dipenuhi dengan ornamen sulur-sulur yang dipahat pada batu marmer. Bunga dan daun menghiasi mukernas, atau bagian langit-langit masjid.
Dalam Islam, ornamen hanya memperbolehkan ornamen bunga, daun dan sulur-suluran (arabesque).
Sedangkan detail busur pada masjid Nabawi lebih bersih, hanya merupakan susunan batu selang-seling berwarna abu dan krem.
Bila kepala kolom di masjidil Harram berhiaskan ornamen ukir, mirip kepala kolom gaya Corinthian pada kuil Yunani. Kepala kolom-kolom masjid Nabawi berlapiskan kerangka emas.
Lampu -lampu juga merupakan elemen pelengkap yang menambah keindahan masjid.

Area Shalat

Bedanya dengan Masjidil Haram, masjid Nabawi membedakan pintu masuk khusus untuk akhwat. Gerbang favorit saya adalah gerbang Umar bin Abu Khattab, gerbang nomor 17 B.
Begitu memasuki gerbang sudah ada askar perempuan yang menggeladah tas dan kresek yang dibawa jamaah perempuan.
Konon tidak diperbolehkan membawa HP berkamera.

nabawi
area shalat perempuan

Apabila kita datang pukul 4 pagi, untuk persiapan shalat Shubuh, masih cukup ruang untuk memilih lokasi sholat.
Ruang shalat berkarpet tebal, pada beberapa tempat terdapat rak-rak mushaf yang tersusun rapi. Mushaf juga di susun di hampir semua pilar-pilar di dalam masjid.
Tadarusan menyelesaikan surat-surat yang tertunda, membuat waktu berlalu tanpa terasa hingga adzan berkumandang.
Sama halnya di Masjidil Haram, adzan dikumandangkan dua kali. Jeda antara adzan pertama dan kedua bisa sampai satu jam, sehingga masih ada waktu untuk melanjutkan berdzikir.
Bila tak cukup tempat di dalam masjid, shalat bisa dilakukan di pelataran masjid. Tetapi, Madinah lebih dingin daripada di Makkah, di bulan Januari ini, suhu di pagi hari bisa mencapai 5 derajat Celcius.
Pun sama halnya dengan di Masjidil Haram, sesudah shalat lima waktu dilanjutkan dengan shalat jenazah.

Ada yang menarik di area shalat akhwat, yaitu ada area tertentu perempuan tidak diperkenankan membawa anak-anak, yaitu area yang lebih masuk ke dalam. Saya suka area ini, karena sepi, rasanya lebih khusu saja.

Menjelang shalat, yaitu sesudah adzan pertama, terasa ada kegaduhan. Terdengar suara nyaring askar yang mengatur jamaah yang datang terlambat.
Banyaknya jemaah Indonesia dan Malaysia, membuat askar tersebut mengatur dalam bahasa Melayu, selain Arab tentunya.
“Ibu…ibu, bangun, jangan di jalan!”.
“Mamak”, bila yang harus pergi jamaah dari jazirah Arab.
Karena banyak jamaah begitu masuk langsung menggelar sajadah.
Tak jarang, jamaah berargumen dengan alasan penuh, sehingga malas beringsut. Tapi askar tetap tegas dan mengusir jamaah untuk mencari tempat lain.
Hal ini pula yang membuat aura masjid Nabawi terasa berbeda, suara nyaring perempuan mengatur jamaah, ditambah suara tangis bayi dan anak-anak, membuat masjid serasa di rumah sendiri.
Bisa dikatakan masjid menjadi agak berisik menjelang shalat.

Bila waktunya shalat akan hening, atau malah tambah ramai dengan suara tangisan bayi, yang mungkin terkejut karena ibunya berdiri untuk shalat.
Lalu kegaduhan akan mulai lagi saat bubaran shalat.
Udara dingin di luar masjid menggigit kulit.
Selebihnya adalah menuju meeting point dengan rombongan atau pasangan masing-masing.
Ada belasan gedung parkir dan toilet di pelataran masjid, dan semuanya hanya sebagai pintu masuk saja. Parkir dan toilet ada di basement semua.
Merupakan tempat meeting point paling akurat, karena semua pintu toilet dan parkir diberi nomor.

Raudhah

Antara rumahku dan mimbarku adalah salah satu taman surga.

Raudhah menjadi tempat paling dituju kala jemaah menjalani umroh di Masjid Nabawi. Raudhah atau Taman Surga ini lokasinya bersisian dengan Makam Rasulullah, Abubakar dan Umar bin Khattab. Itu sebabnya area ini tak pernah sepi, karena jamaah shalat sunnah dan memanjatkan doá di sini. Menurut beberapa penjelasan, bila bermunajat di sini akan dikabulkan segala doa-doa.

Khusus jamaah perempuan ada waktu-waktu khusus untuk bisa shalat maupun berdoa di Raudhah. Itu pun jamaah harus antri dan hanya diberi waktu sangat singkat untuk shalat. Jamaah dari Timur Tengah dan Asia dipisahkan menurut kelompok-kelompok. Waktu itu kami tak boleh memotret di sini. Askar perempuan yang mengawasi pun cukup ketat.

Di halaman Masjid Nabawi pun masih ada keseruan lainnya, yaitu pedagang kaki lima yang siap menyambut jamaah yang baru pulang shalat.
Dengan teriakan:”Hamza real, hamza real”.
Semua barang harganya antara lima hingga sepuluh real.
Pasar kaget ini sepi sebentar karena penertiban petugas.
Uniknya mereka selalu muncul sesudah bubaran shalat.

Masjid Nabawi memang “ngangeni”.

Bandung, 15 November 2019

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

View all posts by hani →

One thought on “Masjid Nabawi

  1. Ping-balik: Masjidil Haram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *