21/09/2020
museum ambarawa

Kenang-kenangan Wisata ke Museum Kereta Api, Ambarawa

Sebuah buku berjudul “Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe” saya terima dari penulisnya Olivier Johannes Raap, lengkap dengan tanda-tangannya. Buku tersebut saya peroleh dalam suatu acara kegiatan grup Historical Trips Bandung, sebuah komunitas jalan-jalan ke obyek bersejarah maupun jelajah alam. Buku setebal 270 halaman ini merupakan hasil riset literatur dan kunjungan lapangan berbagai stasiun kereta api yang ada di pulau Jawa. Buku bertema sejarah ini dilengkapi kumpulan foto maupun kartu pos kuno tentang perkereta-apian, berikut jalur dan jembatan kereta api yang dibangun akhir 1800-an dan awal 1900-an. Pada halaman 10 sampai dengan 12, menarik perhatian saya adalah foto kuno stasiun Ambarawa tahun 1906, yang sejak 1976 menjadi Museum Kereta Api, Ambarawa. Berawal dari buku ini, maka saya berniat bahwa pada suatu hari saya akan mengunjungi Ambarawa di Kabupaten Semarang.

Wisata Museum Kereta Api, Ambarawa

Artikel ini berjudul kenang-kenangan wisata ke Museum Kereta Api, Ambarawa, karena memang saya berkunjung ke sana sebelum pandemi.
Waktu itu ada acara seminar di kota Semarang, dan sesudahnya dilanjutkan dengan acara santai wisata ke Kabupaten Semarang. Jadi mohon maaf, foto-foto dalam artikel ini memang tidak memakai masker. Berbeda dengan ketentuan berwisata sejak pertengahan tahun 2020, yang harus mematuhi protokol kesehatan, memakai masker, jaga jarak, dan sering mencuci tangan di air mengalir.

Sejarah Stasiun Kereta Api, Ambarawa

Rombongan kami tiba di stasiun kereta api Ambarawa (selanjutnya saya tulis stasiun Ambarawa) pagi hari, karena rencananya kami juga akan naik kereta api uap yang terkenal itu.
Peserta dibatasi hanya 80 orang, dengan perhitungan setiap kereta kapasitas 40 orang. Oh ya, dalam bahasa perkereta-apian, untuk mengangkut orang namanya kereta, ya. Kalau gerbong itu untuk hewan ternak, misalnya sapi, dan lain-lain. Kami berjalan-jalan sejenak di stasiun Ambarawa lama ini, melihat-lihat dan membaca keterangan pada poster yang terpampang sepanjang selasar. Di pelataran berbagai lokomotif dan kereta kuno berderet-deret. Saya pun membayangkan seratusan tahun lalu ketika stasiun Ambarawa ini masih berfungsi.

Stasiun Ambarawa 1

Menurut buku “Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe”, Stasiun Ambarawa dulu disebut Stasiun Willem I karena lokasinya dekat dengan Benteng Willem I, sebuah benteng Belanda dibangun pada tahun 1834 dan dinamai sesuai dengan Raja di Belanda pada masa itu.
Aslinya stasiun ini bernama Hulpstation Willem I (Stasiun Sementara Ambarawa), yang dulunya semua kereta api Ambarawa-Semarang berhenti di Stasiun Kedungjati untuk langsir.
Sejak 1873 Ambarawa terhubung dengan jaringan kereta api dan sampai sekarang masih ada keterangan nama Willem I di dinding stasiun.

signage museum kereta api ambarawa
signage Museum Kereta Api Ambarawa

Stasiun Ambarawa 2

Stasiun Ambarawa yang baru dibangun mirip dengan Stasiun Kedungjati baru, sama-sama dibangun tahun 1907. Arsitektur dan penataannya setipe.
Menilik kronologinya, bangunan pertama berdiri pada periode 1873-1905, bangunan kedua pada 1905-1907. Bangunan ketiga dibangun 1907 bertahan hingga kini dan menjadi bagian dari Museum Kereta Api Ambarawa.

Bentuk peron Stasiun Ambarawa cukup luas dan diapit oleh jalur rel pada kedua sisinya. Peron beratapkan struktur dan konstruksi baja mirip hanggar buatan Belgia dan atapnya seng. Di tengah peron ada bangunan dengan dinding plester dan detail-detail arsitektur awal abad 20, berfungsi sebagai tempat penjualan karcis, kantor kepala stasiun, ruang tunggu, dan restoran.
Furnitur lama di restoran masih bisa terawat dengan baik, begitu pula loket karcis dan kusen dan pintu-jendela kayu yang masih apik.

peron museum kereta api ambarawa
peron Stasiun Ambarawa, sumber: pribadi
museum kereta api ambarawa
Museum Kereta Api Ambarawa, sumber: pribadi,
difoto sebelum pandemi

Wisata Museum Kereta Api Ambarawa di Era Adaptasi Kebiasaan Baru

Saya suka jelajah museum, kalau misalnya waktu itu tidak bersama rombongan maunya ya dibaca semua poster-posternya. Karena saat itu akan naik kereta wisata uap maka kami harus tepat waktu sesuai jadwal. Begitu selesai berwisata pun kami harus kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan.

Di era adaptasi kebiasaan baru, sejak 28 Juli 2020, Pemerintah Kabupaten Semarang dan PT Kereta Api Pariwisata (Kawisata) memang telah membuka kembali Museum Kereta Api Ambarawa. Protokol kesehatan dengan program Gerakan BISA yang dicanangkan oleh Kementrian Parekraf juga diterapkan Pemerintah Kabupaten Semarang di semua obyek wisata yang mulai dibuka, termasuk museum ini.

Jam operasional museum dibuka pukul 09:00-15:00 dan pembatasan jumlah pengunjung yang masuk sebanyak 50%. Disediakan 8 (delapan) titik washtafel untuk mencuci tangan dan sistem ticketing dengan QR-Code. Adapun kereta wisata tujuan Ambarawa-Tuntang hanya melayani pemesan paket wisata dengan jumlah penumpang 50%-nya dari kapasitas maksimum, artinya hanya 20 orang per kereta.

Jujur, saya ingin mengulang lagi perjalanan dan jalan-jalan ke Museum Kereta Api Ambarawa ini.

Semoga semua sehat ya, teman-teman …

Ayo Dolan nang Kabupaten Semarang

Sumber:
Raap, Olivier Johannes; 2017; Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe; Jakarta; KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
http://kabsemarangtourism.com/

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Lomba Blog
Wisata Kabupaten Semarang di Era Adaptasi Kebiasaan Baru

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

View all posts by hani →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *