Sulitnya Berbagi Kisah Petualangan

  • oleh
sulitnya berbagi kisah petualangan

Ketika pilihan kata-kata tema diluncurkan di WhatsApp grup “1Minggu1Cerita”, saya memilih kata Petualangan. Padahal aslinya, saya jarang ikutan memilih, apalagi pemilih pertama di salah satu kata tema. Biasanya saya ikut saja gimana ramenya.

Padahal saya no idea tentang kisah petualangan atau berpetualang. Cuma merasa asyik saja kayaknya kalau saya bisa berpetualang gitu.

Soalnya saya anak rumahan, pakai banget. 

Zaman saya kecil, petualangan saya cuma main di got depan rumah. Dulu masa kecil saya pernah di Magelang. Jangan salah, gotnya bening. Engga kayak got di Jakarta yang hitam…

Paling jauh sepedaan ke lapangan di belakang rumah, nonton jatilan. Kalau di Jawa Barat sini semacam benjang.

Pindah ke Jakarta, kami bertempat tinggal di kompleks tentara di Sunter, Cempaka Putih. Lagi-lagi saya miskin petualangan.

Kemudian ayah saya ditugaskan ke luar negeri dan memboyong seluruh keluarga. Lebih-lebih lagi, saya engga pernah pergi sendirian. Paling banter saya naik bus kota ke rumah teman saya yang orang Korea. Waktu itu kami tinggal di Bonn. Rumah kami di Venusberg, sebuah wilayah di Bonn, sedangkan teman saya di wilayah lain.

Bagi saya terasa petualangan mungkin karena remaja, di negara asing, belum terlalu fasih berbahasa setempat, dan tak tahu rute bus.

Kembali ke Indonesia, zaman SMP saya belajar ke rumah teman dan menginap di sana. Ditegur, engga boleh sering-sering. Kata Mama saya, ngabisin beras di rumah teman…

Walaupun saya ‘berhasil’ kuliah ke Bandung, memisahkan diri dari orang tua. Ternyata saya engga berani berpetualang juga. Entah kenapa…

Mungkin masih terbawa kebiasaan masa kecil yang main ke tetangga bentar saja, sudah dipanggil pulang.

Mama saya engga suka kalau anak-anaknya ‘nonggo’, means main berlama-lama ke tetangga.

Jadi, kalau ditanya apa pengalaman petualangan saya? Rasanya minim…

Soalnya dalam bayangan saya, petualangan tuh macam Si Bolang, bocah petualang, sebuah film seri TV.

Kalau nonton film itu, saya iri banget lho.

Misalnya dikasih Tuhan waktu mundur, mau tuh saya jadi cowok terus berpetualang seperti si Bolang. Bisa jalan bareng sama teman-teman, buka baju, terus nyemplung aja ke kali, bebas.

Sedangkan kalau intip KBBI, petualang tuh orang yang suka mencari pengalaman yang sulit-sulit, berbahaya, dan melakukan perbuatan nekad.

Kalau pun petualang bisa identik dengan melakukan perjalanan jauh sendirian dan sedikit nekad.

Pernah juga sesudah menikah, tetapi dalam rangka urusan pekerjaan.

Pernah saya harus rapat dengan klien yang tempatnya di pulau Bintan, di Kepulauan Riau.

Pagi, saya naik pesawat Bandung-Jakarta (waktu itu masih ada pesawat dari Husein ke Cengkareng). Dari Cengkareng, sambung pesawat ke Batam, sambung naik ferry ke Bintan.

Rapat.

Siangnya pulang.

Nyebrang pulau lagi. Naik pesawat lagi Batam-Cengkareng. Lalu dari Cengkareng ke stasiun Gambir, untuk naik kereta malam ke Bandung. Sampai Bandung lewat tengah malam.

Capeknya puoool.

Besoknya saya izin engga ngantor.

Setelahnya beberapa kali pergi-pergi yang jauh-jauh ya karena kerjaan, seminar, workshop atau wisata bareng teman atau keluarga.

Entah ya, itu termasuk petualangan atau bukan?

Itulah sulitnya berbagi kisah petualangan, karena memang engga ada kisah yang seru.

Kalau kamu apa petualanganmu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *