09/08/2020
mind mapping_hand drawing

Dari Mind Map ke Daftar Isi

Sejak Buku Pintar Mind Map karya Tony Buzan terbit, maka hampir semua aktifitas memakai pola pemetaan pikiran sebagai brain storming.
Saya mengajarkannya pada mahasiswa, misalnya untuk memikirkan berbagai persoalan kota, maka pemetaan tiap-tiap mahasiswa bisa beragam.
Tiap orang memang mempunyai persepsi yang berbeda pada satu masalah.
Ajaibnya, Mind Map ternyata merupakan alat untuk membantu kita berpikir secara organisasional dengan sederhana.
Peta Pemikiran bisa diterapkan pada hal-hal serius misalnya target bisnis, tetapi bisa juga diterapkan pada hal-hal ringan sehari-hari, misalnya merencanakan liburan keluarga.
Ibaratnya membuat rute peta jalan yang akan memberi pandangan menyeluruh pokok masalah, pilihan-pilihan arah akan kemana, mencoba membayangkan jalan terobosan yang lain, dan menarik untuk dilihat karena penuh warna.

Langkah-langkah Membuat Mind Map

Ketika saya pertama kali akan menulis buku, maka langkah menyusun Mind Map juga saya lakukan.
Standar jumlah halaman buku populer rata-rata adalah 100-120 halaman ukuran A4 yang ditulis dalam jenis huruf Times News Roman, ukuran huruf 12 karakter.
Misalnya kita akan menulis buku dengan tema tertentu, maka Mind Map akan membantu membuka pikiran kita.
Buku pertama saya adalah tentang menikahkan anak.
Dari segi tema, ini merupakan tema parenting.
Ada beberapa hal yang bisa kita gali untuk menikahkan anak.
Yang pertama tentu saja, calonnya bukan.
Lalu, apa yang berkaitan calon tersebut?
Berpenghasilan atau tidak, wealthy or not.
Anaknya siapa, lulusan mana, good looking atau tidak.
Lalu saya buat oret-oretan Mind Mapnya seperti ini:

img002

Dari Mind Map tadi saya susun kerangka penulisan kemudian disusun Daftar Isinya secara garis besar seperti di bawah ini:

Kewajiban Orangtua Terhadap Anak
Waktu Yang Tepat Untuk Menikah
Pesan Tersirat Para Orangtua
Persiapan Pendahuluan
Perhelatan Yang Sesuai Untuk Pernikahanmu
Pilihan Tempat Tinggal
Menjalani Pernikahan Dengan Sukacita
Menyikapi Konflik Dengan Bijak
Agar Bahteramu Tidak Oleng

Tentu saja, membuat kerangka dan daftar isi tidak sekali jadi.
Bisa saja selalu ada revisi dan diedit.
Daftar isi tadi merupakan bab utamanya, selanjutnya ada sub-sub bab yang merupakan pengembangan dari bab utama.
Secara bersamaan, saya pun menyicil menulis naskahnya. Itupun saya tidak selalu menulisnya secara berurutan.
Seringkali bila mati gaya, alias writer block, saya menulisnya loncat ke bab lain yang waktu itu sedang mood.

Contoh Mind Map 

Buku ke dua, ke tiga dan seterusnya saya juga membuat Mind Map terlebih dahulu, menyusun kerangka penulisan, menguraikannya menjadi bab dan sub bab.
Berikut bebeberapa contoh Mind Map, yang buku-bukunya sudah terbit maupun sedang proses penulisan:

Cobalah membuat beberapa Peta Pemikiran, lebih asyik lagi bila memakai beberapa warna sehingga menarik. Bisa juga membuat beberapa alternatifnya untuk sebuah tema. Tidak ada ruginya, koq, membuat beberapa alternatif tersebut.

Selamat mencoba!

Diedit Bandung, 23 Maret 2020

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

View all posts by hani →

13 thoughts on “Dari Mind Map ke Daftar Isi

  1. aku jadi kepikiran bwt bikin buku kerangka outlinenya mungkin akan lbh baik jika mind mapping ya mba ditentuinnya. makasiinfonya mba

    1. Betul Teh Herva… dng mind mapping, kita bebas bikin ide cabang kemana-mana. Seperti pohon, tentukan dulu saja batangnya, misalnya 4 atau 5. Dari situ bercabang jadi 3 atau lebih. Seru deh…
      Selamat mencoba.

  2. Aku udah cukup lama nih denger ttg Mind Map ini, tp belum pernah nyoba. Habis baca artikel mbak, jadi pengen praktekin deh. Tfs ya mbak 🙂

  3. Wah wajib banget ini pakai mindmap, sekarang saya malah download applikasi Xmind buat bikin mindmap. Kadang waktu presentasi juga nyaman pake mindmap.

    1. Wah, saya kok terlewat tidak membalas komen ini. Maaf yaa…
      Iya sekarang juga ada aplikasinya. Tergantung sih lebih nyaman oret-oret atau pakai aplikasi.
      Terimakasih sudah mampir…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *