Social e-Commerce, Cara Cerdas Meraih Peluang Produktif Masyarakat

social e-commerce pt komunitas cerdas indonesia

Menurut data statistik, Indonesia mengalami kemajuan pesat dalam menggunakan produk digital. Social e-Commerce adalah salah satu bentuk menggunakan kekuatan masyarakat dalam meningkatkan percepatan distribusi produk secara digital. Artinya masyarakat yang tadinya berbelanja memanfaatkan jaringan telekomunikasi dan internet, maka sekarang ini sudah menjadi satu kesatuan berbelanja pun melalui media sosial.

Perlu diketahui bahwa belanja e-Commerce Indonesia mencapai 600 trilyun rupiah di tahun 2020, meningkat pesat dibandingkan dengan 260 trilyun rupiah di tahun 2019.
Keadaan ini diprediksi akan semakin meningkat di tahun-tahun yang akan datang, mengingat ketergantungan kita dengan gadget. Banyak aktivitas kita yang tak lepas dari telepon pintar, mulai dari bekerja, sekolah, hiburan, hingga berbelanja.
Menurut data statistik, akibat pandemi, pengguna internet meningkat 12%. Diperkirakan di tahun 2020 mencapai 196 juta pengguna. Angka ini bisa-bisa melebihi jumlah penduduk Indonesia yang 272 juta, karena banyak pengguna ponsel yang memiliki 2 atau lebih ponsel dan akun digital.

Konsep Baru PT Komunitas Cerdas Indonesia

Melihat gelagat positif di Indonesia ini PT Komunitas Cerdas Indonesia, merupakan sebuah perusahaan yang menawarkan konsep baru bernama social e-commerce.
Social e-commerce merupakan pilihan investasi dan bisnis di masa yang akan datang melalui layanan media sosial hanya mengandalkan ponsel pintar kita.
Mendengar kata investasi dan bisnis, langsung cling-cling gitu ya…

Bagi teman-teman mungkin masih bingung ya antara social commerce dan social e-commerce.

Social commerce, atau perdagangan sosial adalah bagian dari perdagangan elektronik yang melibatkan media sosial dan media online yang mendukung interaksi sosial, dan kontribusi pengguna untuk membantu pembelian dan penjualan produk dan layanan secara online.
Lebih ringkasnya, perdagangan sosial adalah penggunaan jaringan sosial dalam konteks transaksi perdagangan elektronik.

Sedangkan social e-commerce, memanfaatkan jaringan elektronik dan internet untuk interaksi pembelian dan penjualan produk dan layanan secara online melalui platform tertentu.
Seperti kita ketahui kita tidak bisa melalukan transaksi melalui media sosial. Media sosial, misalnya Instagram, Facebook, maupun WhatsApp hanya merupakan media untuk berpromosi secara online.
Artinya, social e-commerce merupakan strategi baru menggabungkan antara kekuatan media sosial dan bisnis melalui digital.

Investasi dan Bisnis melalui Social e-Commerce

Penasaran ya dengan rencana PT Komunitas Cerdas Indonesia mau mengembangkan strategi bisnis seperti apa?
Sini saya bisikin…
Katanya nih, mau mengembangkan platform aplikasi yang bernama Viplus. Nantinya di Viplus juga ada produk suplemen kesehatan di e-commercenya.
Penasaran kan, sama juga saya penasaran, engga sabar lagi mau tahu produk kesehatannya.
Apalagi di masa pandemi dan di usia yang paruh baya gini, perlu deh suplemen kesehatan supaya tetap produktif.

Nah, strategi investasi dan bisnisnya berlandaskan pada:

strategi bisnis social e-commerce
strategi bisnis social e-commerce
  • Social Concept : Sebuah konsep baru yang menggabungkan kekuatan sosial masyarakat dengan industri digital big data
  • Social e-Commerce : Menggunakan kekuatan masyarakat dalam meningkatkan percepatan distribusi produk secara digital
  • Social Advertising : Menggunakan kekuatan masyarakat dalam melakukan percepatan dalam meningkatkan traffic digital advertising

Kesimpulan

Teman-teman, sudah banyak cerita ya di masa pandemi ini, pengaruhnya besar banget ke pelaku usaha dan bisnis. Banyak yang dirumahkan, bisnis macet, dan lain-lain.
Dengan meningkatnya pengguna internet dan ketergantungan kita pada media sosial merupakan titik terang mengoptimalkan kekuatan masyarakat untuk menggerakkan roda ekonomi.

Tak heran, banyak pelaku bisnis yang tadinya bergerak secara offline, mau tak mau harus juga melebarkan kemampuan digital untuk membuka juga peluang toko online. Kalau tidak pelaku bisnis tersebut akan terlibas ketinggalan zaman.

Walaupun pandemi masih berkecamuk di seluruh dunia, semoga melalui social e-commerce yang dicanangkan oleh PT Komunitas Cerdas Indonesia melalui aplikasi Viplus, kita bersama-sama cerdas mengubah perilaku konsumtif menjadi produktif.

Semoga bermanfaat!

12 tanggapan pada “Social e-Commerce, Cara Cerdas Meraih Peluang Produktif Masyarakat”

  1. Ini membuktikan ya, Mbak Hani, di setiap kesulitan, akan selalu ada jalan atau solusinya. Seperti ini ada pandemi yang imbasnya banyak toko offline tutup, karena ada pembatasan keluar rumah dan berinteraksi, namun menciptakan peluang baru dengan belanja online. Apalagi dukungan pembayaran online juga. kehadiran social e-commerce akan sangat membantu sektor ekonomi lagi.

  2. Benar kak, aku juga melihat banyak pebisnis sekarang beralih ke dunia online. Karena di situasi pandemi sekarang yang serba online menjadi pilihan banyak orang. Kalau ga bisa bersaing di dunia online ya bakal ketinggalan.

  3. Akan seperti apa ya konsep investasi yang nantinya ditawarkan? Lalu bagaimana ya cara bertransaksi di Viplus? Lalu siapa saja yang bisa berinvestasi.

    Mungkin jawabannya bisa didapat saat launching ya.

  4. Baik e-commerce atau layanan Online lainnya, emang sedang berkembang pesat ya kak. Apalagi ditengah pandemi seperti saat ini. Gak perlu keluar rumah, kebutuhan bisa terpenuhi. Dikit dikit ada kurir yang berteriak, “PAKET….” 😁

  5. Wah menarik ya. Baru denger soal sosial e commerce ini. Selama ini saya kira sosial e commerce itu tergantung produk dan jasanya yang bergerak dibidang sosial . Ternyata maksudnya menggabungkan media sosial dan e commerce ya

  6. social e-commerce, utamanya lewat WA emang biasanya lebih cepat closingnya, tinggal update status aja trus tungguin deh cust yang datang.
    jaman now itu kita harus jeli melihat peluang sih, karena semua sudah bisa dijangkau lewat media sosial 🙂

  7. E-commerce saat ini menjadi salah satu yang menjadi solusi dalam pengembangan usaha atau ketahanan ekonomi di saat pandemik yang mengetatkan jarak sosial. Maka, peluangnya sangat tinggi…

  8. Beradaptasi atau mati, mungkin itu ungkapan yang tepat untuk pelaku usaha masa kini. Kalau gamau beradaptasi untuk mulai berjualan secara online juga kemungkinan kita akan ketinggalan dengan pelaku usaha lain yang sudah mengonlinekan produknya. Secara di pandemi seperti ini sudah banyak banget toko yang pemesanannya melalui online.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *