09/08/2020

Menulis Sebagai Terapi Jiwa. Lakukan 3 Hal Ini

Banyak artikel maupun jurnal psikologi yang menjelaskan bahwa, seseorang bisa memanfaatkan kemampuan menulis sebagai terapi jiwa.  Menulis adalah suatu bentuk ketrampilan untuk mengubah apa yang ada dalam pikiran menjadi sesuatu yang bisa dibaca. Sehingga untuk menulis, seseorang harus menggunakan belahan otak kanan dan otak kiri. Otak kanan menjelaskan perasaannya tentang kesedihan, kegembiraan, masa lalu, masa depan, dan lain-lain. Sedangkan otak kiri, merangkai kata demi kata, membentuk kalimat, struktur kalimat, paragraf, hingga menjadi rangkaian tulisan, artikel, bahkan buku.

Menulis Sebagai Terapi Jiwa

Bagi seseorang yang esktrovert atau terbuka, mungkin bila ada uneg-uneg dalam hatinya lebih suka langsung diceritakan orang lain. Biasanya mencari kerabat, teman, atau pasangan untuk sekedar curhat.

Sedangkan bagi seorang introvert, tidak mudah menyampaikan perasaan dalam hati secara terbuka. Melalui menulis, seorang introvert seolah berbicara dengan dirinya sendiri, sehingga segala uneg-uneg dapat dengan ringan dikeluarkan.

Uneg-uneg apa sih yang harus dikeluarkan? Apa saja. Bisa kesedihan, kegembiraan, harapan, dan lain-lain. Pernah ada kisah, seorang ibu yang kehilangan putri kesayangannya karena sakit. Akibat kesedihan yang berlarut-larut, ibu tadi mengurung diri dalam kamar selama berhari-hari. Kemudian seorang kerabatnya  memberi saran untuk menuliskan perasaannya dalam buku harian. Ternyata pelan-pelan setiap proses selama mendampingi putrinya yang sakit ditulis dengan rinci, termasuk catatan pengobatan, justru membuat perasaanya menjadi lega.

Banyak pendapat bahwa menulis adalah sebuah katarsis, atau pelepasan ketegangan. Ada pula yang mengatakan bahwa dengan menulis dapat melepaskan ketegangan ke permukaan. Sedangkan dengan menulis, tentunya menulis yang baik-baik, seseorang mempunyai pikiran yang positif. Pikiran positif tentu saja membuat kita menjadi lebih sehat, bukan.

Lakukan 3 Hal Ini

Kita mulai belajar merangkai dan menuliskan kata dan kalimat sejak kelas satu SD, bahkan mungkin mulai Taman Kanak-kanak. Tetapi setelah sekian lama, dan setelah sekolah bertahun-tahun, apakah kita otomatis mahir menuliskan kalimat, lalu menjadi paragraph, sehingga membentuk cerita?

Ternyata tidak serta-merta semua orang mahir menulis. Banyak sebab yang melatarbelakangi sehingga seseorang tidak mahir menulis. Banyak yang menyalahkan bahwa selama sekolah, ternyata murid tidak dilatih menulis. Murid hanya dilatih menghafal dan menurut pada instruksi guru.

Lepas dari mahir tidak mahir, ternyata menulis perlu latihan.
Jadi, tunggu apa lagi?
Berlatihlah menulis. Tuliskan saja apa yang ada di dalam pikiran.
Tidak perlu takut salah. Kan, yang membaca kita sendiri. .

1. Menggali Ide Menulis

Bingung menentukan ide menulis? Teman-teman bisa memulainya dari kegiatan sehari-hari, misalnya beberapa hal berikut ini:

  • Tulis kegiatan seputar kantor. Misalnya menyusun SOP atau menulis cara membuat CV dan surat lamaran yang baik.
  • Tulis resep olahan memasak. Ibu-ibu bisa menuliskan resep praktis menyiapkan sarapan atau bekal ke sekolah dan ke kantor.
  • Perjalanan dari rumah ke kantor. Banyak peristiwa menarik yang terjadi di angkutan umum, bila diamati bisa ditulis menjadi cerita bersambung yang seru.
  • Proses tumbuhkembang anak-anak, baik dalam keadaan sehat maupun sakit.
  • Membuat catatan semacam logbook atau catatan harian. Misalnya dalam perjalanan wisata, menunggu pasangan atau anak kesayangan yang sedang sakit di rumah sakit.

See, banyak yang bisa kita tuliskan hanya dari satu kegiatan saja.

Tidak perlu risau, tatabahasa, ejaan yang disempurnakan, oh ya, sekarang namanya bukan EYD lagi, tetapi EBI. Singkatan dari Ejaan Bahasa Indonesia.

2. Menulis Manual

Kalau dulu masa kita remaja, mungkin ada yang seringkali menulis-nulis curhat atau curahan hati dalam buku kecil yang disebut diary. Isinya uneg-uneg kegalauan karena guru galak, gebetan yang cuek, dan lain-lain.
Pada waktu menulis diary pun tidak terlalu memperhatikan tata bahasa dan ejaan bukan? Apa yang kita rasakan setelah menulis curhat dan uneg-uneg dalam diary? Lega? Bisa tidur lagi?

Saya jadi teringat zaman masih SMP. Saya mempunyai diary kecil lucu dilengkapi dengan kunci. Kebetulan di rumah ada buku sejarah, salah satu babnya membuat ulasan tentang huruf paku, huruf dari zaman Sumeria. Ada padanannya dengan huruf Romawi yang kita pakai sehari-hari.

Maka diary saya tersebut ditulis dalam huruf paku tersebut. Rahasianya jadi dobel deh. Udah diarynya teh dikunci, tambah pakai huruf rahasia. Walaupun diary tersebut masih saya simpan, tentu saja saya sudah lupa. Jadi apa yang saya tulis dulu, saya tidak mengerti.

Sekarang pun teman-teman masih bisa melakukan kegiatan tersebut. Tentu saja tidak perlu seperti saya zaman dulu memakai kode tulisan rahasia. Nanti lupa kode, malah jadi setress tambahan. Dulu. mah, ababil (ABG labil)

3. Menulis Digital

Sekarang banyak pilihan media menulis tidak selalu dalam artian ditulis tangan, tetapi juga dalam bentuk digital. Tergantung kebiasaan dan favorit yang mana. Ada yang memilih di PC, laptop, atau HP. 

  • Blog

Blog adalah singkatan dari Web dan Log. Web dari webpage, yaitu halaman-halaman di website dan bisa diakses dari mana saja. Sedangkan Log, adalah catatan-catatan. Log biasa disusun oleh nakhoda dalam mengarungi samudra. Berupa catatan harian, karena pelaut berhari-hari ada di lautan. Teman-teman bisa juga menuliskan berbagai bentuk curahan hati dalam Blog. Jangan khawatir, blog pun bisa diatur private. Misalnya hanya kita sendiri yang baca.

Sekarang sudah umum blog merupakan sarana informasi yang cukup ampuh. Hampir semua informasi apa saja ditulis dalam berbagai blog. Mulai dari hal-hal yang ringan, dan sehari-hari, misalnya resep kue, hingga review restoran. Atau parenting dan cerita tumbuh-kembang anak-anak. Bahkan sharing inspiratif bisa diperoleh dari blog-blog tersebut.

Kenapa tidak mulai mencoba berbagi tips inspiratif untuk orang banyak? Berbahagia bukan, bila tulisan kita dibaca orang lain dan menginspirasi orang lain. Melihat orang lain senang membaca tulisan kita, adalah sebuah sarana terapi jiwa.

  • FB Notes

Banyak di antara kita memiliki akun Facebook. Selain share berbagai informasi, kita pun dapat menuliskan berbagai hal menarik di Facebook Notes. Bila segala sesuatu yang kita tulis tidak ingin dibaca orang lain, FB Notes pun bisa diatur pribadi.

  • Catatan di HP

Sekarang banyak sarana untuk menulis tersebut, tidak perlu ditulis tangan. Tidak perlu kertas dan alat tulis. Dalam gawai keluaran terakhir, banyak aplikasi yang berkaitan dengan sarana tulis menulis tersebut. Misalnya, Notes, Goggle Doc, Notepad, WPSOffice, dan lain-lain. Bahkan melalui smartphone ini pun bisa diunduh aplikasi platform untuk membuat blog.

Jadi tunggu apa lagi, catat dan keluarkan berbagai uneg-uneg dalam hati, agar menulis sebagai terapi jiwa yang efektif.

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

View all posts by hani →

44 thoughts on “Menulis Sebagai Terapi Jiwa. Lakukan 3 Hal Ini

  1. Wah bener banget apalagi Wanita itu tiap hari ngomongnya lebih banyak daripada Pria jadi harus tersalurkan lewat nulis yang bemanfaat ya Mba^^

  2. sudah kurasakan dan terbukti Bun . Tinggal sekarang serius belajar menulis dan konsiten makasih ya Bun.

  3. Saya pun menulis berawal dari menuliskan kegiatan sehari-hari bersama anak-anak. Menulis buat saya healing therapy. Thanks for sharing bu Hani 😊

  4. Terapi jiwa …hehe…ini istilah keren. Dengan menulis menurutku sama dengan curhat tentang apa saja. Efeknya hati kita serasa enteng stlh menulis. Setuju sih..sebab sejak SMA saya dh curhat pada buku harian..😊

  5. Seorang wanita introvert memang ampuh terapi jiwa dengan menulis. Saya setuju mba, terima kasih tipsnya. Paling sering nulis di notepad sekarang. Karena cari yg simpel dan pelupa bawa alat tulis.

  6. Saya pun tiap hari menulis. Buat saya menulis tak hanya terapi tapi obat overthinking 😂😂😂 .. Dulu karena kebanyakan mikir, malah sering gak jelas. Haha.. semenjak saya tuangkan salam tulisan (Bullet Journal). Jadi bisa lebih terarah.

  7. Meskipun nggak tiap hari posting, sebenarnya setiap hari aku juga menulis Mbak. Dan benar sekali, menulis itu untuk mencurahkan. Kebiasaan ini sudah menular ke Najwa. Biasanya, kalau Najwa lagiu marah dia langsung ambil buku terus menulis kekesalannya. Begitu pun sebaliknya, ia sangat sering memuji aku atau ayahnya melalui tulisan. Cara ini sangat baik untuk kami, karena terkadang curhat secara langsung malah kurang obyektif, hehe

    1. Lhah keren, Najwa udh biasa menulis. Saya belajar ngeblog dari Diani. Dulu nama blognya gadisantahberantah. Haha…
      Kalo yg cowo agak sulit. Menjelang ujian SD, latihan mengarang ama saya. Euleuh…

  8. Dulu saa suka menulis yang panjaaang sekali di Facebook. Saat saya masih malas ngeblog. Istilahnya hiatus ngeblog.
    Setelah saya ngeblog kembali, saya tidak melakukannya lagi. Mungkin banyak yang kangen, ya. Mungkin, sih. Semoga saja begitu. Yang jelas, jurnal online memang sangat menyenangkan bagi saya. Apapun platformnya.

  9. Memang ya mbak, apapun kegiatan kita bisa jadi bahan tulisan yang menarik, kalopun nggak berguna bagi orang lain ya paling tidak bisa buat reminder buat diri sendiri gitu..
    Tapi ya syukur-syukur kalo bisa berguna buat orang lain.

  10. Walaupun agak terlambat untuk menulis, mencoba untuk konsisten , dengan menulis kita juga bisa memberi manfaat secara tidak langsung kepada pembaca ya kak.menjadi jejak digital juga .

  11. Menulis memang butuh semangat, konsisten juga komunitas, supaya kemampuannya bisa terus terasah dan terus berkembang lebih baik lagi.

  12. Saya sudah jarang menulis manual. Paling kalau sedang ikut seminar atau kegiatan lain yang membuat saya malas bawa laptop. Usai seminar juga catatannya biasanya langsung hilang, karena sampai rumah tas dibongkar sama anak-anak

  13. Saya vakum ngeblog cukup lama. Akhirnya 2014 memutuskan kembali ke Planet Blogosphere lagi setelah kehilangan putra pertama saya yang meninggal dunia dalam kandungan pada usia 5 bulan. Menulis waktu itu stress healing untuk saya. Uneg-uneg semua keluar. Eh, alhamdulillah sambutan dari pembaca sangat positif dan menyemangati.

  14. Bener nih sy pnya teman penderita insomnia puluhan dokter didatangi cuma dapet resep obat tidur satu ketika dapet saran dari dokter yg terakhir untuk tiap hari menulis di kertas dengan tangan sampe ngantuk eh berhasil..ternyata bener menulis bisa untuk therapy juga ..

  15. Bener banget nih, apalagi kalo nulis macam diary gitu pasti bakal tenang banget soalnya keluh kesah dan segala macem hal yang sudah dilalui bakal tertuangkan dalam tulisan, kalo aku si selain nulis biasanya buat gambar juga.

  16. Baru beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah artikel di blog (entah siapa lupa) bahwa proses menulis itu lebih bermanfaat dari pada meditasi. Jadi kontroversi di kolom komennya, tapi saya termasuk orang yang percaya.

  17. Saya pribadi sudah suka menulis sejak SD, waktu itu saya hemat kalau ngomong, ya maklum terlahir sebagai introvert. Akhirnya karir kepenulisan saya semakin baik dan saya terpaksa ngomong di depan umum, dan alhamdulilah sekarang kemampuan public speaking saya baik. Jadi, selain untuk terapi jiwa yang efektif, menulis masih punya banyak manfaat lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *