Tamasya ke Negeri Sang Penulis

Ada sebuah negeri,
kuingin datangi.
Negeri sang Penulis,
perawi dan hadis.

Apa coba nama negerinya?
Siapa sih, Sang Penulis?

Pernah atau sering dengar kan nama Imam Bukhari, penulis atau pencatat hadis?
BUKHARA, adalah Kota kelahiran Imam Bukhari, Sang Penulis atau pencatat hadis shahih tersebut.
Beberapa negeri sudah pernah saya sambangi, termasuk Makkah Al Mukarommah, tanah haram.
Di Makkah ada rumah kelahiran Nabi yang sudah dihancurkan oleh Pemerintah Saudi, karena takut kaum Muslimin yang berhaji akan mengelus-elus dan dianggap musyrik. Begitu pula dengan Madinnah, sering disebut sebagai rumah Rasulullah, juga salah satu kota yang menjadi bagian dari ritual umroh maupun haji.

Bukhara, menjadi tempat yang suatu saat ingin saya kunjungi, selain Al Aqsha tentu saja. Tetapi karena keamanan, sepertinya Al Aqsha agak sulit untuk dikunjungi sekarang-sekarang ini.

Negeri Sang Penulis

Suatu saat sebagai umat Muslim inginlah saya ziarah ke tanah kelahirannya Imam Bukhari, sang penulis.
Ke makam Rasulullah saw sudah, walaupun tidak nyaman dan tidak bisa tenang bila ke Raudah ini.
Apalagi untuk perempuan jadwalnya terbatas dan dipilah menurut asal negara. Belum lagi ada asykar yang siap mengusir bila kita berlama-lama berdoa di Raudah.

Saya penasaran bila melihat program-program wisata yang ditawarkan, kenapa lebih terkenal wisata ke Eropa daripada ke Asia Tengah. Setelah berhaji atau umroh, orang lebih sering menyambung perjalanan ke Turki, sebelum akhirnya pulang ke Indonesia. Padahal menurut sumber yang saya baca, kota Bukhara merupakan kota tua dan situsnya dilindungi oleh UNESCO World Heritage.

Bukhara

Bukhara
Bukhara
Bukhara, sumber: detik.com
Bukhara
Bukhara
Menara Kalon di Bukhara, sumber: istock

Kota Bukhara terletak di negara Uzbekistan merupakan City Museum atau museum kota, karena di sana terdapat 140 monumen arsitektural yang dilindungi.
Kotanya kecil dan menurut data terakhir, populasi kotanya 247,644 jiwa (data tahun 2005).
Kebayang, kan sepinya kota tersebut. Belum juta-juta seperti kota Bandung, apalagi Jakarta.
Indahnya arsitektur Islam terpancar dari ratusan masjid dan madrasah yang merupakan ciri bangunan setempat.

Menurut Wikipedia, pada tahun 1220 M, tentara Mongol, di bawah pimpinan Jenghis Khan menaklukkan Bukhara dan membakar kota tersebut, sehingga Bukhara tidak pernah bangkit lagi sebagai pusat peradaban dan perdagangan.
Selanjutnya menurut sejarahnya, Bukhara pernah dikuasai oleh tentara Merah dari Rusia, yang membuat pemimpinnya melarikan diri ke Timur, akhirnya ke Afganistan.

Masa pemerintahan komunis Rusia termasuk periode buruk bagi perkembangan Islam di Bukhara. Komunis tidak segan melakukan pelanggaran bahkan kekerasan untuk memaksakan doktrinnya. Para muslimah Bukhara dipaksa melepas jilbab-jilbab mereka. Dua puluhan ribu masjid yang ada di Uzbek ditutup oleh Stalin. Bahkan sebagiannya dijadikan gudang. Hingga saat Uzbekistan merdeka, tak sampai seratus masjid yang tersisa.
Baru tahun 1991 negeri ini lepas dari Rusia dan berdiri sebagai negara Republik Uzbekistan.
Mungkin ini yang merupakan salah satu sebab Bukhara kurang terkenal dibanding Turki, karena ada masa-masa negara ini tertutup.

Tokoh-tokoh Penting

Bukhara merupakan tempat kelahiran dan menetapnya beberapa tokoh penting dunia, antara lain:

Imam Bukhari, yang bernama lengkap Abū ‘Abd Allāh Muḥammad ibn Ismā‘īl ibn Ibrāhīm ibn al-Mughīrah ibn Bardizbah al-Ju‘fī al-Bukhārī, lahir di Bukhara, Jumat, 19 July 810.
Beliau meninggal 1 September 870 belum genap usia 60 tahun, dan dimakamkan di Bukhara juga.
Selama meneliti dan menuliskan hadis-hadis riwayat, Imam Bukhari menghabiskan waktu selama 16.5 tahun untuk berkunjung ke para ahli agama untuk mendengarkan dan mencatat.

Avisena, atau Ibnu Sina, adalah filsuf dan tokoh kedokteran yang kepakarannya diakui juga oleh dokter-dokter di seluruh dunia.
Lalu ada, Abubakr Narshakhi (10th century), penulis sejarah Bukhara.
Masih banyak tokoh-tokoh penting lain pernah singgah dan tinggal di Bukhara.

Di wilayah Uzbekistan lainnya, daerah Khawarizm, dikenal seorang ilmuan matematika yang bernama Abu Abdullah Muḥammad bin Musa al-Khwarizmi. Atau dalam bahasa latin dikenal dengan Algoritmi.

Perjalanan Menuju Bukhara

Banyak jalan menuju Roma, tentu saja banyak jalan menuju Bukhara, yang dulunya merupakan kota yang dilalui jalur sutera.

Uzbekistan memegang peranan penting sebagai salah satu rute Jalur Sutera atau Silk Road, yang merupakan jalur terkenal rute perdagangan dari Eropa ke Asia di zaman kejayaan Islam. Pedagang dari Asia dan Persia melewati negara ini untuk sampai ke China.
Kalau zaman sekarang tentu saja tidak memakai unta dan melulu melalui jalan darat, tetapi memakai pesawat terbang.
Setelah google kesana-kemari, dan cek ke Tripadvisor atau Skyscanner ini kira-kira rute perjalanan menuju Bukhara.

peta uzbekistan
peta Uzbekhistan

Ibukota Uzbekistan adalah Tashkent

Perlu diketahui, bahwa Bukhara bukan ibukota Uzbekistan, tetapi kota penting yang ada di Uzbekistan. Ibukotanya bernama Tashkent.

Rute Penerbangan

Ada pilihan rute penerbangan yaitu dengan SIA dari Jakarta-Singapura, kemudian Uzbekhistan Airways jalur Singapura-Tashkent dilanjutkan dengan Tashkent-Bukhara.
Pilihan lain adalah dari Jakarta ke Tashkent. Tetapi kalau mengamati pilihan di Skyscanner, pilihan ini melalui beberapa transit.
Misalnya kalau naik Asiana Airlines, akan transit di Seoul dulu selama beberapa jam. Baru dilanjutkan ke Tashkent.

Kelihatannya saya perlu banyak tanya ke teman-teman yang sudah pernah tamasya, wisata religi ke Bukhara, dan menabung dulu tentu saja.
Kalau lihat harga tiket pergi-pulang, sih rata-rata 15 jutaan belum termasuk akomodasi dan konsumsi serta sedikit oleh-oleh.

Btw…tentunya harga tiket sudah mengalami perubahan ya. Apalagi sekarang masih pandemi, belum ada informasi melakukan perjalanan ke luar negeri. Tapi berita baiknya sih, ke Uzbekistan tak perlu mengajukan visa, alias bebas visa

Kesimpulan

Update tentang kota Bukhara, Uzbekistan ternyata terpilih menjadi Ibu Kota Kebudayaan Islam 2020 bersama Kairo di Mesir dan Bamako di Mali. Keputusan ini diambil dalam konferensi kementerian di bidang kebudayaan kesembilan, yang pesertanya merupakan negara anggota Organization of Islamic Cooperation (OIC).

Tak salah seperti kata seorang filsuf bernama George Gurjieff suatu saat pernah mengatakan: “Jika Anda benar-benar ingin menemukan rahasia-rahasia Islam, Anda akan menemukannya di Bukhara”

Tidak salah deh cita-cita saya untuk menyambangi Bukhara, negeri sang Penulis. Doakan saya ya, agar saya berkesempatan mengunjungi Bukhara, Negeri Sang Penulis.

Semoga bermanfaat.

Bandung, 31 Januari 2017

7 pemikiran pada “Tamasya ke Negeri Sang Penulis”

  1. Semoga bisa wisata ke Bukhara ya, Bun. Seru sepertinya, membayangkannya saja, saya sudah seneng banget. Apalagi kalau melihatnya langsung ya. Semoga saya juga bisa berkunjung ke negeri para penulis.

    Balas

Tinggalkan komentar

DMCA.com Protection Status