Mengatur Keuangan dengan Tabel Sederhana

Masalah mengatur keuangan merupakan masalah sensitif yang dapat menyebabkan sumber konflik dalam sebuah keluarga. Oleh sebab itu, sejak awal merencanakan pernikahan dan membentuk sebuah keluarga, ada baiknya mulai merencanakan keuangan keluarga dan asal sumber penghasilan.

Bicarakan sejak awal bersama calon pasangan, terutama bila pihak perempuan merupakan perempuan bekerja (di luar rumah). Apakah istri akan tetap melanjutkan kariernya atau bersiap-siap untuk berfokus mengurus rumah tangga.

Keluarga itu ibarat perusahaan, harus dimenej dengan baik. Oleh sebab itu buatlah neraca sederhana untuk keuangan keluarga ibarat mengatur sebuah perusahaan. Tidak perlu membuat tabel yang rumit. Yang penting cukup jelas antara pemasukan dan pengeluaran.

Tabel tersebut dapat diuraikan sampai satu tahun ke depan, kemudian dibagi dari pengeluaran tahunan menjadi pengeluaran bulanan. Dengan membuat neraca seperti ini, istri dan suami dapat memprediksi kekurangan dana sehingga dapat memikirkan jalan keluarnya bersama-sama.

Buat skala prioritas cicilan dan utang yang harus dilunasi.
Usahakan ada spare dana sekitar tiga kali cicilan atau lebih, untuk jaga-jaga misalnya ada hambatan dalam penghasilan. Kalau tidak, bisa-bisa kita kena denda karena terlambat membayar cicilan.
Misalnya cicilan rumah. Kalau sedang mencicil rumah, usahakan tidak mengambil kredit lain, misalnya mobil. Pikirkan masak-masak, perlu sekali tidak membeli mobil?

Mulai Menabung

Setelah menikah, sisihkanlah sebagian penghasilan suami atau istri untuk tabungan keluarga. Sepakati bersama, apakah membuat rekening khusus untuk tabungan keluarga, atau atas nama suami atau istri. Salah satu pihak bertugas mengelolanya dengan baik.

Salah seorang teman saya, selain membuat tabungan khusus atas nama dia dan suaminya, juga membuat tabungan khusus atas nama dia dan anak-anaknya. Tabungan untuk anak-anaknya merupakan dana yang disisihkan untuk pendidikan sampai menikahkan anak-anaknya kelak. Bentuk tabungan ada banyak, bisa berupa deposito, reksadana, logam mulia, atau properti.

Saya pernah membaca bukunya Ligwina Hananto, "Untuk Indonesia yang Kuat - 100 Langkah untuk Tidak Miskin", malah dalam salah satu babnya dijelaskan "Menabung Saja Tidak Cukup".
Menurut Mbak Wina (nama panggilannya), menabung saja tidak cukup, harus ada dana-dana yang cermat disisihkan, yaitu:

- Dana Pensiun

Dana Pensiun artinya dana yang dapat digunakan sebagai biaya hidup apabila sudah pensiun.

- Dana Pendidikan

Tentu saja maksudnya Dana Pendidikan disini adalah dana pendidikan untuk anak-anak. Beberapa skema asuransi pendidikan biasanya menawarkan berbagai bentuk investasi untuk pendidikan yang dapat
dicicil setiap bulan.

- Dana Darurat

Dana darurat adalah dana yang dapat digunakan bukah hanya untuk kondisi darurat, tetapi juga sebagai pengaman.
Misalnya suatu saat kehilangan pekerjaan (amit-amit). Contoh sederhana, dana darurat lajang adalah 4 X pengeluaran bulanan. Bila sudah menikah adalah 6 X pengeluaran bulanan. Tidak harus sekarang juga sih. Dana darurat dicicil saja pencapaiannya dalam satu hingga tiga tahun ke depan.

Tips Mengatur Keuangan:

1. Buat neraca keuangan sederhana, pengeluaran harian, bulanan dan tahunan.
2. Pengeluaran tahunan, dapat dipecah turunannya, dibagi menjadi 12 bulan.
3. Buat skala prioritas dari semua cicilan dan utang, lunasi segera yang paling penting.
4. Hati-hati dengan iming diskon di pusat perbelanjaan. Apakah kita benar-benar perlu barang-barang tersebut?
5. Zakat-infaq-sadaqah dan biaya tak terduga sisihkan di awal bulan.

Nah, teman blogger demikianlah tips mengatur keuangan dengan tabel sederhana. Mudah sekali kok. Kuncinya sih, konsisten mencatat dan berpikir panjang sebelum membeli. Teman-teman juga bisa mencatat melalui aplikasi keuangan gratis, sehingga mencatat jauh lebih mudah lagi.

Bandung, 27 Juli 2016

signature haniwidiatmoko

15 tanggapan pada “Mengatur Keuangan dengan Tabel Sederhana”

    1. Saya juga catatnya di HPnya koq. Nah krn dlm tabel, kan otomatis kejumlah pengeluarannya. Trims yaa udh berkunjung… ?

      1. Aku juga pake wps office mbak. Tapi yang menyebalkannya adalah ketika diubah ke pdf kok semua sheet terexpose.
        Eh aku sih bikin untuk bikin invoice blogjob

        Kalo pengeluaran pemasukan aku catet di aplikasi expense manager

      2. Pingback: Jejak Penulisan Sebagai Narablog di Tahun 2018 - blog hani

      3. Pingback: Terlihat Sepele, Inilah 3 Hal yang Bisa Merusak Keharmonisan Rumah Tangga - blog hani

      4. Pingback: Menyiapkan Sendiri Dana Pensiun Bagi Freelancer - blog hani

      5. Pingback: 7 Langkah Persiapan Kuliah di Luar Negeri - blog hani

      6. Pingback: 5 Aplikasi Keuangan Gratis untuk Mengatur Keuangan Pribadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *