04/12/2020
tips jelajah candi gedongsongo

Tips Jelajah Candi Gedongsongo dan sekitarnya di Era Adaptasi Kebiasaan Baru

Teman-teman, di era New Normal ini, sudah kangen jalan-jalan pastinya, ya. Awal bulan Juli 2020 beberapa obyek wisata di Kabupaten Semarang mulai dibuka untuk dikunjungi para wisatawan dengan protokol kesehatan ketat. Seperti kita tahu di Kabupaten Semarang ada puluhan obyek wisata yang sebelum pandemi ramai dikunjungi wisatawan. Selain memang obyek wisatanya keren, mulai dari wisata alam, sejarah, kuliner yang endez, juga disertai dengan adanya atraksi di lokasi tersebut. Obyek-obyek wisata tersebut antara lain, Candi Gedongsongo, Bukit Cinta Rawa Pening, Saloka Theme Park, Gumuk Reco Sepakung, dan lain-lain. Tak heran, tak cukup hanya seharian keliling lokasi wisata, tetapi juga perlu menginap untuk lebih menghayati pesona alam di lereng gunung Ungaran ini. Nah, mau tahu tips jelajah Candi Gedongsongo dan sekitarnya?

Sejarah Candi Gedongsongo

Kompleks Candi Gedongsongo awalnya ditemukan oleh Joan Gideon Loten, seorang pejabat administrasi Belanda di tahun 1740. Kemudian di tahun 1804, Sir Thomas Raffles menemukan situs tujuh kelompok bangunan, sehingga kompleks tersebut dinamakan Gedong Pitoe. Van Braam membuat publikasi tentang temuan ini di tahun 1825, kemudian dilanjutkan dengan tulisan tentang kawasan wisata pada tahun 1865 oleh Hoopermans dan Friedrich. Situs ini tak hentinya diteliti, karena ternyata dijumpai sumber air panas yang dibangun oleh Knebel di tahun 1910 hingga 1910. Sedangkan pemerintah Belanda secara resmi melakukan penelitian dan pemugaran Candi Gedong I di tahun 1928 hingga 1929. Kemudian dilanjutkan dengan perbaikan Candi Gedong II pada tahun 1930-1932.

Asal mula situs dan latarbelakang tidak sepenuhnya diketahui. Dugaan sementara ini merupakan peninggalan wangsa Syailendra di abad ke-9 (tahun 927 M). Penduduk setempat sendiri menamakan kawasan ini Gedongsongo berasal dari kata gedong, berarti rumah atau bangunan. Sedangkan songo, berarti sembilan. Pemerintah Indonesia melalui SPSP ( sekarang Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala) mengambil alih perbaikan pada tahun 1977-1983 untuk renovasi Candi Gedong III, IV, dan V. Perbaikan-perbaikan selalu dilakukan sejak tahun 2009 hingga sekarang, sehingga kawasan Candi Gedongsongo secara keseluruhan semakin menarik.

Renovasi Struktur Candi

Indonesia memang kaya akan obyek arsitektural. Tersebar di seluruh Indonesia berbagai artefak warisan sejarah budaya mulai dari peninggalan Hindu, Buddha, sentuhan gaya arsitektur Tiongkok, Mughal, arsitektur tradisional, Hindia-Belanda, hingga kontemporer.

Bila kita amati struktur bentuk candi secara umum, dapat ditilik terdiri dari bagian kaki, tubuh, dan atap. Detail bagian kaki candi dapat dikenali melalui profilnya yang terdiri dari sisi genta dan pelipit lurus. Pada bagian luar tubuh candi terdapat relung-relung yang kemungkinan dahulu berisi arca. Sayangnya, sebagian besar ruang-ruang ini kosong, begitu pula bilik-bilik ruang dalam yang diduga dulunya berisi lingga-yoni. Relung bagian luar berhias motif flora atau kadang kepala Kala, bentuk raksasa yang sering kita lihat pada candi Hindu.

Atap candi bertingkat tiga, ada yang berhias ada yang polos. Sedangkan denah candi hampir seluruhnya berbentuk bujur sangkar, walaupun ada pula yang berbentuk persegi panjang. Dimensi candi bervariasi, lebar antara 4.5 – 9.5 meter, panjang antara 4.8 – 9 meter, dan tinggi candi antara 3 – 8.9 meter.

Wisata Candi Gedongsongo

Sejak kompleks Candi Gedongsongo direnovasi, maka pelataran candi lebih asri untuk dijelajahi. Wisatawan bisa menikmati keindahan pemandangan alam di sekitar kawasan di lereng gunung Ungaran, pada ketinggian antara 1200-1400 m dpl, bersuhu 19-270 C.

Lokasi tepatnya kompleks Candi Gedongsongo terletak di desa Darum, Kelurahan Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, dengan koordinat pada koordinat 110º20’27’’ BT dan 07º14’3’’ LS. Letak candi-candi yang telah dipugar tersebut tersebar di pelataran bukit yang saling berseberangan, dengan struktur bentang alamnya berundak-undak, seluas ± 177.240 m2.

Ada dugaan tata letak candi yang tersebar dan ditempat yang bertahap semakin tinggi, tempat ini merupakan tempat ritual keagamaan. Umumnya masyarakat adat setempat percaya dengan kekuatan alam dan teliti membaca tanda-tanda alam, bahwa tempat yang tinggi atau gunung merupakan tempat yang sakral. Hal ini juga saya jumpai waktu melakukan perjalanan ke Kampung Adat Bena di Flores, yang terletak di kaki gunung Inerie.

Jelajah Kawasan Candi Gedongsongo

Candi I

Untuk jelajah kawasan Candi Gedongsongo, wisatawan pertama menuju kawasan Candi Gedong I yang melalui gapura yang dibangun mirip candi di area masuk dan membayar tiket masuk. Di area masuk ini ada tempat pentas yang bersebelahan dengan komplek Candi Gedong I.

jelajah candi gedongsongo1
Candi Gedong I, sumber: cagarbudaya.kemdikbud.go.id

Candi II

Kawasan Candi Gedongsongo II terletak sekitar 500 meter dari Candi I dengan pelataran yang posisinya lebih tinggi daripada Candi I. Bentuk Candi dihiasi dengan kepala Kalamakara di pintu masuk. Candinya sendiri seolah berdiri di atas undakan seluas 2.2 m2, dan tinggi 1 meter. Untuk mencapai Candi II, wisatawan bisa berjalan kaki atau naik kuda dengan jalur yang dibedakan.

Candi II
Candi II, sumber: cagarbudaya.kemdikbud.go.id
Candi III
Candi III, sumber: cagarbudaya.kemdikbud.go.id

Candi III

Di foto wisata tips jelajah Candi Gedongsongo, kawasan Candi III merupakan area yang terkenal. Candi III terdiri dari 3 buah candi, dua diantaranya mirip dengan dimensi yang agak berbeda. Ada beberapa patung-patung juga di sana, yang sering ada di candi-candi Hindu, misalnya Durga, Ganesa, pengawal Dewa Siwa Nandiswara dan Mahakala.

Pemandian Air Panas dan Uap Panas

Jelajah wisata Candi Gedongsongo dapat kalian lanjutkan ke pemandian air panas, yang berasal dari sumber air panas di lereng Gunung Kendalisodo, anak Gunung Ungaran. Di sini terdapat kolam rendam, kamar mandi air panas, serta fasilitas penunjang lainnya. Kalau tidak ingin berendam, bisa juga kalian foto-foto dengan latar belakang uap belerang, ciri khas sumber air panas di pegunungan.

pemandian air panas jelajah gedongsongo
Pemandian Air Panas, sumber: @pesona_kabsemarang
jelajah candi gedongsongo
Jalur Jelajah Jalan Setapak

Candi IV dan Candi V

Sebetulnya Candi IV dan V bisa terlihat dari lokasi Candi III, karena terletak di pelataran bukit yang berseberangan dengan pelataran Candi III. Untuk mencapai lokasi Candi IVdan V, harus menuruni lembah, kemudian naik lagi menapaki jalan menuju area yang dituju.

Candi IV
Candi IV, sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id

Dari pelataran Candi V, kita bisa kembali ke lokasi pintu gerbang melalui rute yang berbeda. Menurut catatan waktu di Google Map, teman-teman bisa mencek durasi perjalanan menapaki seluruh area percandian tersebut. Hanya saja, karena jalan setapaknya turun naik, harus siap dengan stamina yang baik dan cukup membawa air minum.

Walaupun kawasan ini bernama Candi Gedongsongo, memang candi-candinya tidak sampai sembilan, karena candi-candi yang lain berupa reruntuhan dan tidak dibuka untuk wisatawan.

ilustrasi-candi-gedongsongo_optimized
Ilustrasi Kawasan Gedongsongo, sumber: merbabu.com/candi/

Jelajah Wisata Sekitar Gedongsongo

Teman-teman, tak ingin menyianyiakan waktu kan ya. Mumpung sudah sampai Candi Gedongsongo, ya sekalian ikuti tips jelajah Candi Gedongsongo dan sekitarnya. Btw, ada apa saja, sih, di sekitar kompleks percandian ini?

1 – Ayana Gedongsono

Lokasinya masih satu kawasan dengan Percandian Gedongsongo dan terkenal sebagai wisata Instagram, karena umumnya wisatawan mengabadikan momen pada spot-spot yang instagramable.

2 – Vanaprastha Gedongsongo Park

Vanaprastha Gedongsongo Park ini juga berada di area percandian Gedongsongo, merupakan kawasan hutan pinus yang dikelola oleh Perhutani. Di area ini dilengkapi dengan villa berkonstruksi kayu yang asri, camping ground, hutan pinus, playground untuk anak-anak, gazebo, dan spot foto instagramable. 

3 – Wisata Taman Bunga Celosia

Bagi pecinta tanaman hias, Taman Bunga Celosia merupakan tempat tujuan untuk berburu tanaman hias. Karena animo masyarakat yang antusias, Taman Bunga Celosia dilengkapi dengan fasilitas rekreasi berupa landmark dari berbagai negara, seperti replika Menara Eiffel, Patung Merlion, Kincir Angin, dan lain sebagainya.

4 – Curug 7 Bidadari

Curug atau Air Terjun 7 Bidadari juga berada di kawasan Gunung Ungaran, berjarak sekitar 7 km dari komplek percandian Gedungsongo. Dinamakan Curug 7 Bidadari karena tempat ini mempunyai tiga tingkatan dan tujuh air terjun yang berbeda ukuran ketinggian maupun lokasi. Di Curug 7 Bidadari ini terdapat berbagai fasilitas seperti penginapan, meeting room, gazebo, toilet umum, dan lain-lain.

5 – Wisata Sunrise Hill

Gedongsongo Sunrise Hill Gedongsongo merupakan kawasan wisata yang terletak di jalan Candi Gedongsongo, Tlogosari, Banyukuning, Bandungan, Kabupaten Semarang. Berbagai wahana rekreasi bisa dinikmati di sini, seperti: Kampung Horor, Studio Foto Pakaian Adat, Playground, spot-spot foto, dan restoran yang menyajikan menu masakan Jawa.

Berikut video protokol kesehatan di tempat wisata di Kabupaten Semarang di era adaptasi kebiasaan baru:

Tips Jelajah Candi Gedongsongo dan sekitarnya

Teman-teman, berwisata di era adaptasi kebiasaan baru seperti sekarang ini perlu tindak-tanduk yang berbeda dibanding sebelum adanya pandemi. Tentunya kalian tak ingin sudah jauh-jauh ke sana, malah zonk, tidak bisa berwisata dengan happy. Berikut tips-tips untuk jelajah Candi Gedongsong dan sekitarnya:

1 – Itinerary Perjalanan

Untuk tiba di Kawasan Candi Gedongsongo kalian harus melewati kota kecamatan Bandungan yang cukup ramai. Pastikan kalian berangkat dari kota asal terdekat pagi hari, supaya tidak kesiangan sampai ke area wisata.

Seperti halnya kawasan wisata di area pegunungan, tengah hari sering turun hujan dan berkabut, sehingga kurang nyaman dijelajahi pada sore hari. Untuk menjelajahi pelataran Candi Gedongsongo dari Candi I hingga Candi V perlu stamina bagus, karena jelajahnya turun-naik mengikuti kontur lembah. Perhatikan waktu berwisata. Kalau dirasa tidak cukup waktu, kalian bisa menyewa naik kuda untuk naik hingga pelataran paling atas, dengan tarif antara Rp 20.000,- hingga Rp.50.000,-.

peta semarang-candi gedongsongo
perjalanan Semarang - Candi Gedongsongo

Untuk menuju Candi Gedong Songo dengan kendaraan umum:

  • Dari Terminal kota Semarang naik bus kecil jurusan bandungan / candi gedong songo.
  • Dari Yogyakarta naik bus jurusan Semarang turun di kota Ambarawa. Naik mobil angkot ke Bandungan atau Candi gedong Songo.
  • Dari Solo naik bus jurusan Solo – Semarang turun di Terminal Bawen. Naik Angkot/bus ke Ambarawa. Naik angkot ke Bandungan atau Candi gedong Songo.

2 – Moda Transportasi

Ada pilihan moda transportasi untuk jelajah Candi Gedongsongo dan sekitarnya, dengan kendaraan umum, menyewa kendaraan travel, mobil pribadi, maupun motor. Tentunya di era New Normal ini, kalian harus pilih-pilih moda transportasi yang memerhatikan protokol kesehatan ketat. Jangan pilih kendaraan yang penuh sesak, tetap memakai masker, dan selalu bawa hand sanitizer.

Bagi teman-teman yang memilih moda transportasi pribadi, selalu cek-cek peta untuk mengetahui apakah jalan menuju kawasan macet atau tidak.

3 – Akomodasi

Bandungan, merupakan kota kecamatan terdekat, sehingga kalian bisa booking penginapan di sekitar ini, atau memilih menyewa villa-villa atau berkemah di dalam kawasan wisata Candi Gedongsongo. Pastikan booking jauh hari sebelumnya, supaya bisa berwisata dengan tenang dan nyaman.

4 – Protokol Kesehatan

Pemerintah kabupaten Semarang dalam rangka membuka kawasan wisata di era adaptasi kebiasaan baru, menerapkan protokol kesehatan ketat di tempat-tempat wisata. Sebelum masuk kawasan wisata dilengkapi dengan spot-spot cuci tangan, jaga jarak pada waktu antri, dan diukur suhu sebelum masuk ke kawasan. Selain itu jumlah wisatawan memang diatur hanya jumlah tertentu saja, tidak boleh sepenuh sebelum pandemi. Spot-spot cuci tangan juga disebar di beberapa tempat di seluruh kawasan, untuk mengurangi resiko penularan virus CoViD-19 ini.

Bila ternyata kawasan wisata yang dituju sudah ramai, berdesakan, dan tak menerapkan jaga jarak, sebaiknya membatalkan saja wisata kali ini. Hindari kerumunan dan jaga kesehatan diri sendiri lebih penting, gaez…

5 – Perbekalan Cukup

Bagi keluarga yang membawa anak-anak, pastikan membawa perbekalan makanan sehat yang cukup. Walaupun ada restoran atau rumah makan di sekitar kawasan wisata, perhatikan protokol kesehatan yang diterapkan di restoran. Sebaiknya tak memaksakan masuk ke restoran yang sudah penuh dan tidak menerapkan jaga jarak.

Bila kita membawa mobil pribadi, bagus juga membawa portable cooker (kompor gas kecil) dan perlengkapannya. Lumayan lah, untuk memasak mie instant, mengganjal perut yang sudah keroncongan.

Nah, teman-teman, gimana dengan tips jelajah Candi Gedongsongo dan sekitarnya tersebut di atas? Sudah siap jalan-jalan kan? Di era New Normal ini kemungkinan banyak wisatawan yang juga mempunyai rencana sama, berwisata ke kawasan percandian Gedongsongo. Untuk itu, kalian harus siap dengan plan B, mencari tujuan wisata alternatif di Kabupaten Semarang, bila kawasan wisata sudah penuh.

Masih banyak, kok, obyek-obyek wisata lain yang jaraknya tak terlalu jauh. Misalnya Rawa Pening, Bukit Cinta Rawa Pening dan sekitarnya, kota Ambarawa, dan lain-lain.

Happy Travelling…

Sumber:

http://kabsemarangtourism.com/
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/candi-gedong-songgo-sebuah-bukti-ketahanan-budaya/
http://www.merbabu.com/candi/
https://mytrip123.com/candi-gedong-songo/
https://phinemo.com/vanaprastha-gedong-songo-park-alternatif-tempat-refreshing-di-semarang/

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

View all posts by hani →

9 thoughts on “Tips Jelajah Candi Gedongsongo dan sekitarnya di Era Adaptasi Kebiasaan Baru

  1. Lagi pandemi begini pasti wisata sepi ya bun. Kalau pun udah buka jg kudu hati-hati dan tetep patuhi protokol kesehatan. Jadi kangen traveling nih. Jabodetabek udah psbb lagi jadi sabar di rumah lagi hihi

  2. Boleh jujur ya, sebenarnya aku belum pernah berwisata ke Semarang, hehehe. Parah ya, padahal dari Magetan gak jauh-jauh amat. Begitu pun dari Jogja. Dulu malah sempat kerja di Ambarawa, gitu juga gak mampir ke Semarang, kekeke. Gedongsongo ini menurutku termasuk masih terawat, jadi aku pengin juga mencoba ajak anak-anak ke sana. Tapi kayaknya tidak di era new normal ini deh. Kalau sekarag nyari yg deket2 aja, macam camping di puncak.

  3. Selama ini saya kira candi Gedongsongo itu memang ada 9 buah candi. Ternyata beberapa candi sudah rusak dan tidak dibuka untuk umum ya, Bun.
    Next time kalau ke Semarang mau mampir juga ke Gedongsongo, jangan hanya berburu ikan bandeng prestonya atau lunpianya aja hihihi

  4. Keren ulasannya… Saya ke gedong songo tu udah 20an tahun yang lalu kayaknya. Pasti udah jauh lebih keren sekarang ya. Hanya saja apa masih sekuat dulu jalan jauh mengelilingi candi-candi yang jaraknya lumayan bikin kaki pegal. Tapi keindahan dan tempatnya sebanding banget sih… apalagi sambil mendengar penjelasan sejarah candi

  5. Aku menyesal banget Bun, kemarin itu ke Semarang tapi nggak menyempatkan main ke Candi Gedongsongo. Alasannya, karena berada di dataran tinggi dan aku membawa ibu yang sudah nggak bisa naik ke jalur tinggi. Sudah diberi tahu sih bahwa beliau bisa naik kuda aja tapi tetap beliau enggan. Tapi ya nggak papa sih ya. Mungkin nanti rezekinya pergi ke sana bareng anak-anak atau teman-teman, hihihi ..

  6. Wisata candi jujurnya bukan favoritku, makanya jarang datang melihat candi kalo sdg jalan2 mba. Tapi dengan membaca detail candinya gini, aku jd bisa ikutan tau dan melihat wujudnya kayak apa ,tanpa harus kesana ;). Sbnrnya yg bikin penasaran kalo udh melihat candi, gimana caranya orang zaman dahulu bisa buat candi besar dan bagus, simetris pula tanpa teknologi memadai.

    1. Aku kagum dng org dulu itu membaca lokasi Mbak. Kok nemu²nya lokasi di situ, spotnya selalu pas, di gunung ato pelataran gitu. Dan bisa membangun simetris dan akurat yah. Padahal tanpa alat ukur kayak zaman now…
      Makasih ya udh mampir…

  7. pengen banget ke gedong songo sejak jaman kapan tapi belum kelakon, eh malah ada pandemi ya tambah ga bisa. Sekarang tapi udah buka lagi ya. Yang penting tetap menerapkan protokol kesehatan y mba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *