30/11/2020
masalah kesehatan mental

Pulih, Perjalanan Bangkit dari Masalah Kesehatan Mental

Sebuah acara bincang-bincang secara daring diselenggarakan oleh komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis bersama dengan ruangpulih.com, tanggal 17 Oktober 2020, pukul 19:00-21:00 yang lalu. Acara ini diselenggarakan dalam rangka Hari Kesehatan Mental yang diperingati tiap tanggal 10 Oktober. Menariknya acara tersebut sekaligus launching buku “Pulih – Perjalanan Bangkit dari Masalah Kesehatan Mental”. Sebuah buku antologi yang diisi oleh 25 kontributor istimewa dengan tegar menuliskan kisah masing-masing tentang pulih dari masalah kesehatan mental.

undangan bincang pulih
Undangan Bincang Pulih

Apa itu Masalah Kesehatan Mental

Menurut beberapa artikel, kesehatan mental adalah kondisi seseorang sehat dari gangguan kecemasan berlebihan, depresi, setress, dan gangguan lain yang bersifat psikis. Masyarakat sering rancu, begitu pula saya, antara masalah kesehatan mental dan kesehatan mental. Ternyata dua hal tersebut merupakan faktor yang berbeda.
Masalah kesehatan mental adalah serangkaian kondisi yang berdampak pada kesehatan mental. Kondisi inilah yang terjadi pada individu dengan kadar dan tingkat yang berbeda, sehingga efeknya pun berbeda tiap orang. Apalagi bila kondisi yang menimbulkan masalah kesehatan mental tersebut merupakan rangkaian peristiwa sehingga mengganggu perasaan yang bersangkutan. Kondisi ini pun bisa ringan-sedang-berat tergantung seberapa jauh pengaruhnya terhadap keseharian yang bersangkutan. Misalnya bisa menimbulkan depresi, kecemasan berlebih, gangguan bipolar, dan lain-lain.

Sulitnya lagi, masalah kesehatan mental seringkali tak nampak ke orang lain karena berbagai sebab. Bisa saja penderitanya memendam sendiri masalahnya, tidak mau diungkapkan ke orang lain. Ini disebabkan masalah kesehatan mental adalah psikis, ada di dalam pikiran si sakit. Lebih rumit lagi, apabila masalah psikis ini tidak ditangani secara profesional, maka efeknya merembet ke kesehatan fisik yang bersangkutan.
Engga mau kan ya, apabila ada orang terdekat yang sakit secara fisik yang tak sembuh-sembuh ternyata penyebabnya masalah kesehatan mental.

Peran Komunitas Meringankan Gangguan Kesehatan Mental

Sesi bincang-bincang di malam Minggu tersebut cukup seru, didampingi oleh pakar-pakar yaitu dr. Maria Rini Indriarti, Sp.KJ, seorang dokter ahli jiwa dari RS Jiwa Daerah Surakarta. Ibu dokter yang amat lembut ini memaparkan bahwa peran komunitas sangat membantu untuk meringankan gangguan kesehatan mental. Itu sebabnya ada beberapa komunitas yang beliau asuh, antara lain Paguyuban Jiwa Sehat.

Kenapa kita perlu komunitas? Karena pada dasarnya manusia perlu orang lain. Apalagi kodrat perempuan sangatlah kompleks, mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui, membesarkan dan mengasuh anak. Belum lagi peran sebagai istri berpartner dengan pasangan. Atau peran perempuan secara mandiri di tengah masyarakat.
Menurut dr. Maria, kepedihan di masa anak-anak pun bisa terbawa ketika membentuk hubungan dengan orang lain, bahkan ke pendamping dalam hubungan pernikahan.
Rumit ya…
Itulah romantika kehidupan manusia, khususnya perempuan.

Peran komunitas meringankan masalah pada perempuan juga diamini oleh founder Ibu-ibu Doyan Nulis, Indari Mastuti. Beliau menyimak dari status-status perempuan di komunitas IIDN dan IIDB, perempuan sekarang butuh apa?
Dibarengi pula dengan kondisi pandemi CoViD-19 yang mendera, banyak kekerasan dalam rumah tangga terjadi pada perempuan, kemudian juga trauma yang mendera.
Mengungkapkan dalam bentuk status pun tak menyelesaikan masalah. Bahkan kemungkinan malah muncul masalah baru, berkaitan dengan UU ITE.
Diperlukan ruang-ruang konseling untuk mendampingi perempuan yang ada masalah kesehatan mental bahkan menuju depresi, dan nyaris bunuh diri.
Duuuh…amit-amit, semoga tidak terjadi.

Proses Penulisan Antologi “Pulih”

Jujur, awalnya saya hanya mengikuti sekilas-sekilas ketika awal ajakan ke teman-teman di grup IIDN untuk bergabung sebagai kontributor buku “Pulih” ini.
Saya tak menyadari bahwa masalah kesehatan mental ternyata berat banget bagi teman-teman yang dalam posisi bermasalah secara psikis.
Kok ya, Ketua IIDN, Widyanti Yuliandari bersama mbak Fuatuttaqwiyah, Kepala Divisi Buku IIDN, keidean membuat tema seperti ini.
Ternyata hal ini diperoleh dari ketajaman mengamati tulisan-tulisan di blog teman-teman. Tulisan adalah jendela jiwa.
Mungkin beberapa tulisan menuliskan suatu yang pahit.

Itu sebabnya untuk penulisan antologi “Pulih Perjalanan Bangkit dari Masalah Kesehatan Mental” harus didampingi oleh ahlinya.
Menulis ada sisi katarsis, yaitu pelepasan, pembaruan, dan melepaskan diri dari ketegangan.

Menurut mbak Wid, program antologi ini tidak berjalan mulus, seperti halnya penulisan antologi lainnya. Beberapa kontributor berguguran, karena belum sepenuhnya “pulih”. Apalagi bila muatan naskahnya kemungkinan membuka aib sendiri, sehingga berat untuk diungkapkan. Ditambah pula, naskah yang belum memenuhi kriteria sebuah tulisan yang baik. Pada akhirnya, ada 25 kontributor yang turut serta berbagi di antologi “Pulih” ini.

Mandala Self-Love, Media Mencintai Diri Sendiri dan PULIH

mandala
hasil mewarnai mandala

Beberapa saat sebelum sesi bincang-bincang tentang masalah kesehatan mental ini, ada edaran di grup WhatsApp untuk mewarnai lembar mandala.
Silakan diprint dan diwarnai sesuka hati, minimal 5 warna.
Ternyata mewarnai mandala ini adalah Art Therapy, sebuah cara metode healing yang disarankan oleh psikolog, untuk membantu kita sejenak rehat dari keruwetan sehari-hari.

Menurut mbak Intan Maria Halim, pendiri ruangpulih.com, Mandala Self-Love adalah cara untuk melatih mindfulness, belajar memisahkan masa lalu-kini-yang akan datang.
Melalui warna, seolah kita mengurangi burn-out dan mengisi energi kembali.
Kita jadi menyadari bahwa segala trauma masa lalu bukan kesalahan diri, tetapi tanggung-jawab kita sendirilah untuk bangkit dan pulih.

Paparan mbak Intan pula yang mengemukakan bahwa data dari WHO, satu dari empat orang di dunia mengalami gangguan mental, setidaknya satu kali dalam fase hidupnya. Data lain, sekitar 450 juta orang saat ini mengalami gangguan mental dan hampir 1 juta orang melakukan bunuh diri setiap tahunnya.
Sungguh suatu data yang bikin hati mencelos…

Pada sesi bincang-bincang, kami diminta untuk sharing dengan mengangkat mandala yang sudah kami warnai tersebut. Kemudian diminta sharing, apa yang dirasakan saat mewarnai tersebut. Ternyata ya, pilihan warna ada artinya, lho…
Bahkan irama dan pengulangan warna pada detail-detail mandala pun bisa menunjukkan karakter pribadinya.
Ada yang takut mulai mewarnai, ternyata ini ada sebabnya belum pulih berdamai dengan trauma masa kecil dan masih terbawa hingga sekarang.

Bagi teman-teman yang ingin konsultasi secara profesional bisa kok ke websitenya ruangpulih tersebut. Karena sekarang telah bergabung berbagai pakar, antara lain psikolog, EQ Coach, NLP, Hypnotherapist, psikiater, Access Consciousness & handwriting Analyst dan beberapa ahli pemulihan, pelatihan dan pengembangan diri lainnya.

Sekelumit Kisah dari “Pulih – Perjalanan Bangkit dari Masalah Kesehatan Mental”

Antologi “Pulih” konon hari ini masih pre-order yang kedua. Karena cetakan pertama telah habis dipesan. Engga seru kan kalau tidak ada info blurb atau sekelumit kisah dari antologi ini, yang konon mengharu-biru ini.

Mbak Wid, sempat membacakan beberapa paragraf dari sebuah tulisan salah seorang kontributor yang kehilangan suami selama-lamanya. Entah caranya membacakan, atau memang tulisannya ditulis dari jiwa terdalam, saya pun terharu mendengar rekamannya.
Kalimat-kalimat yang tertulis adalah tentang permintaan maaf, harapan, pujian, dorongan dari seorang suami kontributor yang sakit. Dilanjutkan dengan jawaban sang Istri, bahwa tak soal semuanya itu, asalkan suaminya sembuh.
Duh…gimana cobak? Saya menuliskannya saja sudah baper.
Padahal belum baca seluruh bukunya nih…

Kontributornya bisa pulih, karena dalam kekangenannya terhadap almarhum adalah menuliskan semua yang dirasakan. Bahkan beberapa kali seolah berkirim surat ke almarhum. Tak hanya itu, tulisannya memuat pula kisah-kisah keseharian, dan prestasi keempat putranya.

Menulis memang menjadi self healing.

Nah, teman-teman kepo tidak, akan semua kisah-kisah dari antologi “Pulih – Perjalanan Bangkit dari Masalah Kesehatan Mental” ini?

Masih bisa Pre Order ke mbak Fitri Rahma di website IIDN ya…

Data Buku :
Judul : Pulih
Tebal : 306 halaman
Ukuran : 14 x 20 cm
Terbit: Agustus 2020
ISBN : 978-623-7841-76-0

Harga normal : Rp 100.000,-
Harga PO : Rp 95.000,

Semoga dengan membaca antologi ini, teman-teman yang sedang ada masalah kesehatan mental dapat tercerahkan dan terbantu untuk bangkit dan pulih.

Aku adalah aku dan karena itu aku baik-baik saja

Virginia Satir

Sumber:
https://promkes.kemkes.go.id/pengertian-kesehatan-mental

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

View all posts by hani →

6 thoughts on “Pulih, Perjalanan Bangkit dari Masalah Kesehatan Mental

  1. Saya setuju banget, komunitas itu penting.
    Pada dasarnya manusia saling membutuhkan dan punya terikat
    Kalau sudah menyangkut masalah kesehatan mental dan kesehatan mental tidak lah mudah
    Apalagi soal masa lalu, hal yang sulit untuk dilupakan. Karena memori manusia mudah sekali mengenang hal pahit daripada kenangan manis

  2. Setidaknya dengan berkomunitas, kita cenderung nggak sungkan bercerita mengenai masalah yang jadi beban. Bukan tidak mungkin ada jalan keluar yang bisa dilakukan.

    Dengan begitu, beban terbagi dan tidak lagi menjadi kesulitan diri sendiri.

    Kadang beban ini yang menjadi momok hingga tanpa disadari ada yang salah dengan kesehatan mental kita. Menurut yuni sih begitu.

  3. Saya pernah mengalami masalah juga dulu. Salah satunya babyblues. Beruntung kala itu ada kawan yang support info banyak banget soal baby blues. Dukungan suami juga sangat membantu cepat pulih. Hanya beberapa minggu setelah menyadari “kesalahan” saya mulai bangkit, dan hidup lebih bahagia. Alhamdulillah…

  4. MashaAllah salut sama buketua mba Wid yang punya ide cerdas bikin buku ini. Sungguh, meski membuka luka akhirnya menjadi bahagia dan pulih. Btw aku sudah punya bukunya loh Bu Hani hehe. Dulu, kayaknya masa setelah melahirkan ku amat berat, ternyata masih banyak yang lebih pedih, dan mereka terus berusaha bangkit. Salut pada semua penulis, pendamping mba Intan dan dr Maria psikiater, Bu ketua, juga semua tim IIDN :)) Pokoknya harus punya bukunya ya 😉

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *