Sadar Diri Kamu Engga Cocok Buat Kami

  • oleh
tema 1m1c sadar diri

Tema 1Minggu1Cerita sesuai pilihan teman-teman, terbanyak memilih kata “Sadar”. Saya cling-nya sih, akan menuliskan tentang sadar diri. Walaupun seperti yang sudah-sudah, merupakan tantangan tersendiri untuk bisa menulis artikel sesuai tema. Kadang-kadang kita tuh berpikirnya terlalu rumit, padahal banyak di sekitar kita saja yang bisa diangkat sebagai tema. Berhubung hari ini merupakan batas waktu dari minggu tema, jadi ya, keidean deh akan menuliskan tentang sadar diri yang saya alami. Biasa deh, kalau kepepet malah lancar…

Apa itu Sadar Diri

Pertama saya cari dulu terminologi dari kata sadar diri tersebut, supaya kita mempunyai pemahaman yang sama.
Menurut KBBI, kata sadar diri adalah sebagai berikut:

kesadaran seseorang bahwa kebudayaan suku bangsanya berbeda dengan kebudayaan suku bangsa lain; (antropologi)

kesadaran seseorang akan nilai-nilai yg terdapat dalam diri manusia mengenai hukum yg ada; (antropologi)

Jadi sadar diri kaitannya dengan antropologi tentang kesadaran seseorang akan nilai-nilai.

Nilai-nilai ini sulit juga kalau mau dijelaskan secara terperinci, karena menurut saya, kaitannya erat dengan pribadi seseorang. Bisa jadi nilai-nilai juga ada pengaruh dari kepercayaan seseorang, agama, adat-budaya, bahkan ekonomi.
Nilai-nilai saya mungkin beda dengan nilai-nilai teman di kantor.
Bahkan antara pasangan pun perlu waktu bertahun-tahun untuk klik atau menyesuaikan nilai-nilai satu sama lain.

Berkaitan dengan sadar diri dan nilai-nilai tadi, maka saya akan membahasnya tentang pengalaman ketika saya ternyata tidak cocok dengan nilai-nilai yang ada.
Ketidakcocokan tersebut buat saya akan menjadi langkah, apakah berusaha bertahan atau tinggalkan saja, daripada setres.

Kapan Menyadari Nilai-nilai yang Dihadapi Tidak Cocok

Beberapa penjelasan menempatkan sadar diri itu sesudah tahu diri. Jadi awalnya tahu diri dulu, lalu kemudian sadar diri.

Misalnya nih, saya pergi ke toko, melihat barang dan harga yang dipajang, ternyata kemahalan. Awalnya saya menawar, lalu pelayan toko menjawab bahwa harga tidak bisa ditawar. Saya ya tahu diri untuk tidak ngeyel tetap menawar, karena saya pengen banget punya barang tadi. Lalu saya sadar diri, barang-barang di toko tersebut tidak cocok untuk saya.

Sering juga, ada cerita seorang pria naksir banget ke seorang gadis. Karena si Gadis tidak sreg dengan si Pria, maka ditolak, awalnya secara halus kan ya.
Bisa jadi, si Pria tak tahu diri, bahwa dia sebetulnya ditolak. Halah…
Baru deh setelah si Gadis terang-terangan bilang “tidak mau”, si Pria sadar diri dia tertolak.
Syedih…
Persoalannya, kapan waktu atau saat yang tepat kita merasakan bahwa sesuatu hal tidak cocok tersebut?

1 – Punya Standar Nilai

Contoh tentang nilai di atas, saya ambil tentang pengalaman berbelanja di toko dan tentang pilihan pasangan. Hal tadi cuma contoh sederhana saja. Banyak sih nilai-nilai lain, engga selalu tentang harga.
Nah, kalau saya mau beli sesuatu kan saya punya standar atau batasan harga. Kalau ternyata melebihi batasan saya, sadar diri lah, tidak akan memaksa untuk membeli.
Apalagi sampai hutang. No Way…

Begitu pula tentang cowok yang tertolak, kemungkinan besar ceweknya punya standar nilai tentang memilih pasangan. Sah saja sih menurut saya…
Ya kan, tidak memaksakan diri, ya udah deh, mau aja, adanya dia…

2 – Intuisi

Saya ada cerita nih.
Baru-baru ini kami punya rencana mendesain ulang rumah untuk dibelah menjadi dua rumah mandiri. Rencananya, dengan kondisi anak-anak sudah tidak tinggal bersama kami, separo rumah bisa disewakan sehingga ada pemasukan.

Kami memang menghire arsitek, yang sekalian bisa membangun, istilahnya design and built. Setelah sepakat dengan fee desain, mulailah arsitek mendesain ulang rumah saya.
Dalam bayangan saya, karena kami profesinya sama, arsitek akan menawarkan beberapa pilihan desain ke klien. Nanti klien memilih yang mana yang paling pas.
Ternyata arsitek ini hanya mengolah satu desain saja. Dalam kontrak yang telah ditandatangani, kalau saya ada keinginan mengubah desain, akan dikenakan fee tambahan.

Salah saya, selama ini saya belum pernah di posisi sebagai klien. Selama ini saya juga di posisi sebagai desainer. Di sinilah perbedaan nilai antara arsitek tersebut dan saya.

Hasil perhitungan rencana dan anggaran biaya yang dibuat ternyata dua kali lipat dari tabungan yang saya siapkan. Padahal sejak awal, saya sudah menyatakan bahwa, hanya punya dana X rupiah. Dalam bayangan saya, harusnya bisa dong arsiteknya mendesain dengan batasan harga yang saya tetapkan.
Ternyata tidak. Gimana maunya si arsitek saja euy.

Rencana awal arsiteknya juga akan membangun renovasi rumah, saya batalkan.
Untungnya kami belum ada kontrak lanjutan bahwa rumah akan dibangun oleh sang arsitek, walaupun adalah fee tambahan sebagai tanda batal.

Mengandalkan intuisi, saya sadar diri bahwa hubungan kerja seperti ini akan membuat saya tidak nyaman. Ya kalik, kan saya kliennya, harusnya desainer or arsitek kan menuruti maunya klien. Kok ini kebalik…
Maaf…curhat. Mudah-mudahan arsiteknya engga baca blog saya.

3 – Memutuskan

Berani memutuskan merupakan langkah sadar diri, bahwa ada nilai-nilai yang tidak pas dengan nilai-nilai yang kita punyai. Menurut saya sah saja, kita kan bebas merdeka memutuskan. Asal tidak melanggar hukum dan nilai agama sih, menurut saya.

Seperti contoh di atas, kami memutuskan membatalkan hubungan kerja, daripada saya setres dan takut sakit karena kondisi di bawah tekanan, merenovasi sesuai anggaran yang dibuat arsitek.
Saya sadar diri tidak punya dana sebanyak itu.
Lebih baik, membangunnya saya awasi sendiri, supaya biaya bisa lebih ditekan, karena kan materialnya bisa pilih-pilih sesuai kantong.

Ajaibnya, setelah memutuskan hubungan kerja, saya merasa lega dan plong.

Kesimpulan

Posisi sadar diri seringkali ditujukan untuk orang lain, bukan berarti orang tersebut tidak level atau gimana. Hubungan antar manusia memang tidak mudah, ada yang cocok ada yang tidak.
Bisa antar suami istri, orang tua anak, tetangga, rekan kerja, teman alumni, bahkan di grup WhatsApp. Mudah saja kan, kalau tidak cocok nilai pada sebuah grup WA, kita bisa leave group.
Dalam hal ini, pilihannya adalah mengharap orang lain sadar diri bila tidak cocok dengan kita. Atau kita yang memutuskan karena sadar diri kamu engga cocok buat kami.

Gitu deh. Sekian curhat hari ini…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *