30/11/2020
melawan writer's block

7 Langkah Melawan Writer’s Block

Tema awal bulan di grup blog 1Minggu1Cerita kali ini adalah kata melawan. Sejak kata “melawan” dipilih oleh teman-teman, saya perlu waktu seminggu untuk memutuskan mau menulis apa. Melawan awalnya kepikir sesuatu yang negatif gitu, melawan ortu, melawan suami, melawan pemerintah, tapi semua tidak ada yang dapat feel-nya. Aslinya saya kan anak baique, penurut, dan rajin menabung. Akhirnya terpilih kata kunci melawan writer’s block saja. Sejak sebulan ini saya menulis beberapa hal yang tidak terlalu mudah untuk ditulis. Perlu riset, banyak baca, mentok, melenceng dulu ke mana gitu. Mungkin ini yang dinamakan writer’s block?

Apa itu Writers’s Block?

Istilah writer’s block pertama kali diperkenalkan oleh psikoanalisis Edmund Bergler sebagai “a neurotic inhibition of productivity in creative writers.” Artinya hambatan neurotik pada produktivitas penulis kreatif. Kalau sudah merembet ke neurotik, artinya bersifat psikis, ada di alam bawah sadar sang Penulis. Terlihat sederhana, ya. Tapi bagi penulis yang mengalami writer’s block hal ini tidaklah sederhana.

Bekerja sebagai penulis atau semua kegiatan yang sifatnya tulis menulis, bukan melulu didominasi oleh penulis buku. Bloger, penulis artikel, dosen yang sedang menyusun jurnal, guru yang harus menyusun laporan kemajuan murid, semua berkaitan dengan menulis. Penulis puisi, pengarang lagu, dah hal-hal yang membutuhkan kreativitas juga bisa mengalami writer’s block ini. Menuliskan sesuatu merangkai kata tidak semudah yang dibayangkan orang. Tinggal nulis-nulis doang…

Writer’s block atau kebuntuan saat harus menulis ini tidak hanya melanda penulis pemula. Penulis profesional setingkat J.K Rowling pun pernah mengalaminya ketika mengarang buku Harry Potter dan The Chamber of Secrets.
Kondisi writer’s block ibaratnya mengalami kebuntuan saat harus mulai menulis, saat sedang menyelesaikan, bahkan di akhir pengerjaan tulisan tersebut. Pikiran seakan-akan terblokir, kehabisan ide, atau tak tahu ingin menulis apa.

7 Langkah Melawan Writer’s Block

Kalau kita sudah mengalami writer’s block sebetulnya tidak bisa dipaksakan harus menghasilkan sesuatu. Laptop sudah dinyalakan, layar Word sudah terbuka, tapi berjam-jam kosong saja. Mungkin otak kita sudah lelah sehingga perlu rehat sejenak. Tapi, kan, yang namanya tugas atau pekerjaan tidak bisa ditunda. Misalnya penulis buku sudah ditunggu oleh penerbit. Penulis artikel jurnal harus segera submit jurnal, karena berkaitan dengan pendaftaran seminarnya. Begitu pula artikel newsletter, kontributor sudah ditunggu oleh editor.
Berikut langkah-langkah untuk melawan writer’s block tersebut:

1 – Mencari inspirasi dengan membaca

Coba ubek-ubek rak buku, mungkin saja ada buku yang belum tuntas dibaca. Atau pernah membeli buku, tapi belum sama sekali dibuka plastik sealnya. Mulailah membaca.
Tidak perlu berkaitan dengan hal-hal yang akan kita tulis. Mungkin sudah bosan dan eneg dengan materi yang macet untuk ditulis itu.
Membaca sesuatu yang baru membuat pikiran kita menjadi ringan.
Saya pribadi sering membaca lagi koleksi komik di rumah. Membaca komik, tidak perlu mikir, dengan melihat ilustrasi disertai sedikit dialog, pikiran pun menerawang mengikuti cerita komik.

2 – Ke luar rumah

Sepertinya otak buntu ini bosan dengan sikap duduk yang tegang menghadapi laptop. Ke luar rumah, ganti suasana! Jalan kaki seputaran kompleks. Agak jauh sedikit, masuk-masuk ke gang dekat rumah, menyusuri kebun, sawah, memerhatikan perilaku orang-orang di sana. Boleh juga foto-foto dan update media sosial.

Bisa juga dicoba menulis di co-working space atau cafe untuk ganti suasana. Tentu saja bagi yang tidak biasa, menulis di tengah orang banyak atau keramaian tidak semua bisa melakukannya.

3 – Mengerjakan hobi

Hobimu apa? Kalau menonton drakor, ya hayuk, silakan! Teman saya suka drakor yang menguras air mata, lalu dia sesenggukan sampai puas. Sesudah merasa ringan, teman saya melanjutkan pekerjaan yang tertunda tersebut.
Kalau saya lebih suka main piano, menjahit, atau bikin roti dan kue. Selama 1-2 jam main piano lumayan menenangkan pikiran yang ruwet. Menjahit atau memasak, puas rasanya ada hasil lain, selain menulis yang ternyata macet itu.
Suami hobi berkebun, kalau bosan dengan urusan harus upload makalah jurnal, dia akan memilah anakan tanaman Monstera yang sedang hip itu.

4 – Do nothing

Do nothing atau engga ngapa-ngapain bisa juga menjadi sarana refreshing. Maksudnya ya, engga ngapa-ngapain berkaitan dengan pekerjaan atau tugas menulis. Kalau pekerjaan rumah tangga bagi ibu-ibu itu sih, tidak bisa ditinggal. Menurut saya leyeh-leyeh menonton TV, tak tentu arah gonta-ganti channel termasuk doing nothing, sih. Tentu saja engga ngapa-ngapainnya jangan keterusan juga. Ini hanya sekedar time out, jeda sejenak, supaya kepala tidak panas. Me time kilat dengan segelas cokelat panas, OK juga. Sesudah cukup istirahat, mulai lagi tulis menulisnya.

5 – Berselancar di dunia maya

Banyak yang bisa kita lakukan berselancar di dunia maya ini. Tak harus berkaitan dengan objek tulisan, udah mabok juga kalik. Menonton Youtube boleh juga.
Saya seringnya menonton konser piano klasik atau cara membuat roti yang empuk tanpa pegel menguleni.

6 – Membuat kerangka penulisan baru

Bisa juga dicoba membuat kerangka penulisan yang sama sekali baru.
Endapkan saja tulisan yang lama. Seringkali menuliskan tema sama tetapi dari sudut pandang yang berbeda, lebih lancar dikerjakan. Ini tidak mutlak ya. Setiap penulis mempunyai jalannya sendiri untuk berjuang menyelesaikan tulisannya.

Free writing juga merupakan langkah memecahkan kebuntuan akibat tegang harus menulis. Itu sebabnya saya lebih sering buntu kala menulis buku, artikel jurnal, atau newsletter. Sedangkan menulis blog, jarang mengalamai kebuntuan. Menulis blog lebih bebas disertai gaya bahasa yang lebih leluasa.

7 – Menulis sambil mendengarkan musik

Musik sangat luas dan beragam. Setiap orang mempunyai kegemaran musiknya. Ada yang suka dengan suara alunan yang lembut, ada pula lebih suka dengan suara gelegar gegap gempita. Saya sendiri lebih suka mendengarkan alunan piano klasik. Bahkan justru mempercepat saya mengetik sesuai dengan dinamika lagunya. Seolah-olah keyboard di laptop adalah tuts piano.
Ada yang suka dengan musik dan vokal, sehingga sambil menulis juga mengikutinya sambil ikut menyanyi. Mungkin ada yang suka sambil mendengarkan murotal? Bebas aja, sih…

Nah, itulah langkah saya untuk melawan writer’s block. Teman-teman pasti punya langkah-langkah khusus untuk melawan writer’s block kan ya. Bisa dituliskan di kotak komen ya…

Semoga bermanfaat. Semangat menulis ya …

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

View all posts by hani →

11 thoughts on “7 Langkah Melawan Writer’s Block

    1. Asik main piano, bisa bikin adrenalin ikutan adem ya bun…

      Makasih sharingnyah…

      Kalau pas lagi mentok, saya sukanya jalan keluar sebentar naik motor, liat jalanan yang ijo-ijo. Sejuk rasanya

  1. Aku biasanya nonton film nih mbak kalau lagi males nulis gitu, hehe somehow bisa membantu emang. Sama keluar rumah deng cari suasana baru. Thank you tipsnya, jadi ada ide kalau amit-amit kemalesan ini kembali hehe

  2. Saya pernah kena writer’s Block, alhasil saya lepaskan semua beban, jalan-jalan, nonton Netflix, masak-masak di dapur. Akhirnya setelah fresh jadi produktif lagi hehee.. mungkin saat itu jenuh jadi seperti mati gaya hehe..

  3. Hai Bunda Hani… ini postingan semacam jawaban semesta untuk melawan writer blocks saya #haisshapaansih. Lagi fokus ke yang lain jadi jarang nulis, sekalinya mo nulis blank.
    Biasanya saya senang kalau nulis tuh sepi, musik membantu juga atau lihat-lihat album foto dulu. Asal ada niat ngelawan, mestinya writer’s block jauh-jauh sih.

  4. Wohh kok aku jadi keidean pengin duet ama Bunda ya.. Bunda main piano, aku nyengnyong hihihi… kira-kira berkenan nggak ya… biar sama-sama hepi gitu.. abis itu dijadiin bahan ngeblog deh hahahaha… dasar!

  5. Do nothing aku yang paling sering deh kayaknya kalau pas writer’s block menerpa. Beneran ga ngapa-ngapain aja..gegoleran, ngemil, rebahan…
    Kalau sambil denger musik akau malah ga bisa, mbak
    Aku tipe dapat ide kalau sunyi dan hening di sekitar hihi

  6. Berselancar di dunia maya ini terkadang justru jadi racun buatku, Mbak. Apalagi kalau berselancarnya di media sosial. Niat buat cari ide, yang ada malah terjebak buat scrolling teruuus. Hahaha.

    So far point nomor 1-4 cukup berhasil buatku, tapi kalau dengerin musik ga bisa karena aku justru jadi larut dalam liriknya. Wakaka. Parah banget emang.

    Btw, makasih tipsnya, Mbak Hani.

  7. Dengar musik justru buat kepalaku makin mumet, hiii tidak banget yah? Mungkin karena di alam bawa sadarku sudah menolak duluan, keseringan gerah sih tiap hari dengar ayangbeb main musik wakawakawaka ampun mbak.
    Apalagi selama pandemi ini, pulang dari masjid mainin organ tunggalnya, siang main gitar, sore main lagi, malam apalagi. eh, malah curhat ha-ha-ha.
    Terus bagaimana melawan writers block ala saya?
    Saya ngeteh atau sesekali ngopi sambil ngemil dan nonton sinetron televisi ikan terbang. habis itu tertidur, bangun malam kalau sempat, baru deh bisa nulis lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *