Menulis Buku Antologi, Langkah Menerbitkan Buku Bersama

Menulis buku antologi awalnya diperuntukkan bagi kumpulan karya sastra, berupa puisi, pantun, termasuk syair. Definisi antologi menurut Wikipedia, berasal dari bahasa Yunani, artinya karangan bunga atau kumpulan bunga. Di kemudian hari, antologi mencakup prosa, cerpen, novel pendek, bahkan tulisan nonfiksi maupun hasil penelitian yang dibukukan dan dicetak. Umumnya buku antologi tersebut masih satu tema yang dikumpulkan dari beberapa kontributor. Sehingga sudut pandang penulisannya menjadi kaya, karena ditulis oleh banyak orang.

Menulis Antologi Melalui Komunitas

Saya ikut beberapa komunitas maupun grup ngeblog, entah darimana selalu ada saja yang mengajak menulis buku antologi. Temanya rata-rata nonfiksi, karena saya belum terlalu bisa menulis fiksi. Ada juga tema-tema yang saya masih harus banyak belajar, yaitu tema dongeng, cerita anak, maupun cerita pendek.

Boleh dibilang menulis naskah untuk antologi tidak sulit kalau temanya sesuai, tak terlalu banyak riset, dan merupakan pengalaman pribadi. Beberapa antologi yang saya turut berkontribusi dan diterbitkan antara lain:

  • Jejak Langkah Penulis
  • 24 Resep Kue dari Dapur Blogger Kece
  • The Gift of Writing – Menebar Kebaikan Melalui Tulisan
  • Never Give Up
  • Selaksa Cinta Bakti Ananda
  • Ngeblog Seru Ala Ibu-ibu
  • Wanita Punya Cerita
  • Financial Tips for Mom
  • Ensiklopedia Pramuka
  • Antara Cinta, Budaya, dan Generasi Kita – Antologi Cerita Pendek #1Minggu1Cerita
  • 43 Dongeng Amazing
  • 55 Dongeng Fantastis Dunia
  • 55 Tokoh Dunia – Yang Terkenal & Paling Berpengaruh Sepanjang Zaman
  • Tak Lelah Melangkah
  • Cahaya di Baitullah – Perjalanan Spiritual Menuju Maghfirah Kesempurnaan
  • Cinta Tanpa Syarat
  • Amazing Journey
  • Tanaman Berkhasiat dalam Kuliner Nusantara
  • Warna-warni Batik Nusantara
  • Ensiklopedia Cagar Budaya Nusantara
  • Arsitektur Masjid Demak
  • Bawana Winasis Dieng – Budaya Tak Terkatakan

Masih ada sekira dua antologi yang sedang proses editing dan akan diterbitkan.
Doakan saja lancar yah…

Suka Duka Menulis Buku Antologi

Menurut saya menulis buku antologi bikin happy, jadi lebih banyak sukanya. Kalau pun ada duka, dimaklumi dan menjadi catatan saja.
Agar buku antologi dapat terbit dibutuhkan beberapa penulis untuk berkontribusi bersama menulis kemudian dibiayai bersama agar buku tersebut bisa terbit. Biasanya antara 15 hingga 40 kontributor.

Itu sebabnya yang menulis di buku antologi tidak disebut sebagai penulis buku, tetapi kontributor. Cara menulis nama di sampul buku ada yang ditulis semua nama kontributor, ada pula yang hanya satu orang yang dianggap ketuanya.

Apa saja suka dan duka menulit buku antologi? Kira-kira begini nih…

Suka

  • Menulis naskahnya cepat, karena rata-rata syaratnya 1000-1500 kata. Kalau ditulis di word, 12 karakter, 1.5 spasi, kira-kira 3-4 halaman A4
  • Menambah pertemanan karena bergabung dalam komunitas penulis atau bloger
  • Melancarkan menulis
  • Menambah wawasan dengan membaca tulisan/ artikel teman sebuku
  • Melatih kesabaran, siapa tahu bukunya batal terbit, karena kurangnya kontributor

Sebagai penulis yang pernah menerbitkan buku solo maupun buku kolaborasi, menulis buku antologi tidak bisa berharap dari royalty.
Royalty menjadi terlalu kecil bila dibagi ke kontributor yang jumlahnya lebih dari 15 kontributor.
Itu sebabnya hasil royalty biasanya didonasikan. Kontributor mendapatkan keuntungan dari selisih harga jual di pasaran dengan harga beli untuk kontributor.

Duka

  • Buku tidak jelas kapan terbit, karena kurangnya kontributor
  • Kontributor tidak komit dan tiba-tiba mengundurkan diri
  • Naskah hilang di tangan PJ (penanggungjawab) yang mengumpulkan naskah dari semua kontributor
  • Editor tidak kompeten
  • Kecewa dengan tulisan teman sebuku yang dirasa kurang layak
  • Hasil foto buram
  • Hasil cetak buku tidak sesuai harapan

Biasanya buku antologi diterbikan di penerbit indie (penerbit bebas) dan biayanya ditanggung bersama oleh para kontributor. Itu sebabnya harga jual buku menunggu semua naskah terkumpul, diperhitungkan biaya ilustrator, desain cover, fee editor, dan harga cetak.

Beberapa kali mendapatkan PJ maupun editor yang menurut saya kurang kompeten, menjadi catatan tersendiri. Saya jadi tahu penerbit A, editornya A1 dan seterusnya.
Editor tetap diperlukan untuk buku antologi, walaupun kesannya ringan dan gampang untuk menulisnya. Selain itu editor juga mengawal agar tulisan kontributor lebih berkualitas.

Kesimpulan

Sebetulnya saya nyaris tidak ingin lagi menulis buku antologi, berbekalkan pengalaman mendapatkan PJ yang kurang handal, sampai harus diganti oleh PJ lain.
Namanya juga penanggungjawab, harusnya sejak awal tidak menerima tanggungjawab kalau tidak sanggup.
Memang tidak mudah menerima tanggungjawab tersebut, apalagi tidak ada feenya.

Memasuki tahun 2021 ini, ternyata saya terlibat juga menulis lagi buku antologi karena waprian langsung dari teman di grup ngeblog. Seperti yang saya tuliskan di atas, ada dua antologi yang sedang tahap editing, genrenya tentang penulisan blog dan parenting.

Semoga saja hasilnya tidak mengecewakan baik isi maupun tampilan bukunya.

Semoga bermanfaat…

15 pemikiran pada “Menulis Buku Antologi, Langkah Menerbitkan Buku Bersama”

  1. Aku juga pernah ikut nulis buku antologi, dan setuju banget kak kalo buku antologi biasanya ga jelas kapan terbitnya. Nunggunya lama dan editornya kadang sulit banget dihubungin. Tapi syukurnya terbit semua yang aku ikut nulis, jadi kekecewaannya diobati pas liat bukunya udah di tangan.

    Balas
  2. Sebelum bikin ramai tulisan di blog pribadi, daku juga pernah menjadi kontributor menerbitkan antologi baik bareng penerbit indie maupun mayor, bahkan pernah jadi PJ nya juga haha, memang sesuatu rasanya

    Balas
  3. Wah. Sudah banyak juga ya hasil karya antologinya, kak. Yuni baru beberapa saja. Itu pun butuh perjuangan besar menyelesaikannya. Yah, kita semua tahu kalau menulis itu juga perlu jam terbang. Mungkin harus banyak berlatih lagi dan lagi. Semangat…

    Balas
  4. Aku juga udah pernah nih nulis antologi tapi di penerbit daring. Jadi ngga repot. Kalau mau edisi softcopy, ya tinggal beli dan unduh. Kalau mau hardcopy juga bisa. Nanti akan dicetak jg. Seru sih ya. Jadi kangen nulis keroyokan lagi kayak gini😁🙏

    Balas
  5. Banyak banget mba, buku antologinya. Keren….
    Aku baru tiga kali ikut menerbitkan antologi sama teman2, lumayan buat pengalaman karena dari dulu emang pengin punya buku cetak.

    Impian aku sih sebenarnya terbit mayor buku solo. Mudah2an someday ada jalan buat wujudin impian ini.

    Balas
  6. Banyak banget buku antologi yg udah diterbitkan, Mbak… Yg masih digarap semoga lancar dan sesuai harapan ya…
    Makasih sharingnya seputar suka duka mengerjakan buku antologi. Aku belum pernah ikutan.

    Balas
  7. Kereeenn banget kak Hani, antologinya udah banyak…. Enaknya kalau lewat komunitas gitu karena kita sharing interest bersama, jadi merumuskannya juga nggak alot.

    Saya ingin coba solo, tapi entahlah nggak punya audiens juga buat nunggu-nunggu buku saya, hahaha.

    Balas
  8. Wah lumayan banyak juga ya Bun buku antologinya. Hihihi saya baru ikutan satu, Alhamdulillah udah jadi.

    Sekarang lg nunggu buku kedua, jadi makin semangat jadi kontributor nih…

    Balas
  9. Semoga proses terbit buku antologi Bunda dan teman-teman bisa lancar ya, Bun.
    Saya juga punya pengalaman nulis buku antologi tapi gak jadi-jadi. Alasannya karena ada kontributor yang mundur, padahal bagian dia sangat penting di buku itu. Akhirnya sampai sekarang proses pembuatannya gak jalan, deh, hehehe

    Balas
  10. Sama bun, aku juga suka ikut nukis di antologi. Seru dan ada juga yang ga sesuai harapan. Terlepas dari semua itu, antologi bisa nambah kemampuan dan pengalaman menulis.

    Balas
  11. Wah mbak Hani, ternyat bgini ya proses menulis buku antologi itu. Aku doain semoga buku-buku antologi mba Hani bisa terbit dengan lancar dan sukses ya mba 🙂

    Balas
  12. Duka yang dituliskan di atas juga kurasakan saat mengikuti beberapa proyek antologi. Aku sendiri sempat hiatus nulis antologi. Baru tahun 2019 – 2020 kembali mengikuti beberapa proyek antologi. Tapi tahun ini pengennya fokus lahiran buku solo sih, meski masih maju mundur cantik. Masih takut ini dan itu. Minta doanya ya mbak, semoga impian menerbitkan buku solo tak sekadar mimpi.

    Balas
  13. Enaknya menulis buku antologi itu, selain menambah pertemanan, kita juga gak perlu repot mikirin cerita satu buku penuh. Karena udah ada cerita yang saling bertautan guna melengkapi tulisan kita. Dan itu seru loh menurutku.

    Jadi kita ada upaya untuk membuat cerita bersatu meski penulisnya beda-beda

    Balas

Tinggalkan komentar

DMCA.com Protection Status