Ketika Menabung Saja Tidak Cukup. Lakukan 5 Hal Mengelola Keuangan Keluarga

Ketika menabung saja tidak cukup, kita perlu mengelola keuangan keluarga dengan cermat. Bagaimana tipsnya?

Teman-teman, tahu lagu ini?

Bang bing bung
Yok kita nabung
Tang ting tung hey
Tau tau kita nanti dapat untung …

Syair di atas merupakan penggalan lagu Menabung karya Titik Puspa. Lagu tersebut cukup popular dan sering dinyanyikan anak-anak, tujuannya tentu saja agar kita rajin menabung. Jadi pola pikir kita memang kalau rajin menabung kita akan dapat untung. Untungnya seperti apa? Ya tentu saja, harapannya uang kita jadi banyak. Benarkah? Akan jadi banyaknya berapa lama? Jangan-jangan kita tak cukup sabar untuk mendulang hasil menabung tersebut. Kemudian karena dirasa kelamaan, akhirnya stop menabung.

Ketika Menabung Saja Tidak Cukup

Saya pun dulu pola pikirnya masih konvensional, bahwa dengan menabung saya akan menjadi kaya. Belakangan, setelah berumahtangga cukup lama, dan membaca beberapa buku, ternyata, menabung saja tidak cukup.

Utamanya bila kita mempunyai penghasilan, apakah kita memang bekerja, atau merupakan penghasilan suami atau istri, pos-pos penggunaannya harus jelas. Seseorang apakah sudah menikah atau belum, tetap harus bisa memenej keuangannya agar tidak jebol. Mindset kita biasanya, uang yang ditabung merupakan sisa penghasilan. Itu sebabnya mau gajinya banyak atau sedikit, rasanya kurang terus. Habis tak tentu rimbanya.

Mari kita ubah mindset sisakan dulu baru menabung, tetapi sisihkan untuk tabungan. Caranya dengan menyusun pos-pos sederhana sebagai berikut. Saya dulu menyisihkannya dalam amplop-amplop yang diberi catatan peruntukan pengeluaran tersebut. Sekarang lebih canggihlah ya. Bisa langsung autodebet atau semacamnya, ditransfer ke rekening yang berbeda dengan rekening sehari-hari.

Pos-pos Pengeluaran

  • Pengeluaran Harian
    Pengeluaran harian yaitu, belanja dapur sehari-hari, transportasi, uang jajan anak, sedekah, dan lain-lain.
  • Pengeluaran Bulanan
    Pengeluaran bulanan yaitu, tagihan air, listrik, telepon, uang sekolah anak, kuota internet, iuran keamanan, cicilan rumah, cicilan mobil, asuransi, zakat profesi, biaya tak terduga, dan iuran-iuran lain.
  • Pengeluaran Tahunan
    Pengeluaran tahunan yaitu, pajak rumah (pajak bumi dan bangunan), pajak mobil, zakat maal, dana untuk kurban, asuransi, dan pengeluaran lain. Sebetulnya, pengeluaran tahunan dapat diprediksi dari catatan tahun sebelumnya. Oleh sebab itu, harusnya pengeluaran tahunan dapat dicicil dan disisihkan per bulan supaya tidak terasa memberatkan dan tampak besar jumlahnya.

Lalu menabungnya kapan? Kalau kita mencatat segambreng pengeluaran, kayaknya tidak cukup nih untuk menabung. Apalagi, ada pernyataan bahwa menabung saja tidak cukup.

Teman-teman, selain kebutuhan pos-pos rutin pengeluaran kita, ada dana lain yang cukup penting sebagai persiapan masa depan.

Dana Masa Depan

Dana Darurat

Pengertian darurat tidak selalu berarti sakit. Dana darurat adalah dana yang dapat digunakan bukan hanya untuk kondisi darurat, tetapi juga sebagai pengaman.
Misalnya suatu saat kehilangan pekerjaan (amit-amit). Contoh sederhana, dana darurat lajang adalah 4 X pengeluaran bulanan. Bila sudah menikah adalah 6 X pengeluaran bulanan. Tidak harus sekarang juga sih. Dana darurat dicicil saja pencapaiannya dalam satu hingga tiga tahun ke depan.

Dana Pensiun

Dana Pensiun artinya dana yang dapat digunakan sebagai biaya hidup apabila sudah pensiun. Saya pernah membaca, bahwa orang Indonesia menyiapkan dana pensiun setelah usia 42 tahun. Boleh dibilang, ini terlambat. Sedangkan orang Singapura, sejak mereka mulai bekerja kira-kira usia 25 tahun, sudah menyiapkan dana pensiun.

Dana Pensiun tidak melalu hak pegawai negeri atau swasta, freelancer pun bisa banget menyiapkan dana pensiun sendiri. Banyak bank atau lembaga keuangan yang menawarkan program hari tua yang bisa kita pelajari untung-ruginya dan dicicil tiap bulan.

Dana Pendidikan

Tentu saja maksudnya Dana Pendidikan disini adalah dana pendidikan untuk anak-anak. Setiap keluarga mempunyai cita-cita tertentu untuk pendidikan anak-anaknya. Ada dana raih sarjana sampai S2, sekolah ke luar negeri, dan lain-lain. Beberapa skema asuransi pendidikan biasanya menawarkan berbagai bentuk investasi untuk pendidikan yang dapat dicicil setiap bulan.

Lhoh, banyak bet, mengatur keuangan keluarga tuh. Lah iyalah. Maunya kan kita di masa tuanya tidak terlunta-lunta.

5 Hal Mengelola Keuangan Keluarga

Teman-teman, berikut beberapa hal yang bisa kalian lakukan untuk mengelola keuangan keluarga:

mengatur keuangan keluarga
5 Hal #SmartMoneyMenginspirasi

1- Smart Mencatat Keuangan

Darimana kita tahu uang kita cukup atau tidak itu dari mencatatnya. Kalau perlu seratus demi seratus rupiah. Pokoknya jangan malas deh. Banyak kok, aplikasi ponsel yang bisa diunduh, supaya kita membuat semacam pembukuan sederhana. Melalui mencatat, kita jadi bisa nge-rem pengeluaran yang tidak penting.

Engga usah malu. Waktu saya kuliah dulu, ada teman pria yang selalu mencatat pengeluaran hariannya, bahkan pengeluaran seratus rupiah pun dicatat. Setelah lulus teman saya tersebut mempunyai perusahaan periklanan, di hari tuanya hidup mapan, dan sering jalan-jalan. Perusahaannya sudah ada yang handle. Mau juga, kan, seperti teman saya itu. Soal catat-mencatat setelah berkeluarga biasanya diserahkan ke menteri keuangan, alias isteri. Walaupun belum tentu juga, tergantung kesepakatan pasangan tersebut di awal pernikahan.

2- Smart Melakukan Budgeting

Budgeting itu bukan melulu untuk perusahaan. Household budgeting adalah istilah lain dari mengelola anggaran rumahtangga. Kita bisa banget mengatur anggaran rumahtangga tersebut. Misalnya, kesehatan, pendidikan, rencana ingin memiliki rumah, memiliki mobil, dan berbagai dana di luar kebutuhan sehari-hari.

Salah satu cara melakukan budgeting adalah melakukan investasi yaitu membeli produk asuransi, reksadana, obligasi, tabungan logam mulia atau properti.

Asuransi

Banyak produk asuransi, misalnya asuransi kesehatan, pendidikan, dan hari tua. Biasanya kita enggan mengikuti asuransi karena mindsetnya uang kita hangus. Kalau dibandingkan dengan deposito, asuransi memang berbeda returnnya (dana yang kita peroleh di akhir. Karena dalam asuransi ada faktor risiko yang masyarakat sering kurang teliti membaca polisnya.

Deposito, Reksadana, Saham, dan Obligasi

Umumnya kita sudah tahu dengan deposito, yaitu menyimpan sejumlah dana dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan reksadana, saham, dan obligasi merupakan produk investasi yang mulai dikenal masyarakat. Beberapa website toko online bahkan menawarkan juga produk reksadana hanya 100ribuan. Tentu saja bedanya dengan menabung konvensional, investasi seperti ini kita harus cermat mau ikut menanamkan modal di perusahaan seperti apa. Jangan sampai mau untung, jadi buntung.

Tabungan Logam Mulia

Menabung dalam bentuk emas, mungkin salah satu investasi kuno yang engga ada matinya. Sepertinya dari zaman nenek saya, beliau pun sudah sadar menabung dalam bentuk emas lebih bernilai jual, daripada menyimpannya dalam uang kertas. Apalagi zaman nenek saya tersebut, zaman perang dan zaman redenomisasi (nilai uang dipotong). Duh, serem, amit-amit. Jangan deh …

Properti dan Tanah

Investasi berupa properti dan tanah bisa juga jadi pilihan. Untuk memperolehnya memang perlu perjuangan, dengan mencicil bisa juga menjadi pertimbangan. Tidak rugi, kok, karena nilainya naik terus.

3- Smart Menentukan Visi

Mumpung masih muda, ada baiknya kita menentukan visi. Misalnya ingin usia 30 tahun sudah punya rumah, punya mobil, bahkan uang 1 milyar. Ada kok website reksadana yang membreakdown, dalam sekian tahun kita ingin punya dana X, maka setiap bulan kita harus menabung berapa.

Langkah ke-3 ini nyambung banget dengan langkah ke-1 untuk mengatur keuangan keluarga. Misalnya, supaya bisa punya rumah, stop gaya hidup hedon dan makan-makan di cafe mahal.

4- Smart Meningkatkan Potensi Diri

Sejak kecil mungkin beberapa dari kita, selain sekolah juga dikursuskan ini itu oleh orang tua kita. Bagus banget lho orang tua seperti itu. Beliau menanamkan semacam investasi ke anak-anaknya. Tujuannya supaya anak-anak bisa berkembang maksimal sesuai potensi masing-masing.
Potensi diri ini bisa menjadi batu loncatan bila kita stuck di suatu pekerjaan tertentu.

Tidak semua orang bisa menjadi pegawai di suatu perusahaan. Tetapi bukan menjadi halangan untuk tetap berkarya. Revolusi Industri 4.0 sudah digaungkan dari beberapa tahun yang lalu. Artinya semua orang berpotensi memanfaatkan peluang.
Sambil menjadi pegawai, kita masih bisa menambah pendidikan melalui pendidikan online. Yang bukan pegawai pun bisa mencari peluang berkarya melalui website freelancer.

5- Smart Tetap Optimis Namun Realistis

Sebagai generasi milenial, sikap optimis itu diperlukan agar kita mempunyai semangat mencapai yang kita inginkan.
Optimis boleh banget, tetapi kita tetap harus realistis.
Misalnya di tempat kerja sekarang, gaji kita segitu-gitunya tidak mungkin naik lagi. Tadinya kita optimis akan mengumpulkan uang sekian dalam sekian tahun, ternyata realitanya jauh panggang dari api.

Kalau sudah begini kita bisa mencari peluang baru. Bisa dengan pindah kerja, atau mencari second job yang tidak mengganggu pekerjaan utama. Banyak kan kisah, seseorang merintis usaha kala masih jadi pegawai, kemudian setelah mantap, bisa resign dengan nyaman.

Kesimpulan

Mencatat setiap pengeluaran-pemasukan keuangan sebagai bentuk mengelola keuangan keluarga menurut saya cukup penting. Banyak juga keluarga yang tidak cermat mengelola keuangan sehingga jebol dan terlibat hutang. Terlihat ribet, tetapi kalau sudah terbiasa, menjadi tak masalah. Menabung saja tidak cukup berdasarkan pengalaman saya dalam mengelola keuangan keluarga, karena harus ada budgeting dan rencana investasi masa depan yang cermat. Walaupun dalam beberapa hal ada saja saya terlambat untuk mengantisipasi, yaitu persiapan pensiun dan dana menikahkan anak.
Semoga bermanfaat …

Sumber:
Hananto, Ligwina; 2011; Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah untuk Tidak Miskin; Jakarta; Penerbit Literati

Suhardono, Rene; 2010; Your Job is Not Your Career; Jakarta; Penerbit Literati

Bandung, 2 Januari 2021

17 pemikiran pada “Ketika Menabung Saja Tidak Cukup. Lakukan 5 Hal Mengelola Keuangan Keluarga”

  1. Smart meningkatkan potensi diri, ini agak tricky ya. Kita musti kenal baik potensi pribadi maupun anak supaya tepat sasaran dengan goalnya kelak.

    Salah mengenali potensi beresiko salah memilih jurusan juga, hiks sayang…

    Balas
    • Iya. Bener banget tentang potensi diri tersebut. Hobby juga bisa tuh dijadikan langkah meningkatkan potensi diri.
      Btw…makasih ya sudah mampir…

      Balas
  2. smart mencatat keuangan, ini memang kerasa banget manfaatnya. saya punya suami yang rinci dan rapi urusan ini, hihi. Jadi household budgeting juga terpantau dan terukur baik.

    Balas
  3. Untuk dana pensiun dan pendidikan sampai saat ini belum dicadangkan nih bun. Masig sebatas tabungan tahunan aja itu pun visi nya lebih ke buat liburan tahunan kita. Gtw deh kalo udah ada anak nanti hehe harusnya dari sekarang yah bun. Oke deh noted semua infonya bun

    Balas
  4. bun emang ini kudu sih ya, saya tuh sama suami juga lagi ngitung-ngitung banget pengeluaran, jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang. Nah, nemu ini berasa ditampar lagi karena belum tersealisasikan. makasih ya bun sudah di reminder, hehe.

    Balas
  5. Saya baru tahu tentang moneysmart ini…satu portal berisi banyak info tentang pengelolaan keuangan seperti ini tentu sangat membantu sekali.
    Apalagi saat ini godaan kanan kiri begitu menggoda…kalau enggak tahan bisa bikin ambyar keuangan ..duh

    Balas
  6. Saya baru tahu nih ada web MoneySmart. Pas banget itu untuk kebutuhan pengelolaan keuangan generasi milenial dan juga keuangan keluarga. 5 hal yang bunda sebutkan di atas iyess banget. Terutama untuk urusan investasi. Sejauh ini saya memilih yg logam mulia, sih. Bahkan unicorn pun menawarkan investasi ini pada aplikasi mereka. Tinggal klik.

    Zaman semakin mudah, tapi kita tidak boleh bermudah-mudah untuk urusan finansial alias harus cermat. Nica info 🙂

    Balas
  7. Informasinya berisi banget, Bunda. Penting banget memang bijak dalam mengelola keuangan. Banyak orang yang pintar menghasilkan uang, tapi pintar juga menghabiskannya. Apalagi, literasi keuangan di negara kita juga masih rendah. Sangat dianjurkan menyiapkan dana pensiun sejak masih muda, bukan beberapa tahun menjelang usia pensiun.

    Balas
  8. Betul bunda..siapapun wajib hukumnya pandai mengatur keuangan..dan harus dimulai sejak kecil..mungkin pada awalnya ribet…tapi jika sudah konsisten dan terbiasa, pasti akan menguntungkan di kemudia hari..terimakasih artikelnya bunda..sangat bermanfaat

    Balas
  9. Kak Hani…
    Wah terima kasih artikelnya.
    Aku berusaha melakukan 5 tips itu sejauh ini.
    Karena menabung saja tidak cukup, kita harus smart dalam menabung.

    Oh ya, aku suka web-nya. Sudah lumayan lama sih suma baca-baca web-nya buat motivasi.

    Terima kasih dan salam ceria untuk Kak.

    Balas
  10. Saya sedang terpikir untuk berinvestasi logam mulia untuk biaya pendidikan anak lima tahun ke depan. Lebih baik beli di toko perhiasan atau emas batangan saja ya?

    Balas
    • Hai mb Akarul. Kalau saya sih lebih baik LM, krn ikutin harga pasar. Kalau perhiasan, ikut harga pasar tapi dipotong ongkos model perhiasan. Saya kurang tahu kenapanya, tapi di toko emas gitu sih hitungannya. Tapi di toko emas pun bisa kok beli LM.
      Bank syariah ada cicil emas. Bisa dicoba di BSM. Selamat berinvestasi…

      Balas

Tinggalkan komentar

DMCA.com Protection Status