Suatu Senin Ketika Semua Orang Sibuk

Biasanya orang tidak suka hari Senin. Mungkin karena kemarinnya hari Minggu, harinya libur dan bersantai. Kalau tidak musim pandemi, kita bisa jalan-jalan ke mana gitu. Tapi sejak bulan Maret virus Covid-19 kok tidak ada redanya sedikit pun. Engga bosan apa si virus, teh?
Saya saja sudah bosan, lho, membaca berita di Bandung, zona kuning, oren, hampir hijau, lalu sekarang malah merah pekat.
Makanya jadi tidak berani kemana-mana demi menjaga kesehatan bersama. Walaupun demikian semua orang sibuk di rumah karena darurat virus.

Suatu Senin yang Sibuk

Di rumah kami ada empat orang dewasa dan satu anak. Qadarullah, empat orang ini kok ya mencari nafkah sebagai pengajar di perguruan tinggi.
Senin ini keempatnya ada jadwal mengajar.
Bapak D, mengajar pukul 08:00, mata kuliah Seminar, mata kuliah penting semester 7, sebelum Tugas Akhir. Mengajar di program studi Desain Komunikasi Visual.

Ibu H, mengajar pukul 08:15, matakuliah Arsitektur Kontemporer, semester 3. Mengajar di program studi Arsitektur.

Di bagian lain dari rumah, bapak L, mengajar Studio Menggambar Dasar di program studi Interior.
Lalu ibu D, pada Senin yang sibuk ini ada sidang Tugas Akhir di program studi Desain Komunikasi Visual. Sebelumnya malah sudah mulai mengajar sejak pukul 06:30.
Pagi amat…
Iya, amat pagi yah…

Semua orang sibuk walaupun semua dilaksanakan secara daring. Pembelajaran jarak jauh seperti ini adalah, di rumah satu sama lain bisa mendengar apa yang dibahas oleh yang lain.

“Semua sudah dicontohkan. Templatenya sudah ada. Sekarang saya tanya, kenapa belum ada seorang pun yang mengumpulkan draf laporan akhir. Ingat ya, UAS (ujian akhir semester) Seminar adalah mengumpulkan laporan akhir. Kalau tidak, maka tidak bisa Tugas Akhir”
“Saya tanya sekali lagi, masalahnya dimana. Terserah kalau mata kuliah saya dianggap tidak penting”

Wah, ini sih, marah…

Bel Berbunyi di Senin yang Sibuk

Di tengah suasana semua sibuk mengajar begini, bel berbunyi.
Tidak ada yang membukakan pintu, karena semua sedang online.
Sampai akhirnya ada yang mengalah, ternyata tagihan rekening koran.
Akhirnya ada yang berlari-lari menyerahkan tagihan dan membayar.
Masih ya, langganan koran? Ya masih sih, engga tega memberhentikan. Walaupun beritanya kadang condong ke sana, sih.

Ibu H sudah selesai mengajar, saatnya lanjut urusan dapur. Menyiapkan menu makan siang. Bel lagi-lagi berbunyi. Sekarang ibu H yang cepat-cepat membukakan pintu, kalau tidak ting-tong-ting-tong akan berbunyi terus.
Kali ini tagihan listrik-air-telepon yang dilakukan oleh petugas dari RW. Kami memang tidak membayar melalui aplikasi atau ATM. Sudah bertahun-tahun dikoordinir oleh RW, tentu saja ada fee wira-wiri untuk pa Jaja, petugasnya.

Home visit di Senin yang Sibuk

Dari tadi membahas kesibukan orang dewasa. Ada anak kecil B, ngapain sepanjang cerita barusan.
Semua orang sibuk di Senin ini ada Mis R dari PAUD yang kunjungan ke rumah (home visit). Jadwalnya sudah tak bisa digeser karena Selasa, Mis R akan mengajar anak yang bersedia offline.
Mis R sambil home visit B juga mengajar online teman-teman sekelasnya. Jadi mengajarnya dari rumah kami.

Terdengarlah Mis R mulai mengajar sambil sesekali bernyanyi. Begitulah mengajar anak PAUD ramai.

“Head shoulder knees and toes…knees and toes”

Diimbuhi dengan suara Mang tahu bulat digoreng dadakan numpang lewat depan rumah.

“Tahuuu bulat digoreng dadakan. Lima ratusan…Gurih, gurih, enyoy…”

Penutup

Senin yang tidak disukai dan bikin sibuk perlahan berlalu mengikuti detak jam. Jadwal mengajar ada yang 2 jam, terputus istirahat, sambung lagi. Bocil juga hanya satu jam sekolah onlinenya. Masih sempat lah mengantar Mis R ke depan setelah selesai mengajar. Melewati ibu D yang masih menguji mahasiswa yang sidang Tugas Akhir sambil bahasa isyarat pamit.

Sekian dulu kisah Senin ketika semua orang sibuk. Entah Senin minggu depan…

Tinggalkan komentar

DMCA.com Protection Status