SEO Moms Community, Tempat Belajar SEO Khas Perempuan

seo moms community, tempat belajar SEO khas perempuan

Saya mengenal SEO Moms Community dari seorang teman yang telah bergabung ketika SEO Moms I dibentuk. Waktu itu kami sama-sama mengerjakan job artikel yang harus mengikuti kaidah SEO.

SEO?
Ilmu saya yang masih minim tentang dunia blog hanya sekedar tahu bahwa SEO adalah singkatan dari Search Engine Optimization. Artinya blog atau website yang ditulis mengikuti kaidah SEO ini akan lebih mudah dicari oleh mesin pencari.
Penasaran kan saya.
Apalagi pada brief job yang saya ikuti tersebut ada iming-iming, bagi artikel yang ada di halaman muda mesin pencari akan mendapat bonus tambahan fee dari yang disepakati.
Tambah penasaran kan soal per-SEO-an ini.

Mencari dan Mendaftar SEO Moms

Saya pun mencari informasi di mana bisa mendaftar SEO Moms ini, yang katanya kami akan belajar SEO dari pakarnya secara free.
Pas banget ada pendaftaran melalui Facebook SEO Moms II di bulan April 2020.
Melalui link pendaftaran tersebut kami pun bergabung dalam grup WhatsApp.

Dari sini lah saya pelan-pelan mulai mengenal founder SEO Moms, yang sekarang lebih dikenal sebagai SEO Moms Community atau disingkat SEMOC.

Belajar bersama SEMOC tidak ada pilih kasih, mau siapa yang menulis di platform Blogger atau WordPress, mas Qbenk (begitulah kami menjuluki guru kami), tetap diberi arahan.
Supaya tidak bingung, ada jadwal kapan Blogger atau WordPress akan diberi arahan.
Kuncinya harus aktif saja sih kalau belajar bersama Seo Moms Community ini, karena kalau silent reader bisa-bisa diluluskan lebih cepat.
Ya kali, belum tahu apa-apa kok sudah lulus.

SEO Moms Community memang dibangun oleh mas Qbenk, seorang bloger Pontianak, khusus bagi moms maupun perempuan yang ingin belajar ngeblog yang benar, sebagai bentuk penghormatan pada almarhum ibundanya Ibu Mudiyah binti Sangaran.

Itu sebabnya cara memberi pengarahan cukup sabar tapi Moms wajib menyimak. Pola pengarahan seperti ini membuat ibu-ibu jadi mau utak-utik blognya, walaupun ada teman yang menurut pengakuannya, gemeteran waktu memerbaiki meta blognya.

SEO Moms Community, Tempat Bersama-sama Belajar SEO

Setelah bergabung dengan SEO Moms Community, saya pun mulai membiasakan diri menulis setiap artikel, dengan kaidah SEO. Bahkan artikel-artikel lama juga saya sisir dan pelajari kembali kata kuncinya.

Mau tahu kiat-kiat apa saja yang dibagi oleh mas Qbenk agar para Emak lebih percaya diri menghadapi SEO?

1 – Berani Memperbaiki Struktur Blog

Cara belajar SEO di sini adalah mengenali dulu blog masing-masing, platformnya, themenya, dan struktur penulisan blognya.
Banyak kan ya di antara ibu-ibu, emak-emak, yang malas menganalisis daleman blog sendiri.

Pertama-tama kami diminta mencek blog masing-masing tentang H1, H2, H3, dan seterusnya, sehingga blog lebih terstuktur. Jangan lupa untuk menempatkan meta deskripsi, dengan demikian blog dikenali di mesin pencari.

2 – Memahami SEO Onpage dan SEO Offpage

Agar memahami SEO onpage, mas Qbenk sering memberi latihan menulis artikel sesuai dengan keyword tertentu.
Saya pun baru tahu bahwa kita tuh kalau mau menulis artikel harus riset keyword (kata kunci) terlebih dahulu, trend kata kunci yang dicari, volume pencarian, dan seterusnya.
Termasuk memilih foto dan ilustrasi, jumlah gambar, dimensi, hingga keterangan gambar.

Sedangkan off page, kami diajarkan perlunya membangun back link, link building, link wheel, dan blog dummy untuk membangun jaringan blog sendiri.

Mas Qbenk menjelaskan materi dengan gaya yang santai, namun tetap jelas dan lengkap. Mbak Sari, sebagai co-founder, juga membantu dalam tanya jawab materi dan selalu mengingatkan tentang materi dan tugas-tugas yang diberikan.

3 – Berani Ikut Lomba SEO

Bersamaan dengan saya mulai belajar SEO di Seo Moms Community ini, mas Qbenk menawarkan para member untuk ikut lomba mini SEO, yaitu lomba Resep Masakan Rinaresep.com.

Dari cerita-cerita kan kalau kontes SEO, perempuan jarang yang mau ikut. Konon artikelnya sulit untuk tampil di mesin pencari, karena memang kriteria pemenang SEO adalah yang artikelnya ada di halaman pertama Google.

Saya pun baru tahu di sini tentang LSI (latent semantic indexing), selain kata kunci sebagai dasar penulisan artikel. Saya belum menang sih, tapi setelah membaca kembali artikel blog saya, saya jadi tahu, bahwa penulisan artikel SEO memang tidak bisa sembarangan.

Berikutnya memang mas Qbenk mendorong kami untuk berani ikut kontes-kontes SEO lainnya. Serunya, ada di antara member SEMOC yang memenangkan lomba SEO bergengsi yang hadiahnya jutaan.

Kesimpulan

Ngeblog yang awalnya merupakan media mengeluarkan uneg-uneg melalui tulisan dan berbagi informasi, ternyata semakin digeluti, semakin penasaran.
Banyak hal yang saya baru tahu yang justru membuat acara ngeblog lebih santai.
Misalnya, kita kan sering risau bila DA/ PA melorot, ternyata menurut mas Qbenk, tak perlu risau dengan angka-angka tersebut.

Artikel yang memerhatikan SEO, adalah artikel yang diupayakan agar tampil di halaman muda mesin pencari.
Nah, fokus saja gimana caranya, kan… Artikel yang ada di halaman muda mesin pencari tentunya lebih mudah mendapatkan pembaca.

Sekarang ini SEMOC dibagi-bagi menurut wilayah, kemudian mas Qbenk menyerahkan pada admin masing-masing wilayah untuk merekrut anggota baru dan mengadakan sesi sharing tentang SEO Basic.
Wilayah-wilayah yang ada sekarang ini Jogja, Surabaya, Madura, Sumatera, Sulawesi, Bali, Jawa Tengah, Jabodetabek-Jawa Barat.

Semoga bermanfaat…

6 tanggapan pada “SEO Moms Community, Tempat Belajar SEO Khas Perempuan”

  1. Kalau ngajarnya dan materi SEO-nya moms friendly jadi mudah dimengerti. Apalagi sudah tergabung dalam komunitas dengan teman seprofesi sehingga makin punya motivasi untuk memperbaiki blog sendiri. Keren nih SEMOC. Salut untuk founder dan member-nya!

  2. Aku bersyukur banget ketemu sama komunitas ini. Bikin emak gaptek kek aku jd lebih melek soal printilan blogging. Temen-temennya juga enakeun, mentornya nggak pelit ilmu. Pokoknya sukaak

  3. Saya sangat bersyukur ketemu komunitas SEO Moms ini, apalagi Bang Q sangat sabar mengajari kita yg makin tua makin tulalit. Eh kita? Saya saja kali, hehehe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *