14/09/2020
laboratorium

Membaca Hasil Laboratorium

Bororo panasnya turun naik.
Setelah Jum’at pagi buta step, sepanjang hari badannya masih sumeng, dan belum benar-benar normal.
Wajahnya pun tampak kuyu, matanya berkunang-kunang.
Sesuai dengan pesan dokter jaga di IGD, bila sampai Sabtu tidak turun, maka harus dites darahnya.
Sabtu siang sudah terasa dingin, hingga kami pun lega.
Ternyata Sabtu magrib, panasnya naik lagi.
Akhirnya Papa Mama Boro memutuskan membawanya kembali ke RS Ibu dan Anak di jalan Riau Bandung.

Cek Darah

Bororo anaknya shaleh, mudah-mudahan demikian seterusnya.
Tidak rewel, walaupun dalam sakit, masih murah senyum.
Suster jaga mengenali sebagai si Ganteng yang Jum’at pagi menyeruak ke Instalasi Gawat Darurat.
Keluhannya apa?
Panasnya belum turun.
Oke.
Dokter jaga yang berbeda memeriksa status, cek kondisi fisik, kemudian memutuskan harus cek darah.
Petugas laboratorium yang akan datang ke IGD.

Menjelang pukul tujuh malam, dua orang petugas datang mengambil sampel darah.
Kemudian keluarga diminta menunggu hasilnya kira-kira dalam waktu satu jam.
Ternyata hasil yang diperoleh, trombosit Bara turun dibawah normal.
Bahkan dokter jaga menanyakan, betulkah panasnya baru dua hari.
Kecemasan tentulah melanda kami, khawatir Bara kena demam berdarah.
Penyakit berasal dari virus yang belum ada obatnya.

Berbekal smartphone, saya langsung mencari tahu gejala demam berdarah pada bayi.
Mencari tahu pula cara menaikkan trombosit pada bayi.
Mama Boro pernah kena demam berdarah ketika usia 4 tahun, kemudian berulang kira-kira SD.
Begitu pula kakaknya pernah kena demam berdarah, tetapi sudah dewasa.
Setahu saya, apabila kena demam berdarah, banyak-banyak minum, jus jambu, jus kurma, dan teh angkak.
Tetapi demam berdarah pada bayi?

Pemeriksaan NS1 Dengue Pada Penderita Demam

Tes lanjutan untuk mengetahui apakah ada demam berdarah atau tidak adalah dengan tes NS1.
Kami baru tahu ada tes lanjutan untuk mengetahui seseorang kena demam berdarah atau tidak dalam waktu cepat.
Apa yang saya baca, tes ini dilakukan setelah demam 1-3 hari.

Pemeriksaan Non Struktural 1 (NS1) ditujukan untuk mendeteksi virus dengue lebih awal. Virus dengue memiliki 3 protein structural dan 7 protein non structural. NS1 adalah glikoprotein non structural yang diperlukan untuk kelangsungan hidup virus.

Keuntungan mendeteksi antigen NS1 yaitu untuk mengetahui adanya infeksi dengue pada penderita tersebut pada fase awal demam, tanpa perlu menunggu terbentuknya antibodi.

Kapan waktu terbaik untuk pemeriksaan NS1 ?

Pemeriksaan Dengue NS1 Antigen sebaiknya dilakukan pada penderita yang mengalami demam disertai gejala klinis infeksi virus dengue (pada hari 1-3 mulai demam) untuk mendeteksi infeksi akut disebabkan virus dengue.

Jadi kami masih harus menunggu lagi hasil tes NS1 ini.
Alhamdulillah, ternyata hasilnya negative demam berdarah.

Hasil Tes Darah

Bororo diperbolehkan pulang, dan dokter jaga berpesan, besok harus cek darah lagi untuk mengetahui apakah trombositnya masih menurun atau tidak.
Kami hanya dibekali obat penurun panas dan racikan.

Keesokan harinya setelah sarapan, Bororo kami bawa lagi ke laboratorium untuk tes darah ulang.
Alhamdulillah hasil tes darah meningkat.
HB, leukosit dan trombositnya meningkat.
Leukosit masih di bawah ambang batas, tetapi angkanya meningkat dibandingkan kemarin.
Kata dokter, bila angkat leukosit di bawah standar, berarti kena virus.
Sedangkan bila di atas standar, berarti kena bakteri.
Kemungkinan besar untuk memberikan pengobatan yang pas.

Sedikit sekali mungkin diantara kita yang aware dengan hasil tes laboratorium.
Seringkali pula hasil tes dari laboratorium langsung diberikan ke dokter.
Pasien diberikan hasilnya setelah dibaca dokter kemudian mendapat resep untuk pengobatannya.

Saya jadi penasaran dan ingin tahu lebih jelas, apa sih, HB, leukosit dan trombosit ini.
Apalagi pasien kali ini adalah bayi usia 15 bulan, yang masih rentan terhadap terpaan penyakit.
Pun pengobatannya harus sangat hati-hati, jangan sampai ada alergi obat yang tidak disampaikan ke dokter.

Membaca Hasil Tes Darah

Beberapa tes darah rutin adalah:

Pemeriksaan darah rutin meliputi 6 jenis pemeriksaan; yaitu
Hemoglobin / Haemoglobin (Hb)
Hematokrit (Ht)
Leukosit: hitung leukosit (leukocyte count) dan hitung jenis (differential count)
Hitung trombosit / platelet count
Laju endap darah (LED) / erythrocyte sedimentation rate (ESR)
Hitung eritrosit (di beberapa instansi)

Hemoglobin (Hb)

Nilai normal dewasa pria 13.5-18.0 gram/dL, wanita 12-16 gram/dL, wanita hamil 10-15 gram/dL
Nilai normal anak 11-16 gram/dL, batita 9-15 gram/dL, bayi 10-17 gram/dL, neonatus 14-27 gram/dL
Hb rendah (<10 gram/dL) biasanya dikaitkan dengan anemia defisiensi besi. Sebab lainnya dari rendahnya Hb antara lain pendarahan berat, hemolisis, leukemia leukemik, lupus eritematosus sistemik, dan diet vegetarian ketat (vegan). Dari obat-obatan: obat antikanker, asam asetilsalisilat, rifampisin, primakuin, dan sulfonamid. Ambang bahaya adalah Hb < 5 gram/dL. Hb tinggi (>18 gram/dL) berkaitan dengan luka bakar, gagal jantung, COPD (bronkitis kronik dengan cor pulmonale), dehidrasi / diare, eritrositosis, polisitemia vera, dan pada penduduk pegunungan tinggi yang normal. Dari obat-obatan: metildopa dan gentamisin.

Hematokrit

Nilai normal dewasa pria 40-54%, wanita 37-47%, wanita hamil 30-46%
Nilai normal anak 31-45%, batita 35-44%, bayi 29-54%, neonatus 40-68%
Hematokrit merupakan persentase konsentrasi eritrosit dalam plasma darah. Secara kasar, hematokrit biasanya sama dengan tiga kali hemoglobin.
Ht tinggi (> 55 %) dapat ditemukan pada berbagai kasus yang menyebabkan kenaikan Hb; antara lain penyakit Addison, luka bakar, dehidrasi / diare, diabetes melitus, dan polisitemia. Ambang bahaya adalah Ht >60%.
Ht rendah (< 30 %) dapat ditemukan pada anemia, sirosis hati, gagal jantung, perlemakan hati, hemolisis, pneumonia, dan overhidrasi. Ambang bahaya adalah Ht <15%.

Leukosit (Hitung total)

Nilai normal 4500-10000 sel/mm3
Neonatus 9000-30000 sel/mm3, Bayi sampai balita rata-rata 5700-18000 sel/mm3, Anak 10 tahun 4500-13500/mm3, ibu hamil rata-rata 6000-17000 sel/mm3, postpartum 9700-25700 sel/mm3
Segala macam infeksi menyebabkan leukosit naik; baik infeksi bakteri, virus, parasit, dan sebagainya. Kondisi lain yang dapat menyebabkan leukositosis yaitu:
Anemia hemolitik
Sirosis hati dengan nekrosis
Stres emosional dan fisik (termasuk trauma dan habis berolahraga)
Keracunan berbagai macam zat
Obat: allopurinol, atropin sulfat, barbiturat, eritromisin, streptomisin, dan sulfonamid.
Leukosit rendah (disebut juga leukopenia) dapat disebabkan oleh agranulositosis, anemia aplastik, AIDS, infeksi atau sepsis hebat, infeksi virus (misalnya dengue), keracunan kimiawi, dan postkemoterapi. Penyebab dari segi obat antara lain antiepilepsi, sulfonamid, kina, kloramfenikol, diuretik, arsenik (terapi leishmaniasis), dan beberapa antibiotik lainnya.

Leukosit (hitung jenis)

Nilai normal hitung jenis
Basofil 0-1% (absolut 20-100 sel/mm3)
Eosinofil 1-3% (absolut 50-300 sel/mm3)
Netrofil batang 3-5% (absolut 150-500 sel/mm3)
Netrofil segmen 50-70% (absolut 2500-7000 sel/mm3)
Limfosit 25-35% (absolut 1750-3500 sel/mm3)
Monosit 4-6% (absolut 200-600 sel/mm3)
Penilaian hitung jenis tunggal jarang memberi nilai diagnostik, kecuali untuk penyakit alergi di mana eosinofil sering ditemukan meningkat.
Peningkatan jumlah netrofil (baik batang maupun segmen) relatif dibanding limfosit dan monosit dikenal juga dengan sebutan shift to the left. Infeksi yang disertai shift to the left biasanya merupakan infeksi bakteri dan malaria. Kondisi noninfeksi yang dapat menyebabkan shift to the left antara lain asma dan penyakit-penyakit alergi lainnya, luka bakar, anemia perniciosa, keracunan merkuri (raksa), dan polisitemia vera.
Sedangkan peningkatan jumlah limfosit dan monosit relatif dibanding netrofil disebut shift to the right. Infeksi yang disertai shift to the rightbiasanya merupakan infeksi virus. Kondisi noninfeksi yang dapat menyebabkan shift to the right antara lain keracunan timbal, fenitoin, dan aspirin.

Trombosit

Nilai normal dewasa 150.000-400.000 sel/mm3, anak 150.000-450.000 sel/mm3.
Penurunan trombosit (trombositopenia) dapat ditemukan pada demam berdarah dengue, anemia, luka bakar, malaria, dan sepsis. Nilai ambang bahaya pada <30.000 sel/mm3. Peningkatan trombosit (trombositosis) dapat ditemukan pada penyakit keganasan, sirosis, polisitemia, ibu hamil, habis berolahraga, penyakit imunologis, pemakaian kontrasepsi oral, dan penyakit jantung. Biasanya trombositosis tidak berbahaya, kecuali jika >1.000.000 sel/mm3.

Untuk membantu meningkatkan trombosit pada bayi usia 15 bulan, tidak semudah meningkatkan trombosit pada anak-anak yang lebih besar atau orang dewasa.
Bayi seusia ini minum dari gelas pun baru belajar, sehingga sulit menyuruhnya minum banyak-banyak.
Bororo sudah pandai minum memakai sedotan, tetapi takaran jumlahnya sepertinya kurang dari harapan.
Apalagi minumnya cimit-cimit.
Jus kurma bentuknya kental, sedangkan jus jambu belum berani kami berikan.

Akhirnya saya membuat sendiri jus kurma, yaitu:

– 4 butir kurma
– 300 cc air hangat

Kedua bahan ini diblender hingga lembut.
Rasanya sedikit sekali rasa manis.
Masih banyak segar air, sehingga Bororo masih mau minum memakai sedotan dengan lahap.
Lumayan lah, yang penting banyak masuk cairan, dan ditambah kalori dari kurma.

Besok-besok harus dijaga kondisi tubuhnya, terutama makanan bergizi dengan menu seimbang.

Sumber:
http://www.academia.edu/8463722/Manfaat_dan_Interpretasi_Hasil_Laboratorium_Hematologi_Pada_Anak

Bandung, 24 Juli 2016

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

View all posts by hani →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *