12/08/2020

Tak Berhenti Belajar dengan Mengikuti Sertifikasi Penulis

Tema awal bulan Desember di grup blogger 1M1C (1 minggu 1 cerita) kali ini adalah “Berhenti”. Tadinya mati gaya, bingung mau menulis apa yang bertemakan kata berhenti. Mosok, menulis tentang tak berhenti mencintaimu. Halah, sepertinya kok lebay. Kebetulan sekali di akhir November saya mengikuti ujian sertifikasi penulis yang diadakan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi. Sepertinya cocok dengan tema, bahwa di usia berapa pun kita itu tak boleh berhenti belajar.

Penulis Buku Nonfiksi

Sebelum berkelana menjadi narablog, saya mengenal dunia tulis-menulis melalui Sekolah Perempuan yang melatih menulis buku di tahun 2014. Awalnya saya bertekad mau menjadi penulis buku, karena merencanakan pensiun dini dari ASN. Ternyata setelah dijalani, walaupun buku-buku saya terbit, tidak mudah juga menggantungkan hidup sebagai penulis buku. Di satu sisi, izin untuk pensiun dini juga ditolak oleh atasan saya. Ya akhirnya di sinilah saya, menjalani pekerjaan saya hingga pensiun, tetap menulis buku, dan malah lebih menyukai menulis blog.

Saya memang bisanya menulis tema nonfiksi, karena menurut saya kejadian sehari-hari yang mudah ditemui. Kalau buku fiksi, saya kurang bisa menghayal. Terlalu banyak pertimbangan baik-buruk, takut orang menduga-duga, jangan-jangan apa yang saya tulis, dibaca orang sebagai cerminan diri.

Keseharian saya sebagai pengajar juga lingkup penulisannya sekitar riset dan laporan, pasti-pastinya tentang nonfiksi. Hanya bedanya kalau menulis jurnal harus dilandasi dengan metode penelitian, mengumpulkan data, analisis dan kesimpulan. Sedangkan menulis nonfiksi, walaupun tak lepas dari riset juga, saya merasa lebih bebas menuliskan apa yang saya pikirkan.

Baca juga: Tips Langkah-langkah Menulis Buku Nonfiksi

Sertifikasi Penulis Buku Nonfiksi

Melalui sebuah komunitas Joeragan Artikel, saya mendapat informasi bahwa Lembaga Sertifikasi Profesi membuka kesempatan untuk ujian sertifikasi bagi penulis buku nonfiksi dan editor. LSP adalah lembaga yang mendapat lisensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk melaksanakan sertifikasi profesi.

Sejak tahun 2004 Pemerintah membentuk BNSP, sebuah lembaga independen yang dibentuk pemerintah untuk melaksanakan ketentuan Pasal 18 ayat (5) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Badan ini bekerja untuk menjamin mutu kompetensi dan pengakuan tenaga kerja pada seluruh sektor bidang profesi di Indonesia melalui proses sertifikasi kompetensi kerja bagi tenaga kerja, baik yang berasal dari lulusan pelatihan kerja maupun dari pengalaman kerja.

Misalnya sertifikasi untuk chef, fotografer, dan berbagai ketrampilan lain.

Selain itu, saya pun mendengar bahwa penerbit nantinya hanya mau bekerja sama dengan penulis-penulis yang telah mempunyai sertifikat penulis nonfiksi atau editor. Sekedar informasi, sertifikasi penulis hanya diterbitkan untuk penulis buku nonfiski, sedangkan buku fiksi belum ada.

Persiapan Berkas Sebelum Sertifikasi

Saya mendapat informasi untuk mendaftar ikut sertifikasi tersebut pada hari Senin, sedangkan batas akhir pendaftaran hari Rabu, dan ujiannya hari Sabtu. Lumayan gugup juga saya menyiapkan berkas-berkas, karena sudah lama saya tak mengurus pemberkasan untuk naik pangkat karena berbagai sebab.

Berkas-berkas yang harus disiapkan antara lain ijazah terakhir, 3 buah sertifikat pelatihan penulisan, curriculum vitae, 3 buah cover buku nonfiksi yang pernah ditulis, dan 3 buah pasfoto dengan latarbelakang merah.

Kami membentuk grup WhatsApp khusus untuk ini dan tentu saja ramai, karena informasinya waktu itu sepengggal-sepenggal.

Misalnya, penjelasan tentang sertifikasi pelatihan penulisan, harus diterbitkan 3 tahun terakhir. Untungnya pelatihan penulisan dari kampus masih diperbolehkan. Waktu itu saya pernah ikut pelatihan penulisan jurnal terindeks di kampus, dua tahun yang lalu. Kemudian pelatihan penulisan buku ajar dari sebuah komunitas.

Demikian pula dengan cover buku solo yang sudah terbit, ternyata harus terbitan tahun 2018 dan 2019. Sedangkan buku solo yang saya tulis diterbitkan terakhir di tahun 2016. Belakangan mendapat informasi bahwa buku antologi boleh juga disertakan sebagai buku yang pernah ditulis. Beberapa buku antologi saya ikut juga menulis kebetulan ada yang terbit tahun 2018 dan 2019.

Satu lagi, nih, pasfoto dengan latarbelakang merah. Saya kurang faham, pertimbangan pasfoto dengan latarbelakang merah ini.

Unggah Berkas

Semua berkas tersebut harus dipindai dan diunggah ke laman LSP PEP (Lembaga Sertifikasi Profesi Penulis dan Editor Profesinal) di https://sertifikasi.lsppenuliseditor.id/

Langkah-langkahnya sebagai berikut:

LSP PEP
  • Masuk ke laman LSP PEP
  • Klik Uji Sertifikasi, ada 4 skema, pilih salah satu yang diminati.
    1. Skema Sertifikasi Penulisan Buku Nonfiksi
    2. Skema Sertifikasi Penyuntingan Naskah
    3. Skema Sertifikasi Penyuntingan Akuisisi
    4. Skema Sertifikasi Penyuntingan Substantif
  • Saya memilih Skema Sertifikasi Penulisan Buku Nonfiksi. Download skema untuk mempelajari dan DAFTAR SKEMA, lalu ikuti langkah-langkahnya termasuk unggah semua berkas.
  • Pada pilihan sumber anggaran, ada pilihan APBN, APBD, biaya dari perusahaan, dan biaya mandiri.
skema sertifikasi

Biaya mandiri berkisar antara Rp. 1.200.000,- untuk sertifikasi penulis dan Rp 1.500.000,- untuk sertifikasi editor. Saya menyarankan bagi yang berminat mengikuti sertifikasi penulisan banyak mencari informasi terlebih dahulu, karena biaya ini kadang ada subsidi, kadang bebas biaya. Pada kesempatan ini saya mengikuti Program Pemagangan sehingga bebas biaya. Tetapi harus bisa menunjukkan Sertifikat Magang dari sebuah penerbit.

  • Isi semua langkah-langkah dari step 1, step 2, step 3, hingga step 4.
  • Bila semua sudah terisi benar akan ada notifikasi bahwa proses kita sukses. Sesudahnya tinggal menunggu email verifikasi dari panitia.
  • Email verifikasi berisi username dan password untuk login ke laman LSP PEP.
log in

Ujian Sertifikasi

Tanggal dan tempat ujian sertifikasi biasanya ada pilihan tempat dan tanggal di laman pada saat kita mengisi pendaftaran. Atau kontak langsung ke nomor ponsel yang tertera untuk selalu berkomunikasi. Melalui whatsapp grup juga bisa.

Ujian sertifikasinya sendiri ada dua, tergantung keterangan yang tampil setelah data kita diverifikasi. Ujian tersebut adalah:

  1. Uji Kompetensi
  2. Portofolio

Saya waktu itu ujiannya di Hotel 88 yang beralamat di jalan Kopo, Bandung. Menurut catatannya yang tertera setelah saya login sebagai peserta ujian sertifikasi, saya harus ikut Uji Kompetensi dan ada keterangan nama asesornya. Beberapa teman saya ada yang ikut ujiannya berupa Portofolio.

Apa bedanya Uji Kompetensi dan Portofolio

Peserta yang ikut Uji Kompetensi harus mengikuti ujian secara online di tempat ujiannya yang telah ditetapkan. Sebelum mulai ujian, peserta diminta menuju meja yang telah disiapkan dan ada keterangan nama asesor. Kemudian peserta diperkenalkan terlebih dahulu dengan para asesor.

Oleh sebab itu peserta harus membawa laptop dan kabel stop kontak. Kok, sampai membawa kabel segala. Waktu itu bersamaan dengan saya ada 90 peserta yang ikut ujian, tentu saja stop kontak di hotel terbatas. Gawat, kan, kalau batere laptop habis, lalu kita bingung untuk menambah daya batere.

Selain itu, bawa sendiri modem internet, bila meragukan kecepatan wifi di tempat ujian. Saya pun mengalami hal itu, karena semua orang konek ke wifi hotel, koneksi jadi melambat. Sehingga saya harus melakukan thetering dari ponsel. Setelah laptop terkoneksi, kita bisa mulai ujian, dengan log in ke halaman ujian.

Uji Kompetensi, ujiannya berupa soal pilihan ganda tentang penulisan. Ada sekitar 30 an soal dan harus dikerjakan 30 hingga 40 menit.

Ujian tahap selanjutnya yaitu membuat outline naskah, yang temanya kita pilih dari pilihan yang ada. Setelah outlinenya selesai, kita diminta membuat presentasi tentang outline naskah tadi. Outline naskah berupa word dan presentasi berupa powerpoint yang dikirim ke email asesor.

Sesudahnya ada ujian lisan.

Teman lain yang ikut portfolio tidak mengerjakan soal pilihan ganda dan membuat outline seperti saya. Tetapi mengikuti wawancara yang harus menjelaskan seluk-beluk penulisan bukunya. Alasan pemilihan genre, sasaran pembaca, dan banyak lagi.

Waktu itu sistem ujiannya paralel, seorang asesor menangani peserta antara 9 hingga 11 peserta, sedangkan waktunya dari pukul 10 hingga 14. Oleh sebab itu, ketika ada peserta yang sedang wawancara, peserta lain yang uji kompetensi mengerjakan soal pilihan ganda.

Peserta ujian portfolio juga harus mengerjakan penulisan, yaitu menyunting artikel dari sebuah portal media menjadi artikel dengan gaya bahasa populer.

Rekomendasi Asesor

Setelah ujian berakhir kita bisa cek lagi ke laman LSP PEP-nya, hasil ujian sertifikasi tersebut.

Hasil yang diperoleh adalah Rekomendasi Asesor: KOMPETEN.

Artinya saya direkomendasikan oleh asesor kompeten sebagai Penulis Nonfiksi. Tentu saja peserta yang sudah direkomendasikan tersebut masih harus menunggu piagam sertifikasi yang akan dikeluarkan oleh BNSP. Harapannya setelah saya memperoleh sertifikasi ini saya tidak berhenti untuk tetap menulis buku nonfiksi. Sepertinya harus mulai menulis outline, nih. Banyak yang bisa digali tentang tema nonfiksi berkaitan dengan bidang ajar.

Nah, teman-teman jangan pernah berhenti belajar, ya …

Bandung, 6 Desember 2019

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

View all posts by hani →

34 thoughts on “Tak Berhenti Belajar dengan Mengikuti Sertifikasi Penulis

  1. Huft, cita-cita memang nulis buku non fiksi. Tapi apalah dayaku ini. Belum menemukan feel kayaknya, hehehe.

    Ehh ngomong-ngomong ada sertifikasinya juga ya kak. Baru tau aku. Kirain guru aja yang ada hehehe.

    1. Iya nih…segala disertifikasikan. Yang protes ya ada juga sih. Aku lebih bisa menulis nonfiksi sih. Mas Bima kalo menggeluti IT bisa lho nulis nonfiksi, bikin manual ngeblog, cara mudah mengerti HTML…Hehe…

    1. Humm…jaminan ya engga juga. Jalan supaya dilirik penerbit kayaknya. Lagian, naskahnya kudu ditulis dulu juga. Makasih ya sudah mampir…

  2. 90 peserta banyak juga peminatnya ya mba hani…tapi goalnya setelah memiliki sertifikasi ini apa? Apa setiap penulis harus memiliki atau hanya sekdar portofolio saja… btw…terimakasih sudah menularkan semangat belajarnya

    1. Pas ujian pilihan ganda sih engga sulit, karena logika aja, kalau menurutku. Ujian lisannya yg deg²an. Hadeeeh…tahu sendiri udh lama kaan engga ujian. Mana kedengeran di kelompok lain asesornya galak. Kan aku serem. Untung asesorku baik…

  3. Waktu ujian sertifikasi sedang diadakan, ternyata banyak peserta Indonesia saling Follow sedang ujian saat acara saling follow sedang berlangsung sampai ada yang telat lapor selesai follow.
    Keren juga teman-teman penulis yang ikut ujian sertifikasi. ternyata tahapannya llumayan sulit juga. Saya belum terpikir untuk ikut ujian karena kurang fokus sebagai penulis sungguhan.
    Selamat, ya, Teh. Sukses untuk Teteh dan semoga kian produktif berkarya di jalur yang sesuai minat.

    1. Kalau kita pernah menulis buku dan tahu seluk beluk terbitnya buku, engga susah. Karena yg ditanya seputaran perbukuan. Cari info banyak² Mbak…siapa tahu dapet yg diskon atau free.

  4. BC tentang sertifikasi ini sudah wara wiri di beberapa WAG dalam beberapa bulan belakangan, dan diblog ini saya mendapatkan cerita lengkapnya. Makasih udah berbag, Mbak. Deg-deg-an juga mempersiapkan diri dengan waktu yang mepet

  5. Tahun lalu saya lihat info ini wara-wiri di linimasa Facebook dan dibagikan scr massif di grup telegram Pak Bambang Trim. Ada pro dan kontra jg, sejawat dosen ITB ada yg blg, gak perlu ada sertifikasi² di bidang kepenulisan seperti ini. Kl sy mana aja support sih selama itu positif dan bs menyemarakkan dunia literasi. Salam kenal dr Medan, semangat Mbak Hani

    1. Berhubung aku dpt program yg free, yaa ikut aja. Kalau bayar yg juta² yaa engga dulu. Nah, itu di antara penulis pun pro-kontra. Soalnya ada penulis yg mengadakan bimbingan berbayar u ikut sertifikasi ini. Amiiin…semoga bermanfaat sertifikasinya sih. Salam dari Bandung…

  6. aku baru tau masa ada sertifikasi penulis dan editor. maaafin ya aku newbie mba haha.
    dulu waktu SMP cita-cita jadi penulis, sampe punya 1 buku yang isinya cerita fiksi gitu tp kocak sih bahasa anak SMP 15 tahun yang lalu hahaha:D
    terima kasih semangat nya mba, jadi pengen juga ikut sertifikasi ini, tapi mungkin sekarang harus menyerap ilmu dan belajar banyakl dulu.

  7. Sumpah baru tahu ada sertifikasi untuk penulis nonfiksi. Dan kalau dipikir-pikir memang perlu juga. Bagaimana pun juga tema nonfiksi bukan sekedar hasil awang-awang penulis. Harus memiliki bobot dan fungsi yang tepat. Sehingga buku yang dihasilkan akan menjadi buku yang berguna bagi kebanyakan orang. Terima kasih atas informasinya

    1. Buku ajar, buku test, ensiklopedi, termasuk buku nonfiksi. Harapannya materi buku ajarnya jadi tidak asal²an. Makasih sudah mampir…

  8. Aku suka banget dengan kalimat “di usia berapa pun kita itu tak boleh berhenti belajar” karena menurutku pada dasarnya setiap hari juga ada aja yang dipelajari walaupun bukan ilmu pengetahuan hehehe. Kalau aku malah lebih suka menulis fiksi walau tak kunjung selesai dan sekarang malah lebih suka curhat di blog. hehehe. Peserta sertifikasinya banyak ya mbak ada 90 orang. Jadi antara yang uji kompetensi dan portofolio itu beda ya ujiannya. Yang uji kompetensi sudah seperti tes masuk kerja nih ada soal pilihan ganda, membuat outline dan wawancara. Selamat atas kelulusannya mba Hani, keren. Semoga dilancarkan niat untuk kembali menulis buku non-fiksi yang terkait dengan bidang ajarnya 🙂

    1. Di antara 90 peserta yg kategori wawancara, duh…bawa setumpuk buku² yg sudah terbit. Ada yg bawa buku ajar PAUD, menarik sih. Kan banyak gambar. Ada yg bawa buku tes CPNS, isinya soal² gitu. Itu semua masuk buku nonfiksi. Makasih ya doanya…

  9. Saya pernah ikut lomba menulis novel yg diselenggarakan salah satu penerbit besar di Jakarta 2012 lalu. Dari ratusan naskah, lulus 25 besar, lulus menjadi 10 besar, tapi mentok di sana karena yg diterbitkan hanya 5 naskah pertama. Sedih sekaligus bangga waktu itu. Akhirnya saya stop menulis novel yg panjang-panjang dan fokus kerja (nulis berita buat koran) kekeke. Setelah resign, lebih tertarik jadi Blogger dan nulis apa saja yg disukai. Pokoknya menulis terus biar gak cepat pikun.

    Saya salut semangatnya Teh Hani. Mentok karier sebagai dosen, tapi bisa terus melaju di bidang lain. Tetap semangat teh. Semoga sehat selalu.

    1. Aamiiin. Terimakasih doanya. Nah iya…ngeblog tuh melenakan deh. Apalagi monetize. Hehe…Semoga semangat lagi nulis buku. Terakhir tahun 2016 nih. Kan udah lama…

  10. Emang sewaktu pengajuan pensiun dini menginjak umur berapa kak Hani??
    Dan dalam hal tsb, apakah sudah menjadi suatu kewajiban yang harus di jalankan sampai akhir usia pensiun tiba.

  11. Inspiring banget mba Hani, kayanya kalo udh nulis 1 buku biasanya ketagihan ya mbak. Keren sih ternyata ada sertifikasinya. Dan setuju banget kalo mau jadi professional memang profesi apapun wajib punya sertifikasinya ya.

  12. Baru tahu kalau ada juga ujian sertifikasi bagi penulis, kirain selama ini hanya guru saja. Baca artikel ini jadi tambah wawasan saya. Terus berkarya mbak

  13. Alhamdulillah bisa ikut sertifikasi tanpa biaya mbak 🙂

    Dan yes. Saya setuju kalau penulis non fiksi itu memang harus ada sertifikasinya. Sehingga dalam menyitir referensi itu ya memang kompeten dan nggak cuma banyak-banyakan portofolio (yang belum tentu juga berkualitas).

    Kalau fiksi, menurut saya ya justru tidak perlu ada kompetensi karena imajinasi dan cara seseorang menulis fiksi itu ya bisa dibilang tanpa batas. Cukup portofolio aja yang diaplresiasi netizen.

  14. Wah ada sertifikasinya juga ya kak ku kira hanya sertifikasi manajemen risiko aja , memang belajar harus terus dilakukan ya kak dimanapun.

  15. Wah ada sertifikasinya juga ya kak ku kira hanya sertifikasi manajemen risiko aja , memang belajar harus terus dilakukan ya kak dimanapun.

  16. Wah kereeen. Aku dulu pengen ikutan juga mbak. Tapi takut gak bisa fokus. Lewat dah. Aku dulu juga mikir gitu. Pingin pensiun dini n dapat penghasilan dari nulis buku. Aku nulis novel. Tapi ya gitu daah. Tidak mudah. Akhirnya nyemplung di blog juga. Haha.. Good job mbak

  17. Ternyata ada juga sertifikasi untuk penulis ya. Penulis non fiksi memang harus memahami aturan-aturan tertentu. BNSP banyak banget ya, program sertifikasinya. Saya selama ini tahunya yang untuk perkantoran dan perindustrian saja. Kalau saya sih, lebih ingin menulis cerita fiksi saja.

  18. Alhamdulillah… pengalaman yang mirip dengan yang saya alami. Bedanya ada di pengerjaan soal-soal pilihan ganda . Kalau saya wawancara tentang kepenulisan, aktivitas dan karya-karya yang sudah dan akan diterbitkan. Semoga sertifikat segera terbit ya mbak?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *