13/08/2020

Menyikapi List of #50 Products, Industries, Service, etc that Killed by Millenials

Teman-teman narablog, beberapa hari ini ramai di twitter tentang sebuah riset yang mencantumkan List of #50 Products, Industries, Services, etc that Killed by Millenials. Namanya juga riset, ada pro-kontra tentu saja. Sebuah riset tergantung pada data primer yang dijaring, bukan.

sumber: Twitter @yuswohady

Kaum Millenials

Sebelum lanjut membahas, list yang membuat heboh tersebut, mari kita bahas dulu si Millenials ini.

Siapa sih mereka, kok jadi tertuduh yang membunuh sederetan produk, industri, dan pelayanan. Sejak ramai dibahas Revolusi Industri 4.0, millenialpun turut disebut-sebut.

Kalau menurut Wikipedia di masyarakat ada pengelompokkan generasi berdasarkan rentang usia. Begini pengelompokannya:

Nah, teman-teman sekarang ada di rentang usia berapa? Pengelompokan generasi tersebut berkaitan dengan kejadian yang bersamaan di dunia, atau disebut sinkronik. Coba cek tabel di atas, kenapa disebut Baby Boomer Generation, karena di tahun 1946-1964, adalah zaman sesudah Perang Dunia ke II.

Namanya juga sesudah perang, banyak yang menjadi korban, penduduk dunia berkurang banyak. Oleh sebab itu di rentang tahun tersebut terjadi ledakan kelahiran bayi. Lalu ada Generasi X (Gen X), atau disebut juga Baby Bust, lahir rentang tahun 1965-1979.

Selanjutnya adalah Xennials, yaitu generasi antara Gen X dan Gen Y. Boleh dibilang generasi Xennials (tahun 1975-1985) ini lahir di era segalanya masih analog, kemudian di masa dewasa mereka hidup di zaman yang serba digital.

Generasi Y inilah yang disebut generasi Millenial, mereka lahir di rentang tahun 1980-1994. Disusul generasi Z, lahir tahun 1995-2012, dan generasi yang berikutnya adalah generasi Alpha (gen Alpha) lahir tahun 2013-2025.

Setiap generasi memang rentangnya berbeda, ada yang 10 tahun hingga 30 tahun. Jadi sebetulnya gen Millenial itu sekarang sudah dewasa. Kalau lihat di tabel, paling muda usianya 24 tahun, paling tua sekitar 38 tahun. Di usia ini adalah usia produktif dan kemungkinan sedang berada di puncak karier. Mereka banyak menikmati kemudahan dengan makin luas dan cepatnya jaringan internet. Dengan adanya Internet of Things (IoT), segalanya dikendalikan melalui internet, maka banyak pekerjaan manusia digantikan oleh robot.

List of #50 Products, Industries, Service, etc that Killed by Millenials

Sekarang mari kita cek ke 50 produk, industri, dan jasa pelayanan yang konon dibunuh oleh kaum Millenial ini.

Ke 50 item tersebut adalah: waktu kerja “9 to 5”, tempat kerja, long-term employment, pakaian kerja formal, kepemilikan, dapur, brand, brand loyalty, iklan, televisi, grup lawak, agen perjalanan, album foto, jam tangan, kamera, kabel, sabun batang, game konsol, soda, call center, SMS, kartu kredit, cash, bir, mabuk, film porno, eye contact, percakapan, social skills, kebersamaan keluarga, mainan anak, radio, CD & music download, music rock, celebrity endorser, materialisme, golf, berlian, sepatu high heels, moge, industri perminyakan, menikah, department store, hijab jadul, sedotan, rokok kretek, perpustakaan, media cetak, blog, dan smartphone also kills everything.

Baca juga: Digitalisasi Desain antara Peluang dan Ancaman

12 Produk yang Paling Berpengaruh

Sebetulnya saya kurang sependapat bahwa gen Millenial yang paling salah sehingga ke 50 produk di atas mulai ditinggalkan. Bukan salah gen Millenial sehingga mereka lahir di era segalanya sudah serba komputerisasi. Perjalanan hingga tercipta berbagai kemudahan kan dilakukan oleh generasi sebelumnya. Enggak ujug-ujug ada. Time-tunnel aja adanya cuma di film fiksi, tuh.

Saya mencoba membahas 12 saja di antaranya, yang sebetulnya kait mengkait satu sama lain.

Lingkup Kerja

Nomor 1 hingga 4, waktu kerja “9 to 5”, tempat kerja, long-term employment, dan pakaian kerja formal.

Empat hal tersebut ada pada urutan atas yang ditinggalkan. Iyalah, kemana-mana macet, segalanya digital, komunikasi bisa melalui langit (internet). Ngapain ke kantor dan manteng dari jam 9 pagi hingga 5 sore. Otomatis, tidak perlu kantor khusus, dan tak perlu pakai pakaian rapi. Akhirnya cukup mengandalkan outsourcing saja. Tenaga kerja lepas, yang dihire dalam waktu pendek, per proyek.

Lingkup Keluarga

Menarik pada nomor 27 hingga 30, eye contact, percakapan, social skills, dan kebersamaan keluarga. Dan no 50, smartphone also kills everything

Saya cenderung loncat dulu langsung ke nomor 50. Nomor terakhir ini jelas-jelas menuliskan bahwa smartphone also kills everything. Coba perhatikan di tempat umum, semua orang memegang ponsel, khusu menatap layarnya, dan tak peduli dengan lingkungan sekitar. Akibatnya orang malas bercakap-cakap, tak perlu lagi menatap mata lawan bicara. Bahkan di antara anggota keluarga pun terjadi hal yang sama, tidak ada kebersamaan keluarga.

Orang-orang yang jarang berkomunikasi secara langsung dengan orang lain, akan canggung juga menghadapi orang banyak. Ini yang dinamakan social skills.

Lingkup Literasi

Tiga hal terakhir saya ingin menyoroti tentang perpustakaan, media cetak, dan blog.

Segala hal yang serba digital akhirnya membuat orang lebih memilih membaca e-book daripada buku cetak.

Apakah perpustakaan masih diperlukan? Kita harus melihatnya ke seluruh lapisan masyarakat juga. Ada orang-orang yang lebih memilih buku cetak, karena bisa dipegang dan tidak membuat mata lelah. Sepertinya itu berlaku untuk para Baby Boomers. Walaupun demikian, perpustakaan masih tetap diperlukan di daerah-daerah di mana jaringan internet kurang cepat. Kalau yang sering jalan-jalan keliling Indonesia akan tahu, bahwa di pelosok daerah, internet tidak secepat di kota besar.

Dunia blognya sendiri bagaimana? Sekarang memang ada media lain untuk tulis-menulis digital yaitu melalui Instagram, Instastories, Facebook Notes, dan Twitter. Klien pun lebih memilih influenzer yang followersnya ribuan. Jadi sebetulnya blog dianggap mati mungkin dari sisi marketing klien, sehingga sponsored post dianggap tidak efektif lagi.

Kalau saya yang hobby menulis dan ngeblog, ya tidak ada matinya lah. Ngeblog jalan terus, mau ada klien yang melirik atau tidak. Sudah beberapa kali kok, agensi email saya, sudah dibalas, ya tidak ada kelanjutannya. Hawong saya followersnya sedikit, dianggap tidak menguntungkan sepertinya.

(edisi curcol…)

Nah itulah List of #50 Products, Industries, Service, etc that Killed by Millenials. Bagaimana dengan teman-teman narablog? Setuju tidak bahwa blog menjadi salah satu yang ikut “mati”? Masih rajin ngeblog kan?

Mampir dulu ke sini ya: Disrupsi dalam Kehidupan Sehari-hari Emak-emak

Bandung, 27 Maret 2019

signature haniwidiatmoko

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

View all posts by hani →

15 thoughts on “Menyikapi List of #50 Products, Industries, Service, etc that Killed by Millenials

  1. Kalau lihat listnya aku masuk gen Y. Whaa aku sebagai orang awam sih yg apa2 sering googling, blog itu membantu banget. Jadi gak setuju ah kalau diblg blog itu padam gaungnya.

  2. Masih, donk.

    Nulis mah ya, nulis aja.

    Mau di blog, media online, fb, ig, twitter, dimanapun lah. Hahaha

    Kalo blog dianggap ‘mati’, menurut saya enggak, sih karena sekarang justru banyak blogger pemula artinya mereka malah baru memulai eksis di dunia blog. So, blog makin rame, donk, alih-alih ‘mati’

  3. Aku umur 28 bun hehe. Ngeblog agak mulai loyo nih bun akhir-akhir ini huhu padahal udah pada siap data dan info dll eehh tapi malesnyo buat nulis. Apa karna kecanduan smartphone yah bun. Bener smartphone killing everything. Perlu diperbaiki nih habitnya

  4. Aku sempat Mak Duer! Pas dikirimi Pak Bojo sama link-nya di Twitter. Tapi ya balik lagi. Ini hanya soalan trend. Balik lagi kita mau ngapain di blog. Kalau mau nulis ya nulis aja. Nah, kalau mau nyari duit ya mau gak mau musti muter otak cari cara yg lain. Tapi kalau udah suka nulis biasanya di media apapun ya oke kok. Ya misal nih ngeblognya nggak sekenceng sekarang. Gak ada salahnya ikutin trend dengan memaksimalkan socmed.
    Aku mah tipenya hayuk wae.

  5. Aku mah masih hayuk aja nulis Bun. Karena tetep aja masih ada pasarnya sendiri ehehe. Tapi mungkin bagi yg money oriented banget ya bisa jadi beralih ke media digital lain spt instastory dll. So, tetep nulis sampe kapanpun wkwkwk #bloggergariskeras

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *