28/10/2020
tantangan jalan kaki

Cerita #Tanoswalkingchallenge Tantangan Jalan Kaki

Foto-foto jalan kaki pagi hari sering dibagikan teman-teman alumni di grup WhatsApp. Selain foto aktivitas jalan kakinya, mereka juga share rute, waktu, dan jumlah langkah. Semakin hari jumlah langkah sudah mencapai ribuan, kira-kira 6ribu hingga 10ribu langkah. Kepincut dengan perilaku teman-teman yang menunjukkan bahwa jalan kaki bikin sehat, maka saya pun tergerak melakukan hal yang sama. Jalan kaki seputaran kompleks, 1000-an langkah rutin kami lakukan, sampai pada suatu hari saya berjalan kejauhan dan efeknya agak fatal. Sempat berhenti jalan kaki, akhirnya mulai lagi setelah menerima #Tanoswalkingchallenge Tantangan Jalan Kaki.

Limaribu Langkah Jalan Kaki Berujung Terapi

Waktu itu Sabtu pagi, saya dan suami berangkat dari rumah, berjalan menuju jalan Maskumambang, sarapan bubur ayam di balik hotel Horison. Pulangnya pun jalan kaki lagi.
Berdasarkan aplikasi step count, pagi itu saya melangkah 5000-an langkah. Masih jauh sih dari langkah teman-teman yang mencapai 6ribu-10ribu langkah itu.
Ternyata keesokan harinya lutut kiri saya terasa nyeri. Tidak konstan nyerinya, tetapi terasa bila saya duduk atahiyat akhir saat sholat. Akhirnya saya shalat sambil duduk di kursi. Apalagi ternyata nyeri dipakai naik-turun tangga. Padahal di kampus, saya mengajar di lantai dua.
Saya pun memakai knee guard, semacam korset untuk lutut, terbuat dari karet lentur. Setelah dua minggu tak ada perubahan saya pun ke dokter di klinik. Oleh dokter saya dirujuk ke RS Halmahera, rumah sakit khusus orthopedi, sambil berpesan berat badan jangan bertambah.
Alamak…segitunya bu dokter teh. Padahal tinggi badan dikurangi 100, masih ideal, lho.
Singkat cerita, saya ke RS Halmahera, mengikuti serangkaian 6 kali terapi, dan disuntik di lutut kiri untuk menghilangkan rasa nyeri. Kata dokter, saya terlalu memaksakan kerja otot lutut sehingga cedera. Beliau mencontohkan atlit yang sering cedera karena olahraga.
Duh…baru jalan 5ribu langkah sudah begini. Bener deh, umur engga bohong.
Sejak itu saya stop jalan kaki sekian lama sampai akhirnya ada Walking Challenge yang digagas kak Eka, author blog artjoka.com dan Renov, author blog renovrainbow.

Tanos Walking Challenge

tantangan tanos
ilustrasi artjoka

TANOS atau “TAntangan NaOn Sih” sebetulnya sudah diawali oleh duo Eka-Renov ini sebulan sebelumnya. Mereka berdua menuliskan journal tentang Self Love. Saya tak terlalu mengikuti, tidak membaca semua artikel-artikelnya. Tapi seru juga sih akronimnya TANOS, kayak Thanos, karakter imajiner penjahat paling kuat di film itu.
Tanoswalkingchallenge sepertinya tidak sulit, hanya berjalan selama 20-menitan setiap hari selama 7 hari berturut-turut. Saya kurang tahu kenapa dipilih angka 20 menit, kenapa tidak 30, 40, bahkan 60 menit.

Boleh juga nih, sudah lama kan saya tidak jalan, setelah kejadian cedera otot itu. Keseruan lain dari #tanoswalkingchallenge ini adalah, kita boleh jalan ke mana saja, bebaskeun. Tag di media sosial duo Eka-Renov, boleh juga menulis semacam jurnal harian.
Mau tahu selama 7 hari saya cerita apa saja?

day1 Tanoswalkingchallenge

Pagi hari sebelum saya mulai tantangan jalan kaki, saya unduh terlebih dahulu aplikasi pedometer step count, untuk menghitung berapa langkah, berapa kilometer, dan penting juga berapa kalori yang saya buang. Setelah pilih-pilih yang less advetorial, akhirnya saya menemukan yang cocok.
Waktu itu hari Senin, langkah pertama adalah menuju gang tempat Mang Sayur langganan yang berjualan bersama istrinya. Setelah belanja ala kadarnya, dan ambil foto candid, saya pun melanjutkan jalan kaki keliling kompleks. Pengalaman terlalu semangat jalan berakibat cedera, saya pun jalan santai saja. Ternyata 20 menit itu cukup sodara-sodara. Belum terlalu berkeringat, tetapi utamanya lutut saya tak apa-apa.
Challenge hari ini, hasil keliling jalan 20 menitan, 2643 steps, 1.74 km, buang 94.8 Kcal…

day2 Tanoswalkingchallenge

Gara-gara tanos-tanosan ini, maka bangun pagi yang terpikir, hari ini saya memilih rute ke mana ya? Setelah Mang Sayur Ujung Gang, yang posisinya di utara rumah saya, maka kali ini saya melangkah ke arah sebaliknya.
Kali ini saya akan cerita tentang warung-warung di dekat rumah saya. Dulu di ujung jalan rumah saya, ada rumah yang garasinya dijadikan warung. Kami menyebutnya Warung bu Uum. Ketika mini market marak, Warung bu Uum kena imbas. Walaupun kami berusaha tetap setia belanja ke sana, Warung bu Uum akhirnya tutup. Akhir-akhir ini barang-barangnya kalah cemerlang dengan mini market. Konon kabarnya, anak-anak bu Uum melarang ibundanya berjualan lagi, karena sudah sakit-sakitan.

Maka kami bergeser agak jauh yaitu ke Warung Rel. Kalau bukan warga lokal tak ada yang notice bahwa di situ ada rel kereta api yang mulai tertutup aspal.
Dulu zaman pemerintah Hindia Belanda, pernah ada jalur kereta api Bandung-Ciwidey untuk mengangkut hasil bumi dari perkebunan teh dan kopi di Bandung Selatan.
Rel tersebut tidak aktif lagi tetapi menjadi permukiman penduduk. Maka kami menyebutnya orang rel, sebagai penanda warga yang menetap di sepanjang rel tersebut, yang membentang dari jalan Binong Jati hingga Soekarno Hatta.

Barang-barang jualan Warung Rel merupakan kebutuhan sehari-hari, sayur-mayur, telur, buah hingga ayam potong. Warung buka setiap hari, tujuh hari seminggu. Rasa-rasanya sudah siang pun masih buka.

Challenge hari ini selama 20′, jalan 2476 steps, 1.63 km, buang 91.6 Kcal.

day3 Tanoswalkingchallenge

Menjelang hari ke-3, malamnya saya berpikir mau jalan ke mana nih besok. Keidean untuk jalan ke kelurahan sebelah, Gumuruh. Tadinya mau jalan melewati makam Gumuruh lalu menyusuri rel mati tembus hingga ke TSM. Kok jauh ya, takut juga terlalu semangat, nanti lutut kenapa-kenapa.
Akhirnya menyusuri kompleks sebelah saja, tak jauh dari rel. Di peta rel kereta-api zaman Belanda tersebut sudah menjadi jalan Batu Kali. Padahal berupa gang, yang di kiri-kanannya deretan rumah-rumah padat.
Di sinilah masalahnya ketidak koordinasinya instansi terkait di Indonesia. Namanya instansi terkait, tapi engga kait-mengait. FYI, tanah sepanjang rel KA biasanya milik PT.KAI atau pemerintah, bukan milik perorangan (warga). Tetapi ada aliran listrik dan air bersih ke kawasan ini. Tentu saja warga yang sudah turun-temurun tinggal di sini akan bergeming bila ada wacana untuk menghidupkan lagi jalur kereta api tersebut.
Wacana ini sempat bergulir zaman pemerintahan SBY, tapi kemudian sepi.

Challenge hari ini menyusuri gang sempit, jalan lebih jauh, jalan 30′, 2962 steps, 1.95 km, buang 111.5 Kcal…

day4 Tanoswalkingchallenge

Hari ke-4 mau jalan kaki, suami di rumah kepincut mau ikut jalan. Doski ada keperluan ke tempat foto kopi, lalu kami keliling kompleks.
Kali ini cerita saya sambil berjalan kaki adalah tentang sekolah dasar negeri di kompleks.
Menurut ilmu tata kota yang saya pelajari, dalam suatu lingkungan perumahan ada fasilitas sosial dan fasilitas umum. Pengembang (developer) yang baik harus mempertimbangkan fasos-fasum ini. Ada tabelnya yang dikeluarkan oleh Kementrian Pekerjaan Umum, sekian umpi, sekian RT-RW-kelurahan-kecamatan, harus ada berapa SD-SMP-SMA dan seterusnya.

Anak-anak kami bersekolah di dalam kompleks, yang kurang populer. Menurut suami, yang memajukan sekolah ya warga sekitar bukan pemerintah. Sedangkan dari sudut pandang saya, malas antar jemput dan nungguin anak di sekolahan bari ngerumpi. Sekolah dekat rumah, anak bisa pergi-pulang jalan kaki sendiri.
Tantangan hari ini hasil jalan 35′, 3504 steps, 2.31 km, buang kalori 131.1 Kcal.

day5 Tanoswalkingchallenge

Hari ke-5 kebetulan saya perlu ke ATM dan membeli beberapa produk kue untuk tulisan review. Lagi-lagi suami menemani karena tidak ada jadwal mengajar online di pagi hari. Kami menyusuri trotoir sepanjang jalan Buah Batu hingga ke pertokoan Griya Buah Batu.
Tidak mudah berjalan kaki di trotoir Bandung, ada saja hambatan. Kaki lima yang berasal dari 5 feet (lebar 5 kaki, 5X30cm, 1.5 m) ini awalnya merupakan proyek renovasi jalan trotoir zaman walikota Ridwan Kamil. Sejak awal jalur difable tak beraturan begitu pula dengan tiang listrik dan pohon yang merana. Sekarang jalur kaki lima ini mulai rusak dan pecah-pecah di sana-sini. Mungkin harus menunggu ada proyek selanjutnya.

Tantangan kali ini berhasil jalan selama 33’, melangkah jalan 3164 steps, 2.09 km, buang kalori 120.7 Kcal.

day6 Tanoswalkingchallenge

tanos walking challenge
morning strolling and cats

Hari Sabtu lanjut jalan kaki lagi, kali ini seorang diri, karena suami mengajar pagi.
Namanya juga menerima tantangan tujuh hari berturut-turut jalan kaki, ya harus dijalani deh.
Seperti biasa keliling kompleks bertemu banyak kucing-kucing. Kompleks kami memang banyak kucing. Ada yang kami tahu dipelihara oleh tetangga no 3.
Kami bukan penyuka kucing sih, ya biasa saja lihat kucing di jalanan. Tetapi kalau masuk ke halaman ya diusir, soalnya suka buang hajat sembarangan…wkwkwk…
Sampai pernah memasang deretan botol berisi air. Konon kucing takut dengan silaunya air dari botol. Botol kusam, ya datang lagi. Pagar pun kami pasangi ram kawat supaya kucing tak bisa menerobos. Jebul kucing datang dari atap.
Kali ini berjalan selama 28’, 2642 steps, 1.74 km, dan buang kalori 100.8 Kcal.
Not bad jalan membuntuti kucing, sampai dianya terbirit-birit…

day7 Tanoswalkingchallenge

Hore, last days Tanoswalkingchallenge. Jalan ke mana lagi ya. Senangnya dengan tantangan jalan kaki ini, bukan cuma jalan tok, tetapi saya mau menulis apa tentang perjalanan kaki ini.
Lagi-lagi suami mau ikut, dia berencana ke toko besi. Hari ini mau menguras toren, lalu ada sistem pemipaan yang akan dimodifikasi, supaya air buangan bisa dimanfaatkan.
Toko besi di jalan Kliningan sudah buka, setelah membeli sambungan pipa yang diinginkan, kami melanjutkan perjalanan, menyusuri kompleks perumahan. Seperti halnya di kompleks perumahan kami, gerbang rata-rata ditutup sejak adanya pandemi, sampai sekarang walaupun sudah New Normal. Bahkan dipasang pilar-pilar juga supaya sepeda tak bisa menerobos.
Tantangan hari ini 33′, jalan 3369 steps, 2.23 km, buang kalori 125.9 Kcal…

Menuju Tantang Berikutnya

hasil walking challenge
grafik pedometer

Kalau ditotal jalan kaki saya selama seminggu ini, jumlah steps 20.760, berarti rata-rata berjalan 2.983, atau hampir 3ribu langkah. Berjalan sepanjang 13.69 km, ya sekira dari Buah Batu ke Dago deh, dan berjalan selama 199 menit atau 3 jam 19’. Durasi rasanya tidak bisa dijadikan patokan, karena adakalanya saya mampir-mampir toko atau beli gorengan.
Not bad lah, melangkah santai saja, digeber takutnya lutut kenapa-kenapa lagi…
Lalu berapa kalori yang dibakar, 776.4 Kcal. Sepertinya sih saya tak serta-merta mengurus, karena asupan kalorinya ya lumayan. Harus cek-cek lagi pola makan sehari-hari…

Ternyata Tanoswalkingchallenge yang diikuti oleh beberapa peserta ini diliput juga oleh media online Liputan 6. Karena sesama peserta #pejuangtanos, Kang Hugo adalah wartawan Liputan6. Wow…keren nih acaranya, bisa tersohor gini.
Teman-teman seperjuangan mah kuat-kuat euy, rerata jalan kaki 1-3 jam, di atas 5 km deh.

Sesudah ini lalu apa?
Ternyata Tanoswalkingchallenge, tantangan jalan kaki, masih berlanjut hanya lebih ringan. Boleh seminggu atau dua kali seminggu. Siap Ndan…

Kamu sudah jalan kaki ke mana aja?

hani

Halo, saya Tri Wahyu Handayani (Hani), tinggal di Bandung. Pemerhati arsitektur dan pelestarian bangunan, main piano, menjahit, dan jalan-jalan. Kontak ke bee.hani@gmail.com

View all posts by hani →

4 thoughts on “Cerita #Tanoswalkingchallenge Tantangan Jalan Kaki

  1. Hallo Kak,
    Alhamdulillah sampai selesai tantangan 7 hari juga, lututnya ngga kenapa kenapa.
    Sambil baca ini, saya senyum-senyum sendiri, berasa flash back ke cerita yang ditulis sama Kak Hani. Ceritanya seru dari mulaiAnang-KD dan Kucing, plus memperkaya wawasan dan lebih kritis melihat dari pandangan Kak Hani sebagai Architect expert. Salah satu contohnya trotoir yang besarannya 5 feet, dan jadi muncul istilah kaki lima.

    Ditunggu lagi postingan IG yang menariknya ya kak.
    Makasih sudah menulis jurnal ini.xoxo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *